Lampung buka peluang investasi sapi perah tambah produksi susu

id Peternakan lampung, peternakan sapi perah, sapi perah Lampung, investasi peternakan lampung

Lampung buka peluang investasi sapi perah tambah produksi susu

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Lampung Lili Mawarti saat memberi keterangan. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Seperti yang diketahui memang di Provinsi Lampung masih kekurangan usaha peternakan sapi perah, dan kami sekarang sedang menarik investor berinvestasi melakukan budidaya sapi perah di sini

Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung membuka peluang investasi bagi investor untuk mengembangkan budidaya sapi perah di daerah itu untuk menambah produksi susu pasteurisasi.

"Seperti yang diketahui memang di Provinsi Lampung masih kekurangan usaha peternakan sapi perah, dan kami sekarang sedang menarik investor berinvestasi melakukan budidaya sapi perah di sini," ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Lampung Lili Mawarti di Bandarlampung, Senin.

Ia mengatakan di Provinsi Lampung baru ada dua peternakan sapi perah yakni di Kabupaten Lampung Selatan yakni PT Juang Jaya, dan di Kabupaten Lampung Tengah yakni produksi susu segar Hometown.

"Tetapi kami pemerintah daerah berusaha menambah investor agar melakukan usaha di Lampung untuk melakukan budidaya sapi perah, salah satunya dengan memberikan kemudahan dalam berinvestasi. Karena di Lampung lahan masih ada, sumber pakan pun sangat banyak. Jadi kita selalu berusaha agar ada investor yang masuk melakukan budidaya sapi perah tersebut di sini," katanya.

Namun, menurut dia, keberadaan peternakan sapi perah dan pengolahan susu perah di Kabupaten Lampung Tengah ataupun di Kabupaten Lampung Selatan, belum bisa memenuhi kebutuhan susu segar di Lampung secara menyeluruh karena keterbatasan kapasitas. Sehingga Lampung tetap kekurangan produksi untuk susu segar.

"Untuk susu itu tidak hanya Lampung, tapi seluruh Indonesia masih sangat kekurangan. Sehingga pemerintah pusat juga sama seperti pemerintah daerah sedang berusaha mencari investor untuk melakukan usaha di sektor budidaya sapi perah," ucap dia.

Menurut dia, budidaya sapi perah menjadi salah satu usaha di bidang peternakan yang cukup menjanjikan dan memiliki peluang usaha cukup besar, karena permintaan yang tinggi, namun pasokan belum bisa dipenuhi secara menyeluruh.

"Untuk memenuhi kebutuhan susu segar di Lampung, salah satunya untuk Program Makan Bergizi Gratis selain Kota Metro dan Lampung Tengah selama ini yang saya lihat, mereka masih menggunakan susu kemasan sebagai alternatif sementara. Sehingga pengembangan peternakan sapi perah serta rumah susu penting sekali di Lampung," tambahnya.

Diketahui sebelumnya berdasarkan kinerja penanaman modal di Provinsi Lampung pada triwulan II 2025 realisasi investasi dari penanaman modal asing di Lampung nilainya Rp600 miliar, dengan jumlah proyek investasi sebanyak 418, dan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 1.991 tenaga kerja dalam negeri dan tujuh tenaga kerja asing.

Jumlah sektor yang melakukan investasi dari penanaman modal asing di Lampung ada 21 sektor, dan sektor industri makanan menjadi sektor dengan realisasi investasi tertinggi yakni dengan nilai Rp247 miliar.

Jumlah proyek investasi sebanyak 72 proyek, serta tenaga kerja yang terserap untuk tenaga kerja lokal ada 395 orang dan tenaga kerja asing ada empat orang.

Kemudian yang memiliki realisasi terbesar kedua adalah sektor tanaman pangan, perkebunan dan peternakan dengan jumlah investasi sebesar Rp160 miliar, proyek investasi sebanyak 30, dan penyerapan tenaga kerja dalam negeri ada sebanyak 1.269 orang.

Baca juga: Gubernur Lampung sebut setiap investasi wajib serap tenaga kerja lokal

Baca juga: Sebanyak 15 investor telah sepakat untuk berinvestasi ke Lampung

Baca juga: Lampung kembangkan lima area industrial dan production estate

Pewarta :
Editor : Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.