Jakarta (ANTARA) - Anda bisa menjaga sistem imun tubuh tetap kuat terutama di masa normal baru ini melalui asupan nutrisi yang lengkap dan bergizi seimbang, istirahat cukup, asupan cairan cukup, olahraga dan jika perlu, menambahkan suplemen seperti immunomodulator.
Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Inggrid Tania mengatakan, konsumsi immunomodulator yang bersifat immuno stimulan kuat bisa setiap hari antara 8 minggu - 16 minggu.
"Biasanya, jeda dua minggu sudah cukup. Setelah itu, kita bisa konsumsi kembali suplemen immunomodulator itu," kata dia dalam siaran pers yang diterima ANTARA, Kamis.
Menurut Tania, hal ini untuk menghindari kemungkinan timbulnya efek samping, seperti imuno supresan, dan sebagainya, meskipun sebenarnya belum ada bukti-bukti kuat terkait ini.
Di sisi lain, dokter dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI, Budhi Antariksa berpendapat, suplemen seperti immunomodulator dan multivitamin masih diperlukan di masa normal baru karena tidak ada yang tahu kapan pandemi virus corona (COVID-19) berakhir.
Saat ini ada beragam suplemen immunomodulator dengan substansi natural atau subtansi sitentik. Contoh yang sintentik misalnya vitamin C, vitamin D. Sementara untuk substansi natural, seperti yang mengandung ekstrak Echinacea pupurea dan zinc picolinate.
VP Research & Development and Regulatory SOHO Global Health DR. Raphael Aswin Susilowidodo menuturkan, kandungan ekstrak Echinacea purpurea terbukti secara klinis dapat memodulasi atau mengatur sistem daya tahan tubuh dan mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut.
Studi mengungkapkan, Echinacea dengan dosis lebih tinggi secara signifikan memberikan hasil perbaikan gejala lebih baik versus plasebo maupun echinacea dosis lebih rendah.
Menurut Tania, sekalipun natural, substansi ini aman dikonsumsi sampai empat bulan kemudian dihentikan selama dua minggu dan kembali bisa dikonsumsi setelah itu jika dibutuhkan.
Selain menjaga sistem imun, Budi mengingatkan Anda tetap menaati protokol kesehatan walau kini pemerintah sudah melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
"Saat PSBB diperlonggar, angka kepositifan virus meningkat. Yang tadinya sudah sempat menurun, lalu naik lagi. Ini sudah kejadian di Jakarta. Hal itu menjadi pertanda kalau virus berpindah ke orang lain, maka virus itu bermutasi dan bertambah banyak," demikian kata Budi.
Berita Terkait
Cegah stunting balita, LKC Dompet Dhuafa dan HDI bagikan ratusan suplemen gizi
Jumat, 6 September 2024 22:48 Wib
Konsumsi suplemen teh hijau dosis tinggi bisa memicu kerusakan hati
Sabtu, 28 Januari 2023 9:51 Wib
KBRI Kuala Lumpur bagikan suplemen jahe merah kepada 200 ribu pekerja
Selasa, 15 Maret 2022 12:21 Wib
Mana yang efektif, injeksi vitamin atau suplemen oral?
Senin, 28 Februari 2022 12:01 Wib
Rahasianya apa saja Minati Atmanagara tetap prima di usia 60-an
Sabtu, 9 Oktober 2021 13:31 Wib
Dompet Dhuafa Waspada kirim suplemen ke RS Sufina Aziz
Kamis, 16 September 2021 1:01 Wib
Suntik vitamin C lebih baik dari pada suplemen
Jumat, 18 Juni 2021 13:33 Wib
Akibat konsumsi suplemen herbal, akhirnya jalani cangkok organ
Selasa, 1 Maret 2016 10:31 Wib