
Kronologis Bentrok Brimob-Warga di Sumsel

Tim Advokasi juga merilis, telah terdapat 30 warga yang mengalami tindakan kekerasan oleh aparat Brimob Polda Sumsel, sehingga mengalami kerugian materil dan kehilangan rasa aman bagi masyarakat desa."
Palembang (ANTARA LAMPUNG) - Sedikitnya satu orang warga, pelajar SMP, diketahui meninggal dunia, dan beberapa korban luka-luka, akibat bentrokan antara aparat kepolisian Polda Sumsel dengan warga di Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan (Sumsel), Jumat (27/7) petang. Aparat kepolisian sedang menjalankan tugas pengamanan di lokasi sengketa lahan dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Usaha Cinta Manis.
Berikut kronologis kejadian bentrok itu, versi Tim Advokasi yang dibentuk bersama oleh LSM dan elemen masyarakat dalam kasus tersebut:
Setelah pada Kamis (26/7), pasukan Brimob Polda melakukan penggeledahan terhadap rumah-rumah penduduk di Desa Sri Bandung, dilakukan pula penangkapan tiga orang warga yang dituduh melakukan pencurian pupuk milik PTPN VII.
Hari Jumat (27/7) ini, pada siang menjelang Salat Jumat, ratusan aparat Brimob kembali mendatangi dan melakukan "sweeping" di tiga desa, di antaranya Desa Betung, Desa Sri Tanjung, dan Desa Sri Kembang, kemudian menangkap sedikitnya dua orang petani dari Desa Sri Tanjung.
Pukul 16.00 WIB, ratusan Brimob bersenjata lengkap mengendarai sedikitnya 23 mobil truk kembali mendatangi Desa Limbang Jaya. Warga yang melihat ratusan anggota Brimob memasuki desa mereka, akhirnya secara beramai-ramai mendatangi personel kepolisian tersebut dengan maksud menanyakan kepentingan memasuki desa mereka.
Namun melihat banyak warga mendatangi mereka, pasukan Brimob bersenjata lengkap itu mendadak langsung mengeluarkan tembakan ke arah warga. Bentrok antara Brimob dengan warga pun tak dapat dihindari.
Karena tembakan secara membabi-buta yang dilakukan oleh aparat Brimob tersebut, seorang anak berumur 13 tahun yang masih bersekolah kelas 1 SMP, Angga bin Darmawan tewas tertembak di kepalanya. Angga tertembak saat keluar dari tempat permainan play station, karena mendengar keramaian petugas.
Salah satu saksi, Saidi, yang melihat korban Angga tewas langsung mencoba mengangkat jasad bocah ini, namun tiba-tiba anggota Brimob mendatangi dia seraya menodongkan senjata kepada Saidi dan meminta untuk segera melepaskan mayat tersebut. Saidi pun langsung meletakkan mayat tersebut, dan dia juga meminta oknum Brimob itu sekalian menembaknya.
Berdasarkan hasil investigasi tim advokasi, jumlah korban dalam kondisi kritis akibat tembakan petugas sebanyak lima orang, dua orang perempuan, seorang remaja berumur 16 tahun, Jesica cucu dari anggota DPRD Ogan Ilir, satu orang ibu. Satu orang lagi bernama Rusman bin Alimin dalam kondisi kritis. Semua korban saat ini sedang berada di Puskesmas Tanjung Batu, dan korban Angga dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Palembang. Saat ini ratusan personel Brimob dengan senjata lengkap masih berada di lokasi Desa Tanjung Pinang.
Nama Nama Korban:
1. Angga bin Darmawan 12 tahun tertembak di kepala
2. Jesica 16 tahun
3. Rusman bin Alimin (kritis) saat ini belum diketahui berada dimana
4. Dua orang perempuan belum diketahui identitasnya
5. Satu orang ibu.
Pernyataan Sikap
Tim Advokasi Kasus Penembakan Brimob Polda Sumsel terhadap warga Desa Limbang Jaya, Ogan Ilir, Sumsel telah menggelar konferensi pers di seketariatan Walhi Sumsel di Palembang, Jumat (27/7) sekitar pukul 22.00 WIB.
Beberapa organisasi perwakilan masyarakat yang hadir di antaranya,
1. Serikat Hijau Indonesia
2. Walhi Sumsel
3. Lembaga Perlindungan Anak Sriwijaya
4. Serikat Petani Seluruh Indonesia (SPSI)
5. Perserikatan OWA Indonesia
6. Majelis LSM Sumsel
7. Anggota Forum Walhi Sumsel
Karena itu, kami menuntut atas tindakan brutal yang dilakukan Brimob Polda Sumsel, di antaranya :
1. Melakukan pemecatan terhadap seluruh jajaran kepolisian, mulai dari kepolisian daerah (Polda) hingga kapolsek di Kabupaten Ogan Ilir
2. Membubarkan PTPN VII Cinta Manis
3. Meminta pertanggungjawaban bupati Ogan llir untuk mencabut HGU PTPN VII Cinta Manis
4. Walhi Sumsel juga menghimpun pendanaan terhadap korban dan keluarga atas tindakan premanisme personel Brimob tersebut.
Dalam konferensi pers tersebut, Ketua DPRD Ogan Ilir, Muhammad Gunhar, diminta untuk melakukan pengecaman dan meminta secara khusus tindakan tegas berupa sanksi bagi personel Brimob yang melakukan tindakan represif. Perwakilan pengacara Palembang, Mualimin Pardi mendesak jajaran kepolisian untuk menarik aparatnya di wilayah desa yang berada di sekitar PTPN VII Cinta Manis.
Tim Advokasi juga merilis, telah terdapat 30 warga yang mengalami tindakan kekerasan oleh aparat Brimob Polda Sumsel, sehingga mengalami kerugian materil dan kehilangan rasa aman bagi masyarakat desa.
Akademisi Tarech Rasyid menegaskan Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin wajib bertanggungjawab atas bentuk kekerasan yang terjadi dan dialami warga desa di Kabupaten Ogan Ilir, untuk mengedepankan keberpihakan kepada rakyat dan bukan perusahaan.
Polda Minta Tetap Tenang
Kepolisian Daerah Sumsel mengharapkan warga di Kabupaten Ogan Ilir di sekitar PT Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Cinta Manis tetap tenang, menyusul bentrokan aparat kepolisian dengan masyarakat Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjungbatu, Ogan Ilir, Jumat petang.
Masyarakat kami harapkan tetap tenang, dan jangan mudah terpancing isu yang belum tentu kebenarannya, kata Kabid Humas Polda Sumsel, AKBP R Djarod P, saat dihubungi di Palembang, Jumat malam.
Djarod membenarkan adanya kejadian perselisihan atau bentrokan antara aparatnya dengan warga setempat.
Namun hal itu sudah dapat dikendalikan, kata dia.
Menurut dia, dalam kejadian tersebut seorang warga setempat meninggal akibat terkena peluru nyasar.
Selain itu, ada tiga warga lainnya yang mengalami luka-luka, dan telah dibawa ke rumah sakit.
Dia menegaskan, atas kejadian tersebut, pihaknya masih akan terus menyelidiki dan memastikan bila benar aparatnya bersalah, akan diproses sesuai hukum berlaku.
"Kami tetap akan menindak bila ada anggota bersalah atas kejadian tersebut," ujar dia lagi.
Namun, berdasarkan keterangan anggotanya di lapangan itu telah melakukan pengamanan sesuai petunjuk dan prosedur hukum yang berlaku.
Djarod menegaskan bahwa bentrokan yang terjadi di Ogan Ilir itu sudah bisa dikendalikan, dan sekarang ini kondisi keamanan di lokasi kejadian sudah kondusif.
Bentrokan diduga terjadi karena warga menghadang aparat kepolisian yang sedang bertugas di sekitar kawasan tempat kejadian tersebut, kata Djarot pula.
Ia juga membenarkan, saat ini pengamanan di lokasi kejadian, diperketat agar kondisinya tetap aman dan untuk mengantisipasi supaya kejadian itu tidak berkembang lebih lanjut.
Menurut Djarot, jajaran Polda Sumsel akan terus mengantisipasi supaya kondisi keamanan di lokasi kejadian tetap aman, dan permasalahan yang terjadi tidak berkembang meluas lagi.
Pewarta :
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
