Ecoprint teknik membatik dengan media daun

id Lampung,Metro,Ecoprint,Batik,Dedaunan,Ekonomikreatif,Motifbatikdaun,Lampung.antaranews.com

Ecoprint teknik membatik dengan media daun

Proses pembuatan ecoprint dengan cara dipukul-pukul sesuai motif daun. (Antaralampung.com/Hendra Kurniawan)

Sudah cukup lama mas sekitar tiga tahunan. Kalau batik ciprat, batik tulis kan sudah biasa ya. Kebetulan ecoprint ini kan tidak menggunakan bahan kimia.
Metro (ANTARA) - Benda apa saja bila berada di tangan-tangan kreatif bisa dijadikan sebuah karya bernilai, termasuk dedaunan sekali pun.

Seperti yang dilakukan Linda (35), warga Kelurahan Yosodadi, Kecamatan Metro Timur yang menggunakan daun untuk membatik. 

Teknik membatik itu dinamakan ecoprint, yaitu memindahkan warna daun ke bahan kain, sekaligus menjadikan daun tersebut sebagai motif batik. 

"Sebenarnya cara membatik ini bukan asli dari Indonesia ya, tetapi dari Eropa. Di Indonesia sendiri baru tiga sampai empat tahun ini berkembang," kata Linda saat dihubungi, Sabtu.

Linda mengaku awalnya mendapat ilmu membatik ecoprint dari pelatihan yang diadakan oleh Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama). Karena menggunakan bahan yang alami, dirinya tertarik untuk membuat ecoprint di Kota Metro. 

"Sudah cukup lama mas sekitar tiga tahunan. Kalau batik ciprat, batik tulis kan sudah biasa ya. Kebetulan ecoprint ini kan tidak menggunakan bahan kimia," katanya lagi.

Bahan untuk membuat ecoprint cukup mudah, untuk kain bisa menggunakan kain sutra atau katun, kemudian berbagai macam dedaunan seperti daun ketapang, jarak, daun jati, dan lainnya. Sedangkan untuk bahan penunjang menggunakan cuka, tawas maupun tunjung.

Daun-daun tersebut akan mengeluarkan warna yang berbeda-beda, seperti daun jati bisa mengeluarkan warna merah dan ungu tergantung dari cara memetik daun tersebut, seperti daun lanang bisa menghasilkan warna kuning, dan ranting daun lanang bisa juga dijadikan motif pada bahan. 

Selanjutnya, daun ketapang dan daun jarak mengeluarkan warna hijau kecokelatan. Pada bahan sutra warna-warni daun tersebut akan cenderung lebih terang. 

"Tapi, itu tergantung treatmentnya. Kalau menggunakan tawas dan cuka akan cenderung mengeluarkan warna asli. Kalau menggunakan tunjung akan mengeluarkan warna lebih gelap," ujarnya pula. 

Pembuatan ecoprint itu, bahan kain harus dimordan atau menghilangkan zat lilin yang menempel di kain, sekaligus membuka pori-pori kain agar warna daun bisa meresap maksimal di kain tersebut. Mordan ini yakni dengan merendam bahan kain dalam tawas 15 sampai 30 menit. 

Selanjutnya, daun-daun yang telah disiapkan ditempelkan ke bahan kain yang telah dimordan, lalu dikukus selama dua jam.

"Setelah dikukus baru diangin-anginkan selama tagi hari. Setelah itu, baru dilakukan fiksasi atau mengunci warna, kalau tidak dilakukan fiksasi warna bisa luntur kalau dicuci. Proses fiksasi ini cukup dicelupkan ke tawas," katanya lagi.

Kemudian, ujar dia, setelah proses fiksasi, kain tersebut kembali dikeringkan namun di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung. 

"Itu cara yang pertama. Cara kedua bisa langsung menempelkan daun ke kain kemudian dipukul-pukul sesuai bentuk daun itu. Setelah selesai baru dilakukan proses fiksasi," katanya pula. 

Ia menambahkan, pihaknya selama ini memasarkan ecoprint secara online, dan yang paling banyak memesan justru dari Surabaya dan Jakarta. 

"Nama produknya Jan Ayu. Saya memang memasarkannya lewat online. Di Lampung cukup banyak mas. Kalau harga dari yang termurah itu Rp100 ribu sampai dengan Rp475 ribu. Tergantung dari kain apa," katanya lagi.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar