Itera bahas Krakatau sebagai warisan geologi

id Lampung, itera

Itera bahas Krakatau sebagai warisan geologi

Itera bahas krakatau sebagai warisan geologi  (Antaralampung/Itera)

Komplek vulkanik Krakatau bahkan menjadi gunung api yang terkenal di dunia karena letusan dahsyat yang terjadi pada tahun 1883, kata Susti

Bandarlampung (ANTARA) - Pusat Riset dan Indovasi (Purino) Wisata Geopark Global dan Wisata Langit (WG2WL) Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengadakan kegiatan webinar yang berjudul "Merangkai Warisan Geologi dan Budaya Krakatau Untuk Masa Depan".

Kegiatan dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Acep Purqon, Ph.D yang menyampaikan bahwa pemerintah mendirikan Itera untuk mencapai percepatan teknologi di Indonesia, terutama di Sumatera.

"Salah satu cara Itera untuk mencapai percepatan teknologi adalah dengan terbentuknya Pusat Riset dan Inovasi, diharapkan terbentuknya Purino dapat menggerakan percepatan tersebut," katanya.

Kegiatan dilanjutkan  sambutan oleh Kepala Purino WG2WL Rinaldi Ikhram, S.T., M.T.. Rinaldi menyampaikan bahwa Purino WG2WL hadir untuk tidak hanya fokus pada eksplorasi keberagaman alam terutama geologi, biologi dan budaya. 

Baca juga: Dirjen Dikti dukung percepatan pengembangan Itera menuju BLU

Purino WG2WL memiliki kekuatan lain yakni adanya astronomi Itera yang merupakan satu kebanggaan dan kekuatan untuk memadukan konsep geopark yang sudah ada dengan pengembangan konsep wisata langit.

Perwakilan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung Susti Rumianti,selaku Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah mengatakan Provinsi Lampung memiliki potensi sumber daya geologi yang sangat beragam mulai dari bahan tambang, minyak dan gas bumi, dan hidrotermal.

"Keberadaan gunung api di Provinsi Lampung seperti Gunung Rajabasa dan Gunung Anak Krakatau membuat potensi geologi di wilayah ini semakin beragam. Komplek vulkanik Krakatau bahkan menjadi gunung api yang terkenal di dunia karena letusan dahsyat yang terjadi pada tahun 1883," kata Susti.

Baca juga: Dirjen Perumahan Kementerian PUPR tanam pohon di Kampus Itera

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi webinar. Materi pertama disampaikan oleh Ir. Anshori Djasual,  sebagai pemerhati budaya Lampung yang dalam paparannya menyampaikan bahwa sejarah letusan Krakatau perlu dipelajari, digali lagi agar dapat dilakukan mitigasi untuk pencegahan dampak yang ditimbulkan sebagai upaya meningkatkan keselamatan masyarakat.

Citra Persada, selaku Planolog dari Ikatan Ahli Perencana (IAP). Citra membahas materi yang berkaitan dengan potensi dan pengembangan geopark, peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengembangan Geopark Krakatau terutama di bidang pariwisata dan kesiapsiagaan bencana, dan bagaimana masyarakat mempersiapkan ini. Citra berharap Krakatau yang berada di Provinsi Lampung dengan warisan geologinya dapat menjadi salah satu Global Geopark.

Mirzam Abdurrachman seorang Vulkanolog dari Asosiasi Vulkanologi Indonesia menyampaikan bagaimana kondisi Krakatau dahulu, sekarang dan bagaimana bersikap terhadap letusan Krakatau yang akan datang sehingga bisa disinergikan oleh berbagai kepentingan yang berkaitan erat dengan Krakatau. Tujuan dari hal ini adalah bagaimana bisa hidup harmonis di Negeri Gunung Api karena Krakatau adalah gunung api yang sangat aktif dan paling banyak diminati oleh para peneliti.
 
Pewarta :
Editor : Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021