Logo Header Antaranews Lampung

Lampung perkuat pengendalian hama secara hayati saat kemarau

Rabu, 22 April 2026 19:24 WIB
Image Print
Ilustrasi- Lahan pertanian yang ada di Provinsi Lampung. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Dalam memitigasi dampak musim kemarau atau El Nino bagi sektor pertanian di Lampung

Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memperkuat pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama secara hayati untuk mencegah gagal panen saat musim kemarau.

"Dalam memitigasi dampak musim kemarau atau El Nino bagi sektor pertanian di Lampung, salah satu yang harus disiapkan adalah melakukan pengendalian organisme pengganggu tanaman seperti wereng, hama batang cokelat dan tikus," ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KTPTH) Provinsi Lampung Elvira Ummihani di Bandarlampung, Rabu.

Ia mengatakan, pihaknya pun terus memperkuat strategi pengendalian organisme pengganggu tanaman untuk menghadapi musim kemarau secara hayati dengan memaksimalkan peran masyarakat, ataupun penggunaan agen hayati.

"Kita membutuhkan pengendalian yang di luar kimia, jadi pengendalian dengan memanfaatkan pengendalian secara hayati bisa dilakukan dengan model gropyokan. Kalau secara kimia bisa menggunakan pestisida, namun ini stoknya belum banyak meski ketersediaan ada, tapi kurang untuk mencukupi untuk menghadapi musim kemarau," katanya.

Dia menjelaskan, pihaknya meminta pemerintah kabupaten dan kota di daerahnya untuk ikut serta melakukan upaya antisipasi pengendalian organisme pengganggu tanaman khususnya yang dilakukan dengan metode hayati yang ramah lingkungan.

"Hama tikus, hama batang cokelat ini biasanya hadir tanpa diundang di musim kemarau. Sehingga petani diharapkan melakukan langkah pengendalian massal secara mandiri, kemudian petani juga harus menghemat pemakaian air. Tidak perlu menunggu terlalu lama bantuan dari pusat dan provinsi tapi kabupaten serta kota harus bisa juga menyediakan pengendalian ini," ucap dia.

Lalu langkah mitigasi lain dapat dilakukan dengan melakukan pelaksanaan bimbingan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) kepada petani, agar menggunakan pupuk kompos atau bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah.

"Kemudian melakukan gropyokan dan pemanfaatan agen hayati untuk mengatasi organisme pengganggu tanaman yang timbul akibat dampak kekeringan ini juga harus di edukasi lebih intens," tambahnya.

Ia melanjutkan perlu juga mengurangi penggunaan pestisida sintetis, karena penggunaan yang berlebihan akan merusak biologi dan struktur kimia pada tanah. Sehingga akan menyebabkan tanah lebih cepat mengalami kekeringan.

"Selanjutnya perlu juga membantu dan mendorong petani di wilayah rawan agar mendaftar asuransi usaha tani padi (AUTP) secara mandiri," ujar dia.



Pewarta :
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026