"Curhat" Novel Baswedan
Sabtu, 30 Mei 2015 4:50 WIB
Jakarta (ANTARA Lampung) - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengungkapkan curahan hatinya dalam sidang praperadilan atas penangkapan dan penahanan yang dilakukan oleh penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri pada 1 Mei 2015.
Pernyataan Novel yang dibacakan sebagai pengantar dalam permohonan praperadilan dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (29/5) tersebut, di antaranya berisi keprihatinannya terhadap penangkapan yang dilakukan pada tengah malam.
"Mengapa tengah malam? Telepon saja saya akan datang. Itu kata saya saat menemui tim penyidik yang menangkap saya pada tanggal 1 Mei 2015, sekitar pukul 00.00 WIB," ujarnya
Bukan hanya rumah yang selalu terbuka, katanya, telepon seluler miliknya juga selalu tersedia dihubungi oleh siapapun. Bahkan sekitar tanggal 29 April ketika seorang penyidik mengirim pesan pendek (BBM) menanyakan kabar dan posisinya ia pun menjawab: "kabar baik, saya sedang tugas di Palembang".
Sebagai seorang penegak hukum yang pernah mengabdi di kepolisian lalu ditugaskan menjadi pegawai tetap KPK, Novel mengaku bahwa ia selalu didoktrin untuk menegakkan hukum setegak-tegaknya, menegakkan hukum bukan karena kebencian, menegakkan hukum bukan karena dendam, dan menegakkan hukum bukan karena mengejar popularitas.
Ringkasnya, menegakkan hukum semata-mata karena alasan hukum, bukan alasan nonhukum.
"Ketika hukum ditegakkan dengan alasan lain, maka yang terjadi adalah kesewenang-wenangan dan ketidakprofesionalan. Lalu, siapa yang menerima manfaat? Tidak tahu. Yang pasti baik KPK maupun kepolisian tidak menerima manfaat apapun," katanya menegaskan.
Pria kelahiran Semarang, 38 tahun silam itu juga mengungkapkan kegundahan hatinya atas tindakan aparat negara, dalam hal ini pihak Bareskrim Polri, yang seharusnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat justru melakukan kebohongan demi kebohongan.
"Salah satu kebohongan yang diucapkan oleh Kabareskrim adalah saya memiliki empat rumah. Seolah-olah saya adalah seorang pegawai negeri yang memiliki harta melimpah," ujar Novel lagi.
Terhadap tuduhan tersebut, ujarnya, ia sudah melakukan klarifikasi bahwa ada dua rumah dengan atas namanya, namun satu rumah lainnya adalah milik ibunya, meskipun tertulis di dalam sertifikat atas namanya.
"Karena Kabareskrim tetap yakin bahwa saya memiliki empat rumah, maka sekali lagi saya sampaikan bahwa silakan diambil dua rumah yang saya tidak merasa miliki," katanya lagi.
Pernyataan Novel yang dibacakan sebagai pengantar dalam permohonan praperadilan dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (29/5) tersebut, di antaranya berisi keprihatinannya terhadap penangkapan yang dilakukan pada tengah malam.
"Mengapa tengah malam? Telepon saja saya akan datang. Itu kata saya saat menemui tim penyidik yang menangkap saya pada tanggal 1 Mei 2015, sekitar pukul 00.00 WIB," ujarnya
Bukan hanya rumah yang selalu terbuka, katanya, telepon seluler miliknya juga selalu tersedia dihubungi oleh siapapun. Bahkan sekitar tanggal 29 April ketika seorang penyidik mengirim pesan pendek (BBM) menanyakan kabar dan posisinya ia pun menjawab: "kabar baik, saya sedang tugas di Palembang".
Sebagai seorang penegak hukum yang pernah mengabdi di kepolisian lalu ditugaskan menjadi pegawai tetap KPK, Novel mengaku bahwa ia selalu didoktrin untuk menegakkan hukum setegak-tegaknya, menegakkan hukum bukan karena kebencian, menegakkan hukum bukan karena dendam, dan menegakkan hukum bukan karena mengejar popularitas.
Ringkasnya, menegakkan hukum semata-mata karena alasan hukum, bukan alasan nonhukum.
"Ketika hukum ditegakkan dengan alasan lain, maka yang terjadi adalah kesewenang-wenangan dan ketidakprofesionalan. Lalu, siapa yang menerima manfaat? Tidak tahu. Yang pasti baik KPK maupun kepolisian tidak menerima manfaat apapun," katanya menegaskan.
Pria kelahiran Semarang, 38 tahun silam itu juga mengungkapkan kegundahan hatinya atas tindakan aparat negara, dalam hal ini pihak Bareskrim Polri, yang seharusnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat justru melakukan kebohongan demi kebohongan.
"Salah satu kebohongan yang diucapkan oleh Kabareskrim adalah saya memiliki empat rumah. Seolah-olah saya adalah seorang pegawai negeri yang memiliki harta melimpah," ujar Novel lagi.
Terhadap tuduhan tersebut, ujarnya, ia sudah melakukan klarifikasi bahwa ada dua rumah dengan atas namanya, namun satu rumah lainnya adalah milik ibunya, meskipun tertulis di dalam sertifikat atas namanya.
"Karena Kabareskrim tetap yakin bahwa saya memiliki empat rumah, maka sekali lagi saya sampaikan bahwa silakan diambil dua rumah yang saya tidak merasa miliki," katanya lagi.
Pewarta : Yashinta Difa
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Disdik Lampung tingkatkan kemampuan akademik lalui pembiasaan soal berbasis HOTS
14 January 2026 20:21 WIB
Sekolah desa sebagai pusat peradaban, Dosen UM Kalianda lakukan pengabdian di Lampung Selatan
12 January 2026 14:50 WIB
Program FKUI kampus pertama peraih akreditasi internasional dari IAAHEH-INT
21 December 2025 10:11 WIB
Terpopuler - Profil
Lihat Juga
Gempa guncang Cianjur, DMC Dompet Dhuafa langsung kirim tim dan armada medis
22 November 2022 8:24 WIB, 2022
Dari mama aku belajar hingga menang lomba catur cepat Porsadin tingkat Provinsi Lampung
22 July 2022 20:36 WIB, 2022
Satgas informasikan 16,32 juta warga RI telah dapatkan vaksinasi COVID-19 penguat
21 March 2022 18:40 WIB, 2022