Desa Kertayasa raih penghargaam berkat wisata body rafting dikelola bumdes

id wisata body rafting, Desa Kertayasa Pangandaran,wisata pangandaran

Desa Kertayasa raih penghargaam berkat wisata body rafting dikelola bumdes

Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, berhasil meraih juara pertama Lomba Desa Wisata Nusantara 2019 dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kememdes PDTT) berkat wisata body rafting yang dikelola BUMDes setempat. (ANTARA/HO/Humas BUMDes Guha Bau)

"Jadi di sini, wisatawan bisa menikmati keindahan sungai dengan pemandangan sekitarnya yang menarik. Air yang jernih, pepohonan rimbun, tebing karst, air terjun kecil, hingga bebatuan yang tampak unik," kata Ketua BUMDes Guha Bau (BUMDes pengelola wi
Bandung (ANTARA) - Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, berhasil meraih juara pertama Lomba Desa Wisata Nusantara 2019 dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kememdes PDTT) berkat wisata body rafting yang dikelola BUMDes setempat.

Dengan adanya penghargaan tersebut, wisatawan kini tidak hanya bisa menikmati wisata Pantai Pangandaran semata namun ada beberapa tempat wisata yang tak kalah menarik, salah satunya adalah Cukang Taneuh atau Green Canyon dan lokasinya ada di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang.

"Jadi di sini, wisatawan bisa menikmati keindahan sungai dengan pemandangan sekitarnya yang menarik. Air yang jernih, pepohonan rimbun, tebing karst, air terjun kecil, hingga bebatuan yang tampak unik," kata Ketua BUMDes Guha Bau (BUMDes pengelola wisata body rafting di Desa Kertakaya) Teten Sutanto, Rabu.

Teten mengatakan yang perlu dicoba wisatawan di Green Canyon adalah body rafting, wisata ini merupakan kegiatan wisata unggulan yang menawarkan dua trek.

Pertama adalah trek panjang dengan panjang jarak tempuh 10 kilometer. Kedua adalah trek pendek dengan jarak 5 kilometer.

Tiket untuk menikmati keseruan body rafting adalah Rp225 ribu (trek panjang) dan Rp200 ribu (trek pendek).

Dia mengatakan harga ini sudah mencakup perjalanan menggunakan mobil, perahu, makan, asuransi, dan tentu saja body rafting itu sendiri dengan pemandu berpengalaman.

"Untuk body rafting ini, pesertanya minimal lima orang. Ini bisa satu kelompok atau digabung dengan peserta lain. Waktu tempuhnya sendiri 4 sampai 5 jam untuk trek panjang dan 1,5 sampai 3 jam untuk trek pendek," kata Teten Sutanto.

Sepanjang perjalanan, pengunjung akan bertualang menyusuri sungai yang terlihat seolah hijau karena pantulan warna dedaunan.

Namun air di sini benar-benar jernih dan menyegarkan dan pengunjung harus berenang hingga berjalan kaki melewati bebatuan.

Tidak perlu khawatir jika tak bisa berenang, sebab setiap peserta dibekali pelampung, helm, sepatu karet, dan tentunya didampingi pemandu yang siap membantu jika sewaktu-waktu perlu bantuan.
Baca juga: Curugsawer Pangandaran bisa jadi destinasi wisata yang menarik

Green Canyon sendiri kini menjadi favorit wisatawan dan tahun lalu, pengunjung yang menikmati kegiatan body rafting menjadi 15 ribu orang.

Hal ini berdampak positif untuk kegiatan ekonomi warga setempat. Bahkan, perputaran uangnya mencapai Rp2 miliar.

Hal ini berbanding terbalik dibanding sebelum Green Canyon menjadi tempat wisata dan menyuguhkan body rafting karena jangankan jadi tempat wisata, warga setempat pun takut untuk masuk ke Green Canyon.

"Dulu sebelum jadi tempat wisata, bagi masyarakat di sini, Green Canyon itu adalah tempat angker. Tapi setelah jadi tempat wisata, secara perlahan mulai berkembang dan memberi manfaat bagi warga di sini," kata Teten.

BUMDes Guha Bau sendiri berusaha terus mengembangkan potensi wisata di Desa Kertayasa. Rencananya akan dibangun tempat pentas untuk menampilkan ragam kesenian khas daerah.

"Untuk ke depan, kita juga akan mengembangkan Green Coral yang sekarang belum begitu dikelola karena kemarin kondisi sungainya tidak ada airnya akibat kemarau," tutur Teten.

Dia mengatakan yang menarik, berbagai pengembangan dan pengelolaan wisata oleh BUMDes Guha Bau sangat fokus pada pemberdayaan masyarakat. Mayoritas yang dilibatkan adalah para tenaga lokal alias warga setempat.

Hal ini memang berdampak pada lambatnya kemajuan karena tak ada investor luar yang masuk tapi, hal ini membuat warga setempat bisa tetap berdaya di daerahnya sendiri.

"Memang untuk progres terus terang saja (pengembangan wisata) di desa ini lambat. Tapi, kami punya keyakinan, walopun lambat tapi insya Allah dengan keyakinan dan cita-cita yang besar kita, insya Allah bakal mampu. Daripada cepat (dengan kehadiran investor) tapi kita hanya sebagai pembantu, lebih baik jadi pelaku walaupun lambat," kata Teten.


 
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar