Desainer sebutkan Indonesia berpeluang jadi barometer modest fashion

id Modest fashion,Fesyen

Desainer sebutkan Indonesia berpeluang jadi barometer modest fashion

Salah satu desainer busana muslim asal Solo Tuty Adib (Foto: Aris Wasita)

Solo (ANTARA) - Desainer kenamaan asal Kota Solo Tuty Adib menyatakan Indonesia berpeluang menjadi barometer modest fashion atau busana tertutup mengingat pasar yang dimiliki.

"Kalau Indonesia memang ingin menancapkan diri sebagai barometer perkembangan mode fesyen dunia pada tahun 2020, bisa tetapi tidak mudah," katanya di Solo, Kamis.

Ia mengatakan saat ini banyak desainer modest dari luar negeri yang bermunculan. Keberadaan mereka didukung dengan pergelaran yang mengangkat modest fashion itu sendiri, seperti Turki Modest Fashion, Dubai Modest Fashion, bahkan dalam waktu dekat ini akan ada New York Modest Fashion.

"Artinya memang ada pemainnya, jadi Indonesia harus bisa mewarnai di negara manapun. Tunjukkan kalau Indonesia kuat di situ," katanya.

Di sisi lain, dikatakannya, Indonesia harus memiliki ajang besar terkait modest fashion ini.

"Kalau sampai sekarang belum ada, baru ada dalam skala kecil, seperti 'Mosleem Fashion Week'. Itupun hanya dilakukan pada bulan Ramadhan," katanya.

Selain itu, dikatakannya, desainer modest fashion dalam negeri juga harus menjajaki selera pasar luar negeri. Ia mengakui selama ini sebagian desainer kurang melihat seperti apa permintaan pasar internasional.

"Jadi mode yang diangkat masih lokal, seperti terlalu banyak detail. Harus dipahami detail internasional seperti apa," katanya.

Sementara itu, melihat potensi yang dimiliki daerah, dikatakannya, Kota Solo bisa menjadi Milan-nya modest fashion Indonesia.

"Saya melihat Solo ini dapat menjadi Milan baru di Indonesia, apalagi kalau berani menghadirkan pameran fashion skala internasional karena kota ini memiliki akar kesejarahan yang kuat dalam perkembangan fesyen," katanya.

Ia mengatakan salah satu kekayaan yang dimiliki daerah dan bisa dioptimalkan yaitu batik.

"Di sini motif batik luar biasa banyaknya, seperti motif parang saja masih terbagi ke dalam berbagai jenis, seperti parang rusak, parang barong, dan jenis lain lagi. Kekayaan ini bisa dioptimalkan," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar