Logo Header Antaranews Lampung

Anak Badak Liar di Way Kambas Dijaga

Senin, 30 September 2013 21:34 WIB
Image Print

Lampung Timur (ANTARA LAMPUNG) - Keberadaan anak badak liar yang belum lama ini dipergoki telah lahir di hutan alami Taman Nasional Way Kambas Provinsi Lampung bila tidak diawasi dan dijaga dapat menjadi sasaran komplotan pemburu liar.

Karena itu, pihak TNWK di Kabupaten Lampung Timur menyatakan terus memantau temuan anak badak liar yang diketahui telah lahir secara alami di hutan taman nasional ini, agar tetap terjaga dan terlindungi dari berbagai ancaman.

"Kami akan terus memantau di sekitarnya tanpa harus mengikuti anak badak liar itu, karena justru akan mengganggunya," kata Kepala Humas dan Kerja sama TNWK Lampung Sukatmoko, di Bandarlampung, Senin (30/9).

Menurut dia, posisi anak badak liar bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis) itu saat ini masih dalam area lokasi temuan sebelumnya yang dinilai sangat mendukung untuk habitat satwa langka dan dilindungi ini.

Kawasan itu selain hutannya lebat, juga banyak kubangan di sekitarnya, untuk menjaga kelembaban tubuh badak liar itu.

Menurutnya, jika memantau dengan mengikuti anak badak bersama induknya justru akan mengganggu dan membuatnya kurang nyaman berada di wilayah itu, mengingat badak sangat sensitif jika mencium bau manusia.

Dia menyatakan bahwa, dengan luas taman nasional ini sangat mendukung untuk keberlangsungan hidupnya dan tim Rhino Protection Unit (RPU) Yayasan Badak Indonesia (YABI) akan selalu berpatroli di wilayah itu.

Luas TNWK, kata dia, tidak mengalami penyempitan yakni masih 125.621,30 hektare, dan kondisinya masih bagus, tidak ada perambahan, hanya di pinggiran savana yang rentan terbakar karena berbatasan dengan perladangan penduduk.

"Kebakaran terjadi jika tersulut api dari aktivitas oknum masyarakat atau perburuan liar dengan membakar hutan saat kemarau," katanya pula.

Ia menambahkan, sampai saat ini pihaknya tidak menemukan tanda-tanda perburuan badak liar itu, meskipun hal tersebut merupakan ancaman terbesar badak dan satwa liar lainnya di taman nasional tersebut.

Sebelumnya, pada Sabtu (21/9), tim patroli dari RPU YABI telah menemukan jejak anak badak liar, dan setelah mengikuti jejak tersebut selama tiga jam berhasil menemukan anak dan induk badak liar yang sedang berkubang.

Usia anak badak itu diperkirakan sekitar kurang dari dua pekan saat ditemukan dengan melihat hasil perbandingan dengan anak badak "Andatu" yang sebelumnya telah lahir di area penangkaran badak Suaka Rhino Sumatera/Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) Waykambas satu tahun lalu.

"Saat ini usia anak badak liar itu sekitar 1,5 bulan dan masih berada di alam sekitar tempat pertama kali ditemukan," kaya dia lagi.

TNWK dengan luas 125.621,30 hektare merupakan ekosistem alam bagi sejumlah satwa langka seperti gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), dan mentok rimba (Cairina scutulata).

Kawasan ini merupakan hutan tropis dataran rendah dengan ketinggian antara 50--110 meter di atas permukaan laut dengan mayoritas savana ilalang dan rawa.

Kawasan tersebut juga dikelilingi tiga sungai, yaitu Way Penet sepanjang 30 kilometer di selatan, Way Gadungan 65 kilometer di utara, dan Way Sukadana 18 kilometer di bagian barat.

Sedangkan di kawasan timur taman nasional terbentang pesisir sepanjang 65 kilometer.

Kondisi tersebut dianggap sangat potensial bagi tempat hidup gajah dan sejumlah satwa langka lainnya termasuk badak sumatera.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026