Perempuan Jangan Menumpang Jabatan Suami

id Perempuan Jangan Menumpang Jabatan Suami, Wanita, Istri, Wanita, Ibu Rumahtangga, Keluarga, Kartini, Hari Kartini, Kartinian, Karier, caleg, Anak, Per

Herni, seorang perempuan sedang membuat kue. (ANTARA FOTO LAMPUNG Dok/Kristian Ali).

Kaum perempuan harus mampu tampil dengan kepribadiannya tanpa harus menonjolkan kedudukan suami, entah sebagai pejabat atau punya kedudukan terhormat lainnya di masyarakat."
Di era kebebasan dan keterbukaan dewasa ini kaum perempuan diimbau pandai menempatkan diri dalam pergaulan dan jika kebetulan sebagai isteri pejabat hendaknya tidak menumpang jabatan suami untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

"Kaum perempuan harus mampu tampil dengan kepribadiannya tanpa harus menonjolkan kedudukan suami, entah sebagai pejabat atau punya kedudukan terhormat lainnya di masyarakat," kata Wiwiek Zakiah Basyuni, istri mantan Menag M. Maftuh Basyuni ketika tampil sebagai pembicara dalam memperingati Hari Kartini di Kementerian Agama, Jakarta, Selasa.

Acara yang diselenggarakan Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama dimaksudkan untuk memetik spirit Ibu Kartini. Kewajiban bagi perempuan adalah menyiapkan generasi muda agar siap memikul tanggung jawab dan menghadapi tantangan di masa depan.

Menurut Wiwiek dewasa ini fenomena perempuan untuk menduduki jabatan tinggi sangat terbuka. Tapi tidak perlu harus menonjolkan nama besar suami atau lainnya. Dalam bergaul sebagai pribadi tidak perlu menonjolkan suami yang kebetulan memiliki jabatan tinggi.

                   "Apakah itu penting," tanya Wiwiek.
"Bisa jadi, rekan yang di hadapan suaminya memiliki jabatan lebih tinggi. Jadi, harus tahu posisi suami. Bukan memanfaatkan posisinya," katanya disambut tawa hadirin.

Kartini, lanjut dia, mampu menjalin komunikasi dengan teman-temannya di Belanda. Padahal saat itu dikenal sebagai zaman "tertutup" bagi pergaulan wanita. Sebagai anak bangsawan, Kartini justru memiliki wawasan luas. "Tak tertutup dunianya hanya karena tinggal di Jepara," katanya.

Untuk itu ia mengajak kaum perempuan untuk terus belajar. Belajar tak terbatas di bangku sekolah, juga di organisasi seperti Dharma Wanita. Jangan sepelekan organisasi itu, karena ke depan pasti punya manfaat besar.

Terkait dengan tema yang diusung pada acara tersebut, yaitu Meningkatkan Tata Etika Bermasyarakat, ia mengajak kaum perempuan untuk bisa memahami antara adat atau budaya lokal dan agama.
    
                         Agama dan Adat
Hal ini penting, lanjut dia, karena antara adat dan agama bisa sepintas bertolak belakang. Sebagai istri mantan Duta Besar di Saudi Arabia, ia bercerita di sejumlah toko swalayan Jeddah sering dijumpai baju "tank top". Realitasnya, di jalan raya tak orang Arab mengenakan baju semi terbuka.

Pertanyaan itu baru terjawab ketika orang Indonesia diajak ke kediaman rekannya. Ketika sebagai tamu, yang bersangkutan diterima di ruang tersendiri. Orang Arab, dalam menerima tamu, dipisah antara lelaki dan perempuan.

Saat bertandang ke rumah orang Arab, wanita yang mengenakan abaya dan kerudung, diminta untuk dibuka. Setelah sang tamu membuka abaya, tamu bersangkutan juga diminta membuka kerudungnya. Bahkan tuan rumah setengah memaksa.

Perempuan Indonesia, yang biasa mengenakan kerudung, sudah terbiasa di kantor atau di rumah masih tetap mengenakannya. Bagi orang Arab, membuka pakaian hingga ke rudung di ruang tamu merupakan suatu kehormatan.

Hal ini, kata Wiwiek, pernah dialami oleh Ibu Ani Yudhoyono ketika bertandang ke salah seorang keluarga Raja Saudi. Setelah membuka abaya, ibu Ani diminta membuka kerudungnya. Ibu Ani menolak. Ketika selesai bertamu, Ibu Ani minta penjelasan atas kejadian yang dialami itu.

Begitu juga dengan etika makan di Arab. Ketika piring kosong di hadapan tamu, tuan rumah akan mengisi lagi. Begitu juga dengan minum teh. Gelas kecil yang digunakan ketika kosong, akan cepat diisi oleh tuan rumah. Tuan rumah baru menghentikan ketika ada tanda-tanda dari tamu minta untuk tidak ditambah lagi.

Tandanya bagaimana. Itu yang harus dipahami. Agar tidak ditambah lagi minuman, misalnya dengan cara menggoyangkan gelas. Untuk makan, dengan memberi tanda tidak meneruskan makan. Padahal, dalam ajaran agama, makanan tersisa adalah mubazir.

Selain itu, yang penting lagi, jangan cepat memuji barang yang dikenakan tuan rumah. Itu bisa dinilai sebagai keinginan untuk memilikinya. Banyak tamu negara, karena tidak tahu, memuji perhiasan tuan rumah. Tanpa menunggu waktu terlalu lama, tuan rumah memberikan barang yang dikenakannya.

"Kalau begitu, sering-sering saja memuji tuan rumah?" tanya hadirin yang kemudian disusun tawa para hadirin.

Ceramah Wiwiek Zakiyah Basyuni yang disampaikan dalam suasana santai, juga diselingi humor segar.

Sementara itu, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Esterlita Bahrul Hayat menyatakan ceramah tersebut telah memberi inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk meningkatkan kualitas diri.

"Beliau memang memiliki banyak pengalaman, baik ketika mendampingi suami ketika bertugas di dalam maupun luar negeri. Saya hanya bisa menyampaikan terima kasih," katanya.
Pewarta :
Editor: M. Tohamaksun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar