PKBI Lampung: Perhatikan Hak Kespro Remaja

id PKBI Lampung Hak Kespro Remaja

PKBI Lampung: Perhatikan Hak Kespro Remaja

Pelatihan "Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR) Training untuk Pengurus Harian Daerah, Pengurus Harian Cabang dan staf PKBI Lampung" selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (14--16/11). (FOTO: ANTARA Lampung/Budisantoso Budiman)

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Lampung kembali mengingatkan perlu perhatian pihak terkait terhadap hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi, karena berdampak pada rendahnya pemenuhan atas pendidikan dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang komprehensif khususnya bagi para remaja.

Menurut Direktur Pelaksana Daerah PKB Lampung Herdi Mansyah AIB, mendampingi Ketua Harian Daerah PKBI Lampung yang baru, Hj Nuraeni Effendi, di Bandarlampung, Minggu (16/11), hingga saat ini masih kurang tersedia dukungan sarana dan prasarana yang ramah remaja, sehingga mendorong para remaja justru diam-diam atau terang-terangan malah mengaksesnya dari sumber-sumber yang tidak tepat, seperti majalah dan sarana pornografi.

Padahal, ujar Herdi Mansyah lagi, remaja adalah generasi penerus dan akan menentukan kualitas generasi selanjutnya. "Jika perilaku seksual remaja sekarang sudah sangat memprihatinkan, bagaimana dengan generasi penerus selanjutnya, kalau dibiarkan dapat terjadi `lost generation` bila tidak benar-benar ditangani dengan baik," katanya lagi.

Ia mengungkapkan fakta risiko reproduksi dan seksual yang masih terus menjadi persoalan di kalangan anak muda di Indonesia. Banyak kajian membuktikan bahwa faktor perilaku sosial menjadi pemicu munculnya risiko tersebut, katanya.

Dia menyebutkan, angka kehamilan tidak dikehendaki (KTD) di kalangan anak muda yang masih menjadi momok. Data makro dari UNFPA (Badan Kependudukan Dunia PBB) tahun 2008 menunjukkan sepertiga dari sekitar 200 juta kehamilan setiap tahun adalah akibat KTD dari pasangan yang menikah atau pun tidak, dan 200 perempuan meninggal setiap hari karena komplikasi akibat aborsi.

"Dari 50 juta pengguguran kandungan yang dilakukan, 20 juta di antaranya dilakukan dengan tidak aman," kata Herdi Mansyah pula.

Memang kita tidak dapat menemukan data akurat di Indonesia karena isu ini cenderung ditutup-tutupi walaupun semua mengakui bahwa isu ini masih belum terselesaikan, katanya.

Herdi menyebutkan pula prevalensi HIV (Human Imune Virus-virus penyebab AIDS) dan AIDS (Acquired Imuno Deficiency Syndrome) di kalangan orang muda tampak semakin meningkat.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan jumlah akumulatif kasus AIDS dari tahun 1987 sampai awal 2012 sebanyak 30.430 dengan persentase kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20--29 tahun (46 persen). Sedangkan data kasus HIV/AIDS di Provinsi Lampung adalah 1.445 kasus, di antaranya 1.006 positif terinfeksi HIV dan 439 kasus AIDS.

Berkaitan isu sensitif dan krusial tersebut, PKBI Lampung mengingatkan dan mengajak semua pihak untuk memberi perhatian pada penanganan secara komprehensif hak seksual dan kesehatan reproduksi khususnya bagi remaja di daerah ini.

Selain mengajak masyarakat luas, PKBI Lampung yang telah memiliki kepengurusan baru hasil Musda ke-9 pada 13--14 September 2014 yang dipimpin Ketua Hj Nuraeni Effendi, Sekretaris Teguh Budi Rajarjo, Bendahara Usmiyat, dan jajaran pengurus lengkap lainnya yang sudah disahkan dari Pengurus Nasional PKBI, untuk dapat menjalankan program terkait permasalahan tersebut.

Pengurus baru PKBI Lampung juga mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan "Sexual and Reproductive Health and Rights (SRHR) Training untuk Pengurus Harian Daerah, Pengurus Harian Cabang dan staf PKBI Lampung" selama tiga hari, Jumat (14/11) hingga Minggu.

"Mudah-mudahan PKBI Lampung bersama jajaran dengan kepengurusan baru ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap berbagai persoalan kependudukan, keluarga berencana, dan permasalahan dihadapi remaja berkaitan hak seksual dan kesehatan reproduksi maupun permasalahan terkait lainnya dihadapi masyarakat di daerah ini," ujar Hj Nuraeni Effendi.
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar