
Neraca Perdagangan Lampung Surplus

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Neraca perdagangan luar negeri Provinsi Lampung pada Oktober 2014 menunjukkan tren positif, dengan nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor atau mengalami surplus sebesar 165,5 juta dolar Amerika Serikat.
"Kondisi ini terjadi di tiga bulan terakhir namun berbeda dibandingkan neraca perdagangan Juli 2014 yang defisit 12,9 juta dolar," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung Adhi Wiriana, di Bandarlampung, Senin (1/12).
Ia mengatakan bahwa, neraca perdagangan yang surplus selam tiga bulan ini diharapkan terjadi hingga akhir tahun. Nilai ekspor Lampung periode itu terlapor mencapai 396,4 juta dolar, sedangkan impor 230,9 juta dolar. Artinya, neraca perdagangan surplus 165,5 juta dolar.
Nilai ekspor Oktober itu pun, lanjutnya, jika dibanding bulan sebelumnya naik 39,7 juta dolar atau 11,1 persen. Sedangkan impor kembali mengalami penurunan 100,7 juta dolar atau 30,3 persen dibanding pada September.
Neraca perdagangan Oktober 2014 untuk kawasan ASEAN mengalami defisit 20,3 juta dolar. Penyebab utamanya adalah impor minyak dan gas dari Singapura yang defisit mencapai 38 juta dolar. "Satu-satunya neraca perdagangan yang surplus adalah dengan kawasan Eropa mencapai 137,7 juta sedang enam negara utama lainnya mengalami defisit hingga 68,8 juta," ujarnya.
Adhi mengatakan bahwa neraca perdagangan di negara utama bulan ini mampu surplus 165,5 juta. Pada periode Januari--Oktober 2014, neraca perdagangan mengalami surplus 291,5 juta dolar. Hal ini terjadi disebabkan surplus yang tinggi Uni Eropa sehingga menyebabkan total impor lebih rendah dari total ekspor.
Kepala BPS Lampung itu menjelaskan pada periode Januari--Oktober kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung terus membaik dibandingkan Juli dan sebelumnya yang selalu defisit.
Pewarta : Agus Wira Sukarta
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
