China akan Kalahkan AS dalam Kecerdasan Buatan untuk Militer

id China, AI China, Kecerdasan Buatan, Robot

Pertarungan China dan AS untuk menjadi negara raksasa pertama terkait kecerdasan buatan (AI) di dunia (theverge.com)

Washington (Antara/Reuters) - Badan penelitian dari masyarakat intelijen Amerika Serikat baru saja menyelesaikan persaingan untuk melihat siapa dapat mengembangkan teknologi pengenalan wajah terbaik dengan tantangan mengenali sebanyak mungkin penumpang, yang berjalan untuk naik pesawat terbang.
        
Dari semua peserta tersebut, perusahaan pemula China bernama Yitu Tech lolos dari tantangan dengan hadiah 25.000 dolar AS pada bulan ini, yang tertinggi dari tiga hadiah uang.
        
Lomba tersebut adaah salah satu dari banyak contoh, yang dikutip dalam laporan wadah pemikir berbasis AS tentang upaya militer China memanfaatkan kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan (AI) untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya dan, berpeluang, mendapatkan keuntungan dari Amerika Serikat.
        
"China tidak lagi berada dalam kedudukan inferioritas teknologi jika dibandingkan dengan AS, namun telah menjadi 'sejawat' sejati, yang mungkin memiliki kemampuan melampaui AS dalam kecerdasan buatan," demikian laporan tersebut, yang ditulis Elsa Kania di Center for New American Security (CNAS) dan disiarkan pada Selasa.
        
Kompetisi AS-China di masa depan dalam AI, Kania menulis, "dapat mengubah keseimbangan kekuatan ekonomi dan militer di masa depan."
   
Ketua Eksekutif perusahaan Alphabet Eric Schmidt, yang memimpin dewan penasihat Pentagon, memberikan peringatan serupa mengenai potensi China pada sebuah pertemuan baru-baru ini di Washington.
        
Schmidt mencatat bahwa rencana nasional China untuk masa depan kecerdasan buatan, yang diumumkan pada Juli, meminta usaha pengejaran teknologi pada AS di tahun-tahun mendatang dan akhirnya menjadi pusat inovasi AI utama di dunia.
        
"Saya berasumsi bahwa keunggulan kami akan berlanjut dalam lima tahun ke depan, dan China akan mengejar ketertinggalan dengan sangat cepat. Jadi, dalam lima tahun ke depan kita akan berada pada tingkatan yang sama, mungkin," kata Schmidt kepada konferensi tersebut, yang juga diselenggarakan CNAS.
        
Dokumen Pentagon, yang belum disiarkan, yang dilihat Reuters, memperingatkan awal tahun ini bahwa perusahaan China mengungguli kekeliruan AS dan mendapatkan akses ke teknologi AI AS yang sensitif dengan aplikasi militer potensial dengan membeli saham di perusahaan AS.
        
Sebagai tanggapan, sebuah kelompok anggota bipartisan anggota parlemen di Senat AS dan Dewan Perwakilan Rakyat AS bulan ini memperkenalkan rancangan undang-undang untuk menguatkan peraturan investasi asing AS.
        
Laporan CNAS mencatat akuisisi China dan mengatakan Beijing menghadapi rintangan untuk menempa industri AI dalam negeri untuk menyaingi AS, termasuk merekrut bakat papan atas.

ANTARA/REUTERS
Devi/B Soekapdjo




Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar