Hama Ulat Serang Lampung Tengah
Minggu, 21 April 2013 18:18 WIB
Petani Padangcermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung sedang mengusir hama burung. (Foto ANTARA/M.Tohamaksun)
Bandarlampung (Antara Lampung) - Hama ulat menyerang tanaman padi milik sejumlah petani pada beberapa desa di Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung menjelang panen padi musim penghujan tahun 2013.
Sejumlah petani di Desa Kotabatu, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, sekitar 100 KM Barat Laut Kota Bandarlampung, menginformasikan, Minggu, hama ulat itu menyerang tanaman padi secara tiba-tiba.
Seorang petani yang lahannya ikut diserang hama ulat, Nawawi, menjelaskan hama ulat itu menyerang leher atau gagang buah padi yang sudah berisi dan menjelang panen.
"Hama ulat itu memakan leher gagang buah padi yang sudah hampir tua, sehingga patah, jika dibiarkan padi tidak bisa dipanen," katanya.
Petani yang memiliki lebih dari satu hektare lahan sawah itu menjelaskan hama ulat itu ukurannya cukup besar dan berbulu, warnanya keputihan.
"Ulat tersebut tidak menyerang tanaman atau batang padi yang masih muda, tetapi padi tua. Bukan buah padinya yang dimakan, tetapi malah gagang atau lehernya," katanya lagi.
Petani lainnya, Muin, membenarkan adanya serangan hama ulat yang menurut petani setempat termasuk ulat jenis baru, baik bentuk maupun cara menyerangnya.
"Biasanya kan ulat menyerang tanaman padi yang masih muda, tetapi kali ini menyerang tanaman padi yang sudah hampir panen," katanya.
Tanaman padi yang diserang itu umumnya padi yang sekitar tiga atau dua minggu lagi akan memasuki masa panen.
Guna mengatasi hal itu, para petani setempat mengatasinya secara swadaya, antara lain dengan menyemprotkan racun pembasmi serangga atau pestisida.
"Bahkan banyak petani di sini yang menyemporot hama ulat itu pada malam hari, karena kebanyakan ulat itu menyerangnya pada malam hari," kata Muin lagi, yang menambahkan jika dibiarkan tidak dibasmi maka akibat serangan ulat itu padi tidak bisa dipanen karena gagang buahnya banyak yang patah.
Baik Nawawi maupun Muin menjelaskan khusus di Desa Kotabatu dan sekitarnya, tanaman padi musim rendeng awal tahun 2013 ini cukup baik, dan pengairannya juga cukup hingga menjelang panen, meski sebelumnya sempat ada kekhawatiran lahannya akan kesulitan air saat menjelang panen.
Serangan hama yang terjadi pada musim tanam tahun ini selain ulat adalah tikus. "Waktu tanaman padi masih muda, hama yang menyerang adalah tikus, dan ketika tikus mereda giliran ulat yang datang," katanya pula.
Desa Kotabatu yang tergolong desa miskin dan terisolasi, merupakan salah satu desa di bagian Barat Kabupaten Lampung Tengah, yang selama ini menghasilkan berbagai komoditas perkebunan dan pertanian, seperti lada, kopi, kelapa sawit, coklat, pisang, padi, sasyur-sayuran, dan juga ikan budidaya air tawar.
Bupati Lampung Tengah A.Pairin menjelaskan daerahnya hingga kini merupakan penghasil padi terbesar di Provinsi Lampung, sehingga Lampung Tengah termasuk sebagai "Lumbung Pangan" Provinsi Lampung.
Hal itu karena di Kabupaten Lampung Tengah saat ini terdapat areal tanaman padi sekitar 72.000 hektare sekali tanam bisa ditanam dua kali setahun, atau total sekitar 144.000 hektare dalam satu tahun, dengan produksi sekitar 712.000 ton padi per tahunnya.
Sejumlah petani di Desa Kotabatu, Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, sekitar 100 KM Barat Laut Kota Bandarlampung, menginformasikan, Minggu, hama ulat itu menyerang tanaman padi secara tiba-tiba.
Seorang petani yang lahannya ikut diserang hama ulat, Nawawi, menjelaskan hama ulat itu menyerang leher atau gagang buah padi yang sudah berisi dan menjelang panen.
"Hama ulat itu memakan leher gagang buah padi yang sudah hampir tua, sehingga patah, jika dibiarkan padi tidak bisa dipanen," katanya.
Petani yang memiliki lebih dari satu hektare lahan sawah itu menjelaskan hama ulat itu ukurannya cukup besar dan berbulu, warnanya keputihan.
"Ulat tersebut tidak menyerang tanaman atau batang padi yang masih muda, tetapi padi tua. Bukan buah padinya yang dimakan, tetapi malah gagang atau lehernya," katanya lagi.
Petani lainnya, Muin, membenarkan adanya serangan hama ulat yang menurut petani setempat termasuk ulat jenis baru, baik bentuk maupun cara menyerangnya.
"Biasanya kan ulat menyerang tanaman padi yang masih muda, tetapi kali ini menyerang tanaman padi yang sudah hampir panen," katanya.
Tanaman padi yang diserang itu umumnya padi yang sekitar tiga atau dua minggu lagi akan memasuki masa panen.
Guna mengatasi hal itu, para petani setempat mengatasinya secara swadaya, antara lain dengan menyemprotkan racun pembasmi serangga atau pestisida.
"Bahkan banyak petani di sini yang menyemporot hama ulat itu pada malam hari, karena kebanyakan ulat itu menyerangnya pada malam hari," kata Muin lagi, yang menambahkan jika dibiarkan tidak dibasmi maka akibat serangan ulat itu padi tidak bisa dipanen karena gagang buahnya banyak yang patah.
Baik Nawawi maupun Muin menjelaskan khusus di Desa Kotabatu dan sekitarnya, tanaman padi musim rendeng awal tahun 2013 ini cukup baik, dan pengairannya juga cukup hingga menjelang panen, meski sebelumnya sempat ada kekhawatiran lahannya akan kesulitan air saat menjelang panen.
Serangan hama yang terjadi pada musim tanam tahun ini selain ulat adalah tikus. "Waktu tanaman padi masih muda, hama yang menyerang adalah tikus, dan ketika tikus mereda giliran ulat yang datang," katanya pula.
Desa Kotabatu yang tergolong desa miskin dan terisolasi, merupakan salah satu desa di bagian Barat Kabupaten Lampung Tengah, yang selama ini menghasilkan berbagai komoditas perkebunan dan pertanian, seperti lada, kopi, kelapa sawit, coklat, pisang, padi, sasyur-sayuran, dan juga ikan budidaya air tawar.
Bupati Lampung Tengah A.Pairin menjelaskan daerahnya hingga kini merupakan penghasil padi terbesar di Provinsi Lampung, sehingga Lampung Tengah termasuk sebagai "Lumbung Pangan" Provinsi Lampung.
Hal itu karena di Kabupaten Lampung Tengah saat ini terdapat areal tanaman padi sekitar 72.000 hektare sekali tanam bisa ditanam dua kali setahun, atau total sekitar 144.000 hektare dalam satu tahun, dengan produksi sekitar 712.000 ton padi per tahunnya.
Pewarta : Oleh M Toha Maksun
Editor : Gatot Arifianto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Hama kwangwung masih jadi masalah belum teratasi petani kelapa Lampung Timur
08 November 2023 14:18 WIB, 2023
Itera edukasi kelompok tani tentang pengendalian hama dengan "internet of things"
24 November 2021 11:46 WIB, 2021
Terpopuler - Lampung Tengah
Lihat Juga
KPK panggil istri Bupati Lampung Tengah nonaktif Ardito Wijaya untuk diperiksa
15 January 2026 11:32 WIB
Damkarmat Lampung Selatan evakuasi buaya peliharaan warga di Natar, Lamsel
28 December 2025 17:30 WIB
Pria Bandarlampung sekap anak di bawah umur asal Lampung Tengah selama empat hari
21 October 2025 16:42 WIB
Wakil Bupati Lampung Tengah hadiri kirab budaya HUT ke -68 Dusun Sriwaluyo II
23 September 2025 9:30 WIB
FIFGROUP gelar hajatan untuk dekatkan layanan ke masyarakat di Bandar Jaya
13 September 2025 17:41 WIB
LBH Bandarlampung komitmen dampingi masyarakat tiga kampung terlibat konflik agraria
18 August 2025 9:59 WIB
DPRD Lampung minta percepatan unit pemukiman transmigrasi jadi desa definitif
22 July 2025 12:06 WIB