"Tattoo Malaysia Expo 2019" timbulkan kontroversi

id Tato Malaysia,wisata Malaysia

"Tattoo Malaysia Expo 2019"  timbulkan kontroversi

"Business Matching Aceh - Malaysia Tourism 2019" yang diselenggarakan di Hotel Vivatel Kuala Lumpur. Foto ANTARA/Agus Setiawan (1)

Kuala Lumpur (ANTARA) - Wakil Ketua Malaysian Association of Tour and Travel (MATTA) Selangor Wan Shairi Wan Ahmad secara pribadi menilai penyelenggara kegiatan "Tattoo Malaysia 2019" kurang peka terhadap kebudayaan di Semenanjung Malaysia sehingga menimbulkan kontroversi.

"Untuk acara kemarin, ini saya komen pribadi ya, sebenarnya bagus tapi organizer-nya kurang peka dengan kebudayaan di Semenanjung Malaysia," ujar Wakil Ketua MATTA Selangor, Wan Shabri Bin Wan Ahmad di Kuala Lumpur, Rabu, menanggapi tentang pertunjukan tato setengah telanjang.

Wan Shabri mengemukakan hal tersebut saat menghadiri "Business Matching Aceh - Malaysia Tourism 2019" yang diselenggarakan di Hotel Vivatel Kuala Lumpur.

"Sebenarnya di Malaysia ada 14 negeri. Di Sabah dan Sarawak banyak orang daerah Borneo sehingga tato itu sebenarnya budaya orang daerah juga. Kalau kita bilang tidak bisa itu kan budaya mereka," katanya.

Wan Shabri Bin Wan Ahmad juga menanyakan kepada Kementerian Pariwisata Seni dan Budaya Malaysia tentang kejadian tersebut.

"Saya juga bertanya masalah yang sama ke Tourism Malaysia. Sebenarnya saya juga pernah buat kegiatan dengan Tourism Malaysia, mereka mempunyai SOP sangat ketat tetapi saya juga tidak pasti mengapa bisa jadi acaranya begini," katanya.

Dia mengatakan Kementerian Pariwisata Seni dan Budaya Malaysia tidak mengetahui acara tersebut hingga kemudian ramai di sosial media.

"Tourism Malaysia tidak tahu hingga di-posting di sosial media. Itu yang membuat kita kaget sebenarnya image Malaysia jatuh setelah acara itu. Acara oke tetapi acara yang tidak bagus pihak tertentu akan mengambil kesempatan tetapi sejauh ini hal tersebut bukan budaya Malaysia," katanya.

Dia mengatakan selaku pelaku pariwisata pihaknya tidak menghendaki ada kegiatan yang aneh-aneh di Malaysia.

"Kita tidak mau budaya yang aneh-aneh melekat di sini. Harus sopan tato itu budaya," katanya.

Dia mengatakan acara tersebut sudah diproses oleh Kementerian Pariwisata Seni dan Budaya Malaysia.

"Kita serahkan kepada Kementrian Pelancongan atas budi bicara (perilaku) mereka untuk menghukum atau bagaimana kita serahkan mereka, cuma diharapkan itu bukan image sebenarnya kita," katanya.


 
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar