Tiga pantai di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan layak jadi destinasi wisata

id Pulau sebatik, wisata pantai sebatik,Nunukan,Negeri sabah,wisata nunukan

Tiga pantai di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan layak jadi destinasi wisata

Parade bendera ukuran 100 meter di Pantai Kayu Angin Kecamatan Sebatik, Sabtu (23/2).

Tokoh masyarakat Pulau Sebatik Haji Herman Baco, SE, MM di Pulau Sebatik, Kamis mengungkapkan, tiga kawasan wisata pantai yang layak dikembangkan adalah Pantai Marina, Pantai Kayu Angin dan Pantai Batu Lamampu.
Nunukan (ANTARA) - Pulau Sebatik di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang berbatasan langsung dengan Negeri Sabah, Malaysia, memiliki pantai yang berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata.

Tokoh masyarakat Pulau Sebatik Haji Herman Baco, SE, MM di Pulau Sebatik, Kamis mengungkapkan, tiga kawasan wisata pantai yang layak dikembangkan adalah Pantai Marina, Pantai Kayu Angin dan Pantai Batu Lamampu.

Ketiga kawasan pantai ini telah sering dijadikan tempat wisata oleh masyarakat setempat pada waktu liburan. Namun penataan kawasannya belum tertata baik sehingga masih membutuhkan sentuhan tangan.

Haji Herman menilai, pantai-pantai ini juga dianggap sangat menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca juga: Lapas Nunukan Kaltara tata kawasan wisata agro dan edukasi

Ketiga pantai ini berhadapan langsung dengan Tawau Negeri Sabah Malaysia dengan pantai yang luas dan pasir yang halus.

"Ada tiga pantai disini Pulau Sebatik yang layak dikembangkan menjadi kawasan wisata. Ketiga pantai pasti bisa menarik wisatawan lokal maupun luar negeri," ujar Haji Andeng sapaan tokoh masyarakat Pulau Sebatik ini.

Ia menambahkan, wisatawan dari luar negeri bisa saja masuk Pulau Sebatik asalkan akses penyeberangan dari Tawau sudah lancar dan mudah.

Tidak tertutup kemungkinan, wisatawan dari Negeri Sabah lebih banyak berkunjung ke pulau itu pada hari-hari libur sekaligus mengunjungi sanak keluarganya.
Baca juga: Kabupaten Nunukan kembangkan potensi wisata Lumbis Pansiangan
 
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar