
Limbah pabrik kelapa sawit dapat disulap jadi pangan bernilai gizi tinggi dan pupuk organik

Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadikan kegiatan ini lebih berkelanjutan.
Bandarlampung (ANTARA) - Limbah sawit ternyata bisa menjadi sumber pangan bernilai tinggi. Di tengah melimpahnya tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang sering dianggap tidak berguna, dan dibuang begitu saja, sebuah inovasi lahir dengan pemanfaatan TKKS sebagai media tanam jamur merang.
Tim Program Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Lampung yang diketuai oleh Sri Astuti, S.E., M.M. ini membuktikan bahwa teknologi sederhana mampu memberi manfaat besar bagi ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
TKKS, yang biasanya hanya ditumpuk di perkebunan, memiliki kandungan lignoselulosa yang kaya—cocok untuk pertumbuhan jamur. Dengan teknik pencacahan, fermentasi singkat, hingga penambahan kapur dan urea, limbah ini diolah menjadi media tanam yang produktif. Hasilnya, jamur merang dapat tumbuh subur tanpa bergantung pada jerami padi yang ketersediaannya makin terbatas.
Kelompok Tani Jamur Merang Sawit yang berada di Desa Kalisari, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah merasakan langsung manfaatnya.
Melalui pelatihan, warga diajarkan cara menyiapkan kumbung, menanam bibit jamur, hingga panen. Teknologi ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga membuka peluang usaha baru. Jamur merang yang dihasilkan bisa dijual segar di pasar tradisional maupun restoran modern.
Yang lebih menggembirakan, pemasaran jamur merang dari TKKS sama sekali tidak mengalami kendala. Permintaan jamur di pasar domestik, khususnya di Jakarta dan sekitarnya, masih sangat tinggi.
Dari restoran, hotel, hingga rumah tangga, jamur merang segar selalu dicari karena rasanya enak, bergizi, dan cocok diolah menjadi berbagai masakan. Artinya, masyarakat tak hanya bisa berproduksi, tetapi juga punya pasar terbuka luas untuk menjual hasil panen mereka.
Namun, inovasi tak berhenti di sana. Masyarakat kemudian mengusulkan agar limbah bekas media jamur pun tidak dibuang begitu saja. Dari sinilah lahir ide baru untuk mengolah sisa media panen menjadi kompos organik.
Dengan proses pengomposan sederhana, limbah tersebut dapat berubah menjadi pupuk yang kaya unsur hara. Kompos ini bisa digunakan kembali untuk tanaman hortikultura, sayur-mayur, bahkan perkebunan sawit itu sendiri.
"Awalnya kami hanya fokus pada jamur. Tapi ternyata limbah setelah panen pun masih bermanfaat. Dengan diolah jadi kompos, kami bisa hemat biaya pupuk sekaligus kurangi sampah organik," ujar salah satu peserta program.
Program ini pun menuai apresiasi besar dari masyarakat. Mereka menilai bahwa kegiatan ini bukan hanya memberi tambahan pendapatan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata menuju teknologi zero waste di industri kelapa sawit.
Limbah yang dulunya menjadi beban lingkungan, kini justru menghasilkan pangan bergizi dan pupuk organik. Lebih dari itu, kegiatan ini telah menggerakkan pemberdayaan masyarakat: dari sekadar penerima manfaat menjadi pelaku utama dalam rantai produksi yang berkelanjutan.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadikan kegiatan ini lebih berkelanjutan. Tidak hanya menghasilkan jamur sebagai sumber pangan bergizi, tapi juga menciptakan siklus ramah lingkungan dari limbah ke limbah yang bernilai ekonomi.
Di era ketika isu pangan, pupuk mahal, dan lingkungan semakin mendesak, teknologi pembuatan jamur merang dari TKKS sekaligus pengolahan limbahnya menjadi kompos menghadirkan harapan baru: pangan sehat, pupuk murah, lingkungan lestari, dan masyarakat sejahtera.
*) Pengabdian Kepada Masyarakat; Oleh: Sri Astuti, S.E., M.M.; Prof. Dr. Ir. Sarono, M.Si.; Supriyanto, SP., M. Si. Politeknik Negeri Lampung.
Pewarta : Sri Astuti, S.E., M.M.; Prof. Dr. Ir. Sarono, M.Si.; Supriyanto, SP., M. Si.
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
