Lahan pasir bisa dijadikan sebagai lahan pertanian

id Lahan pertanian pasir, media pasir sebagai pertanian

Iustrasi/ Sejumlah perempuan memanen cabai merah besar di kawasan pertanian lingkar selatan, Mataram, NTB, Rabu (13/2/2019). . (I) (ANTARA FOTO/AHMAD_SUBAIDI)

Mataram (ANTARA) - Lahan pasir bisa diubah menjadi area pertanian yang produktif. Terkait itu, kelompok Tani Hidroponik Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan memberikan pelatihan bertani dengan AJB (aji buhin) sistem menggunakan media pasir kepada masyarakat pesisir sebagai program peningkatan ekonomi serta pemberdayaan masyarakat nelayan.

Ketua Kelompok Tani Hidroponik Kota Mataram H Mas Buhin di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat, mengatakan sistem AJB ini sangat pas dikembangkan pada areal pesisir pantai dengan memanfaatkan pasir dan lahan kosong di sekitarnya.

"Apalagi saat ini masih banyak lahan tidak termanfaatkan di kawasan pesisir," kata H Mas Buhin yang sekaligus inisiator bertaman dengan media pasir.

H Mas Buhin awalnya merupakan penggerak pertanian kota melalui sistem hidroponik ini, kini menemukan sistem yang lebih sederhana dan bisa dikembangkan untuk kawasan minim air seperti di kawasan pesisir.

Dengan menggunakan alat-alat sederhana bahkan bisa juga menggunakan barang bekas, masyarakat sudah bisa bertani dengan AJB sistem, yang hasilnya tentu dapat dikonsumsi sendiri sehingga mengurangi biaya hidup sehari-hari para nelayan.

"Jika hasil pertanian mereka banyak, bisa langsung dijual dan harganya pun lebih mahal, karena AJB sistem menghasilkan sayur organik," katanya.

Menurutnya, AJB sistem ini adalah sistem pertanian yang menggabungkan pertanian konvesional dengan pertanian hidroponik. Pasalnya, dalam satu media tanam berupa ember terbagi menjadi tiga yakni pasir, air dan udara.

Bagian air tersebut, lanjutnya, tetap dicampur nutrisi seperti halnya hidroponik. Sedangkan pasir mengganti rocwool untuk menahan tanaman agar tidak tumbang dan rongga kosong untuk sirkulasi udara.

"Dengan demikian, kita tidak perlu lagi mencari media tanam berupa tanah, cukup menggunakan pasir, selanjutnya tanaman bisa tumbuh sempurna tanpa disiram. Kita tinggal kontrol air nutrisinya masih cukup atau tidak," katanya.

Pertanian dengan AJB sistem ini sangat cocok dikembangkan untuk berbagai jenis tanaman hortikultura, seperti sayur-sayuran, melon, cabai, tomat, dan lainnya.

Untuk melaksanakan program pelatihan tersebut, saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan sejumlah lurah di kawasan pesisir pantai, salah satu lurah yang sudah memberikan respons dan siap mendukung kegiatan tersebut adalah Lurah Banjar.

Lurah Banjar Muzakkir Walad yang dikonfirmasi terkait rencana pelatihan tersebut memberikan sambutan positif, karena program ini bisa menjadi solusi keran penghasilan kedua nelayan sebab ada saat mereka tidak bisa melaut.

Program ini, katanya, ke depan bisa menjadi lumbung peningkatan ekonomi, apalagi pihak telah merencanakan untuk mengklasterisasi daerah pesisir menjadi kawasan kampung tanggap inflasi.

"Ke depan, wilayah pesisir akan dijadikan sebagai pasar untuk kebutuhan sayur sehat dan tanaman produktif lainnya," katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pihaknya membutuhkan pendampingan berkelanjutan sampai warga pesisir mandiri termasuk modal usaha untuk memulai.

"Apalagi kami disetiap kelurahan memiliki PPL pertnaian yang bisa dilibatkan dalam pendampingan dan monitoring," ujarnya.    
 
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar