
Tim Unila ciptakan sistem teknologi "blockchain" untuk bantu pengawasan bansos

Perasaan ini menjadi motivasi terbesar kami untuk tidak hanya menyelesaikan program, tetapi untuk menciptakan sebuah sistem yang benar-benar berfungsi, berdampak nyata dan dapat terealisasikan di kehidupan masyarakat Indonesia
Bandarlampung (ANTARA) - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) Universitas Lampung (Unila) menciptakan sebuah sistem teknologi blockchain yaitu Inovasi Presisi Pengawasan Bansos Terpadu atau SIPANDU untuk membantu pengawasan distribusi bantuan sosial (bansos).
SIPANDU merupakan platform digital berbasis web yang dirancang sebagai sistem terintegrasi untuk memverifikasi, memvalidasi, serta memantau proses distribusi bantuan sosial (bansos).
Tim PKM-VGK Unila ini diketuai Imrohatus Soleha (FH 2023) dengan dua anggota timnya, yaitu M. Rizky Herliansyah (FISIP 2023) dan Zahwa Namira Ajani (FISIP 2023). Selama persiapan, tim juga dibimbing Maya Shafira, SH MH, selaku dosen Fakultas Hukum Unila.
Meski hanya tiga orang, tim ini telah bekerja keras untuk mewujudkan ide yang menjamin penyaluran bansos dapat lebih tepat sasaran. Kunci keberhasilan mereka adalah komunikasi yang terbuka, solidaritas antaranggota tim, dan koordinasi yang intensif dengan dosen pembimbing.
"Perasaan ini menjadi motivasi terbesar kami untuk tidak hanya menyelesaikan program, tetapi untuk menciptakan sebuah sistem yang benar-benar berfungsi, berdampak nyata dan dapat terealisasikan di kehidupan masyarakat Indonesia," ungkap Imrohatus dalam pernyataan di Bandarlampung, Rabu.
Imrohatus memaparkan permasalahan seperti data ganda, proses verifikasi manual yang lambat, hingga dugaan korupsi bansos yang kerap mencuat setiap tahunnya, menjadi latar belakang utama lahirnya gagasan SIPANDU.
Tak hanya itu, fenomena sosial di lingkungan sekitar, seperti penyaluran bansos yang diberikan kepada kerabat atau pihak yang tidak berhak, juga menjadi perhatian serius tim.
Dalam proses pengembangan SIPANDU, tim memulai dengan riset mendalam terkait alur penyaluran bansos di Indonesia, tantangan-tantangan di lapangan, serta celah teknologi yang bisa dimanfaatkan, salah satunya dengan mengintegrasikan sistem blockchain.
Penggunaan blockchain menjadi keunggulan utama SIPANDU, karena menjadikan setiap transaksi dan penyaluran bansos tercatat secara permanen, transparan, dan tidak dapat dimanipulasi.
Lebih dari sekadar proyek PKM, SIPANDU menjadi bukti generasi muda mampu menciptakan solusi berkelanjutan untuk masalah bangsa. Mewakili tim, Imrohatus mengharapkan ke depan, inovasi ini dapat diimplementasikan secara nyata oleh lembaga atau pemerintah dalam proses distribusi bansos.
"Pikirkan bagaimana solusi kita sebagai generasi emas bisa diadopsi, siapa pengguna solusimu, dan bagaimana dampaknya bisa berkelanjutan. PKM adalah laboratorium terbaik untuk menguji ide, menempa mental, dan memulai langkah kecil untuk perubahan besar," ujarnya.
Pewarta : Satyagraha
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
