Cegah karhutla dengan "Pulsa Cacing"

id pulsa cacing,karhutla riau,karhutla,karhutla inhu, pertamina,cacing

Cegah karhutla dengan "Pulsa Cacing"

Budidaya cacing merah oleh Kelompok Tani Berkat Usaha Kabupaten Pelalawan yang dibuat dengan reaktor vertikultur. ANTARA/HO-Pertamina EP Lirik

Kelompok kami buat pulsa cacing dari kotoran ternak karena kita butuh pupuk kandang.
Pekanbaru (ANTARA) - Masih terekam jelas dalam benak Ramin Sunarto tentang kepulan asap kebakaran hutan dan lahan hebat yang terjadi pada tahun 1997. Saat itu, seakan tak ada ruang untuk bernafas akibat polusi. Kondisi saat itu memang sangat membahayakan.

Meskipun kebakaran itu terjadi pada lahan perusahaan sekitar lahannya di Kelurahan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, tapi dampak buruk sangat terasa baginya dan masyarakat. Baginya, sebagai petani sawit tentu hal itu menjadi momok kala limbah sawit seperti pohon dan pelepah juga sangat rentan untuk terbakar.

Pohon, pelapah, dan daun sawit kering itu juga seakan seperti menggoda untuk dibakar. Dia mungkin bisa menahan hasrat membakar itu, tapi bagaimana kalau orang lain yang tergoda untuk membakar. Tentu saja ini akan menjadi malapetaka di kemudian hari.

Selama puluhan tahun, Ramin dibuat pusing akan diapakan limbah-limbah sawit tersebut. Dirinya hanya bisa meracun batang-batang sawit hingga busuk sendiri itu tanpa bisa menyingkirkannya.

Hingga akhirnya Ramin dipertemukan dengan PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset I Lirik Field pada tahun 2019. Melalui dana tanggung jawab sosialnya, perusahaan itu membawa solusi untuk mengelola limbah sawit itu untuk mencegah karhutla.

Pertamina memberikan program pengelolaan unik limbah sawit dengan cacing disingkat "Pulsa Cacing". Itu diberikan setelah melakukan pemetaan potensi dan masalah sosial masyarakat di sekitar wilayah produksi, termasuk masyarakat di Distrik II perusahaan yakni Kecamatan Ukui.

Ramin yang dalam hal ini mengetuai Kelompok Tani Berkat Usaha dianggap memiliki potensi besar untuk berkembang dan rendah kepentingan. Dia pun mendapatkan pembinaan dari pihak yang didatangkan Pertamina untuk budidaya cacing dengan kotoran sapi dicampur limbah sawit.

Kegiatan budidaya tersebut tak hanya memproduksi cacing, tapi kotoran dan limbah itu juga menjadi tanah yang kemudian menjadi pupuk organik yang disebut vermikompos. Pupuk itu digunakan untuk kebun sawit sendiri dan juga lahan dua hektare yang disediakan untuk melakukan tanaman cabai, buah naga, dan jeruk.

Selain itu, tempat membudidaya yang dibuat dari bambu disebut reaktor cacing juga bisa dijual dengan harga yang menggiurkan. Untuk membuatnya butuh waktu tiga hari sebagai tempat pengumpul kotoran, limbah, dan cacing.


Cara kerja reaktor cacing

Teknologi reaktor cacing yang digunakan kelompok Ramin yakni melalui teknik vertikultur yang dikenalkan oleh Lembaga Pendidikan Pelatihan Penelitian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (LP4LH) Yogyakarta sebagai mitra dari PEP Lirik. Jadi reaktor ini berbentuk vertikal dengan menggunakan bambu.

Awalnya dibuat empat bambu tiang penyangga dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Lalu dinding pada empat sisinya juga dari bambu tapi yang sudah dibelah lalu dirajut dengan tali atau benang sekelilingnya. Namun dinding itu tidak menutupi bagian bawahnya yang akan digunakan sebagai tempat untuk mengambil cacing maupun mengeruk pupuk.

Reaktor diisi kotoran hewan dari ternak sapi serta limbah pohon sawit yang tidak lagi produktif sebagai media berkembangbiak bagi cacing. Kotoran hewan dan limbah sawit tersebut diurai oleh cacing selama lebih kurang 45 hari sehingga dapat menghasilkan anakan cacing dan kompos organik yang disebut sebagai vermicompos.

"Kelompok kami buat pulsa cacing dari kotoran ternak karena kita butuh pupuk kandang, kalau fermentasi repot, lama. Kalau ini jadi pupuk basah langsung ke tanah. Dibantu CSR Pertamina untuk kotoran sapi dari Air Molek per karungnya Rp10 ribu. Cacing cepat berkembang di sini," ungkap Ramin.

Untuk memulai pulsa cacing ini, Ramin menyiapkan kotoran hewan. Untuk satu reaktor butuh 12 karung. Lala diisi bibit cacing 0,5 kg setiap reaktornya. Untuk bibit cacing yakni Cacing Merah (Pheretia sp.) dibeli dari Kota Pekanbaru.

Reaktor diisi hingga hingga penuh dan didiamkan selama 3 hari lalu bibit cacing ditambahkan lagi ke dalam reaktor. Reaktor diisi kembali hingga penuh dan menutupi bagian atas dengan kain dan siram secara berkala untuk menjaga kelembaban.

Tahap perawatan tambahkan limbah sawit sebagai sumber nutrisi cacing dilakukan secara berkala. Setiap hari tanah akan jatuh sesuai bobot jumlah cacing, sehingga diperlukan penambahan kotoran hewan dan limbah setidaknya tiga kali dalam satu minggu.

Proses panen cacing dapat dilaksanakan setelah dua bulan. Hasilnya kata Ramin untuk bibit 1 kg bisa menghasilkan cacing 4 kg.


Hasil menggiurkan

Reaktor cacing yang diproduksi oleh Ramin dan kelompoknya bisa dijual untuk kelompok tani atau warga yang budidaya tanaman. Harganya bisa mencapai Rp800 ribu untuk setiap
buahnya.

Adapun cacing yang dibudidayakan sebelum pandemi COVID-19 ia mampu menjual Rp100 ribu per kilogram. Cacing itu dibeli oleh pengepul di Pekanbaru untuk diekspor sebagai bahan kosmetik.

"Itu waktu sebelum pandemi Rp100 ribu dibeli oleh orang di Pekanbaru, tapi setelah pandemi merosot karena tak boleh ekspor," ungkap Ramin.

Hal tersebut membuat sebagian anggota kelompoknya berhenti budidaya cacing. Pasalnya untuk budidaya cacing ini empat kali panen harus sudah ganti induk, jadi harus beli bibit baru.

Akan tetapi untuk cacing masih ada permintaan untuk pakan ternak ataupun umpan pancing. Terutama untuk orang mancing di sungai untuk khususnya ian baung atau gurami walaupun sekarang banyak yang pakai umpan olahan.

Meski begitu, cacing dan vermikompos tersebut sangat bagus untuk tanaman. Ramin yang juga menyiapkan ladang 2 ha untuk cabai, buah naga merah dan jeruk mendapatkan hasil yang bagus dengan menggunakan vermikompos tersebut.

"Kita juga tanam cabai, buah naga dan jeruk 2 ha. Itu pupuk kandang dimanfaatkan, 2,5 bulan sekali panen, cabai 600 batang bisa 30 kg, kalau biasanya 15 kg. Kalau buah naga 1 ha, 150 batang 100 kg," bebernya.

Vermikompos itu juga bisa dijual dengan harga Rp 2.000/kg dan diminati oleh warga sekitar. Terutama para pecinta tanaman karena kualitasnya yang baik.

Sementara itu, Communication Relation and Community Involvement and Development Pertamina EP Lirik Zona I, Renita Yulia K mengatakan perusahaan sebagai mitra dalam pelaksanaan program CSR dalam bidang pertanian berkelanjutan turut mendorong semangat Ramin dan kelompoknya. Hal ini untuk terus mengembangkan dan menyebarkan manfaat pelaksanaan program Pulsa Cacing tersebut.

"Seperti pada bulan September 2020 lalu, Ramin dan anggota kelompoknya resmi mempunyai tanggung jawab baru sebagai pendamping program Pulsa Cacing di Kabupaten Indragiri Hulu tepatnya di Desa Gudang Batu dan Desa Rejosari, Kecamatan Lirik," ungkapnya.

Maka dari itu, program ini telah memberikan dampak positif baik bagi anggota kelompok maupun masyarakat secara luas. Dengan ini masyarakat telah memiliki paradigma baru dalam pengelolaan lingkungan dan bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Budaya membakar limbah sisa pohon sawit yang sebelumnya dirasa menjadi pilihan paling mudah dan murah kini mulai ditinggalkan.

Walaupun belum dapat terjual secara optimal, namun tambahan pendapatan dari hasil penjualan tersebut terasa sangat bermanfaat, terlebih di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini.
 
Program yang telah berjalan selama 1 tahun ini masih memiliki rencana jangka panjang yang harus disukseskan.
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021