Raja Ampat Dikukuhkan Sebagai Destinasi Wisata Bahari Unggulan

id Raja Ampat Dikukuhkan Sebagai Destinasi Wisata Bahari Unggulan, Papua, Papua Barat, Turis, Wisataan, Pulau, Ikan, Spesies, Pelancong, SBY, Presideen,

 Raja Ampat Dikukuhkan Sebagai Destinasi Wisata Bahari Unggulan

Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, Indonesia. (FOTO Google.com/Dok).

Acara puncak Sail Raja Ampat juga dimeriahkan oleh pertunjukan seni dan budaya Papua Barat seperti tarian selamat datang dan tarian batik Papua yang dilakukan secara kolosal oleh ratusan pelajar Papua Barat."
Raja Ampat, 23 Agustus 2014 (ANTARA) -- Kawasan perairan Kepulauan Raja Ampat tidak hanya menyimpan keindahan alam bawah laut yang mempesona, tetapi menjadi rumah bagi beberapa spesies langka. Spesies ikan pari manta dan hiu abu-abu menjadi spesies langka yang sering ditemukan di kawasan ini. Hal tersebut menjadi modal yang sangat besar untuk menjadikan suaka alam Kepulauan Raja Ampat sebagai destinasi unggulan wisata bahari dunia. Penyelenggaraan kegiatan Sail Raja Ampat 2014 menjadi harapan pemerintah untuk menghantarkan Raja Ampat ke pentas wisata dunia. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif  C. Sutardjo usai menghadiri acara puncak Sail Raja Ampat 2014 di Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Sabtu (23/8).
    
Sharif menambahkan, Pemerintah Indonesia terus berupaya mempromosikan potensi wisata bahari Raja Ampat sebagai kawasan konservasi perairan dalam rangka mengembangkan ekonomi kelautan.  Sejak ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN), masyarakat telah banyak merasakan manfaatnya.  Pembangunan pariwisata bahari di kawasan tersebut telah memberikan nilai tambah dan meningkatkan perekonomian masyarakat di Papua Barat dan wilayah sekitarnya. ¿Hal tersebut memicu kesadaran masyarakat untuk terus menjaga wilayah perairan dari pengrusakan, seperti penggunaan bom ikan.  Maka atas kontribusi masyarakat itulah luasan kawasan konservasi Raja Ampat terus bertambah, saat ini sudah mencapai 1,1 juta Ha¿, ujar Sharif.
    
Menurut Sharif, dalam upaya membangun ekonomi kelautan perlu di dukung regulasi dan infrastruktur. Terkait dengan regulasi, saat ini pemerintah sudah akan mengesahkan Rancangan Undang-undang  (RUU) kelautan pada akhir bulan September mendatang. RUU tersebut mengatur pengelolaan sumberdaya maritim yang mencakup tujuh sektor.  Salah satunya sektor wisata bahari sebagai kawasan konservasi perairan dimana tata ruang laut diatur melalui sistem zonasi. ¿Sedangkan pembangunan infrastruktur dipacu agar lebih baik dan merata melalui program percepatan pembangunan ekonomi nasional. Seperti pelaksanaan kegiatan Sail sebagai model percepatan pembangunan daerah kepulauan dan daerah terpencil¿, jelas Sharif.
    
Sharif menjelaskan, pembangunan Papua memang menjadi prioritas pemerintah pusat. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B) untuk mendukung program percepatan pembangunan Kelautan dan Perikanan di Provinsi Papua dan Papua Barat. Pengembangan kawasan minapolitan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat masih terbuka lebar dan KKP sangat mendukung untuk mensukseskan program ini. Terkait dengan itu, maka UP4B melalui koordinasi dan konsultasi dengan KKP bersama Pemda Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat telah menyusun dokumen perencanaan Masterplan Percepatan Pembangunan Kawasan Minapolitan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Dimana dokumen ini diharapkan menjadi acuan bersama dalam percepatan pengembangan potensi kawasan perikanan dan kelautan Provinsi Papua dan Papua Barat.
    
                       Acara Puncak Sail Raja Ampat 2014
Setelah sukses menyelenggarakan Sail Komodo 2013, tahun ini pemerintah kembali menyelenggarakan kegiatan Sail Raja Ampat 2014. Puncak acaranya dilaksanakan hari ini Sabtu (23/8) di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC) Raja Ampat, Papua Barat. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono membuka acara yang dihadiri oleh ribuan tamu undangan dari dalam dan luar negeri tersebut. Penyelenggaraan event internasional ini dilakukan pemerintah dalam rangka pelaksanaan pembangunan infrastruktur serta kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan. ¿Sail Raja Ampat  juga sangat efektif untuk mempromosikan wilayah Papua dan sekitarnya sebagai tujuan wisata nasional dan internasional¿, ungkap Dedi H. Sutisna, Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia selaku Ketua Pelaksana Sail Raja Ampat 2014.
    
Puncak Acara Sail Raja Ampat 2014 berlangsung dengan meriah dan diisi parade kapal TNI dan kapal perang beberapa negara sahabat. Presiden SBY didampingi Menko Kesra dan Menteri Kelautan dan Perikanan selain menyaksikan parade kapal juga melakukan sejumlah kegiatan termasuk meresmikan sejumlah proyek pembangunan di kawasan itu. ¿Selain Pantai Waisai Torang Cinta, beberapa lokasi lain yang telah disiapkan oleh panitia antara lain Rumah Pintar `Korfarkor¿, lokasi Pameran Potensi Daerah dan Festival Budaya Raja Ampat 2014, Kantor Sekretariat Panitia Nasional, Akademi Perikanan Sorong, serta Balai Budi Daya Ikan Kerapu yang juga menjadi lokasi peninjauan¿, jelas Dedi.
    
Acara puncak Sail Raja Ampat juga dimeriahkan oleh pertunjukan seni dan budaya Papua Barat seperti tarian selamat datang dan tarian batik Papua yang dilakukan secara kolosal oleh ratusan pelajar Papua Barat,  Peluncuran Sampul Peringatan Sail Raja Ampat 2014, serta penyerahan Pemenang Lomba Batik Raja Ampat kepada 7 orang pemenang, 3 orang diantaranya berasal dari Kabupaten Raja Ampat. Penyerahan hadiah dilakukan oleh Menko Kesra, didampingi oleh Menseskab selaku penggagas dan Mendikbud.  Selain pertunjukan seni dan budaya Papua Barat, untuk menyemarakkan Sail Raja Ampat, Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) menerjunkan beberapa kapal perang pada kegiatan sailing pass di hadapan Presiden RI dan tamu undangan lainnya. ¿Selain kapal TNI, ikut pula kapal lainnya yang berasal dari BASARNAS, BAKORKAMLA, Kementerian Perhubungan, Kapal Puskesmas bantuan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, kapal perang Singapura, dan kapal nelayan¿, tutup Dedi.
    
(W. Indrawan).
Editor: M. Tohamaksun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar