
"Andatu", Anak Badak Sumatera di SRS TNWK

"Kelahiran badak ini menjadi tonggak keberhasilan pelestarian badak Sumatera, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap upaya konservasi badak di tanah air kita," ujar Menhut lagi.
Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Badak Sumatera bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis) di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Provinsi Lampung, telah melahirkan anak berkelamin jantan yang diberi nama "Andatu".
Kelahiran anak badak Andatu, Sabtu (23/6), pukul 00.45 WIB itu merupakan yang pertama sejak upaya konservasi pengembangbiakan (breeding conservation) "semi in-situ" di Asia 124 tahun silam, sehingga peristiwa ini menjadi tonggak sejarah bagi upaya pelestarian badak Sumatera, kata Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, di Jakarta, Senin.
Menhut mengumumkan pula, nama badak Sumatera tersebut dalam konferensi pers di kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta itu, dari semula alternatif nama sebanyak tiga pilihan untuk bayi badak itu.
Menurut Zulkifli, Menteri yang juga putra Lampung itu, pilihan pertama adalah "Abadi", mengingat kelahiran badak Sumatera di tanah asalnya ini sudah dinantikan sejak lama.
Pilihan kedua adalah "Andatu", merupakan singkatan dari Andalas dan Ratu (induk anak badak ini), sekaligus bermakna anugerah dari Tuhan.
Ketiga adalah "Arjuna", berarti anak dari Andalas dan Ratu yang lahir di bulan Juni tahun 2012.
"Saya kira yang paling tepat adalah Andatu, buah kasih sayang dari Andalas dan Ratu, serta anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa. Jadi, itu yang saya pilih," kata Zulkifli Hasan lagi.
Kelahiran badak Sumatera ini menandai keberhasilan dalam konservasi badak dunia yang telah ratusan tahun ditunggu-tunggu hasilnya.
"Kelahiran badak ini menjadi tonggak keberhasilan pelestarian badak Sumatera, sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap upaya konservasi badak di tanah air kita," ujar Menhut lagi.
Andatu kini dalam kondisi sehat dan diharapkan bisa dilihat kalangan lebih luas sekitar dua minggu lagi, walaupun masih secara terbatas.
Menurut Menhut, keberhasilan kelahiran anak badak itu, sekaligus diharapkan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan dunia internasional terhadap upaya pemerintah dalam melestarikan satwa langka dunia.
Anak badak tersebut hasil perkawinan dari badak jantan Andalas (11 tahun) yang lahir di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat, pada tahun 2001, dan badak betina Ratu (12 tahun) dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung.
Sebelumnya, kata dia, induk badak itu telah mengandung dua kali dari hasil pasangan yang sama, tetapi semuanya mengalami keguguran.
Badak Andalas didatangkan SRS dari kebun binatang Cincinnati pada Februari tahun 2007, dan sejak itu dipasangkan dengan Ratu.
Selama masa kehamilan (15--16 bulan) dan proses kelahiran, induk dan anak badak itu dirawat, diperiksa, dan dimonitor secara intensif oleh tim perawat (keeper) dan dokter hewan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan Taman Safari Indonesia, serta dokter hewan dari International Rhino Foundation (IRF), Kebun Binatang Cincinnati AS, Tarongan WPZ Australia, dan White Oak Conservation Centre Amerika.
Seluruh proses kehamilan sampai kelahiran badak tersebut didokumentasikan untuk bahan evaluasi, kata Menhut pula.
Kehadiran pengunjung di lokasi sekitar SRS juga sangat dibatasi, agar tidak menimbulkan gangguan, khususnya menjelang kelahiran, kata dia lagi.
Saat ini, Indonesia memiliki dua jenis badak Asia dari lima jenis badak yang masih tersisa di dunia, yaitu badak Jawa bercula satu (Rhinoceros sundaicus) dengan populasi tersisa sekitar 50 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dan 200 ekor badak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), TN Gunung Leuser, dan beberapa kawasan hutan alam di Sumatera, dan Sabah, Malaysia.
Kedua satwa tersebut merupakan jenis badak yang paling langka dan terancam punah karena berkurang habitat maupun akibat perburuan liar.
International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) pada tahun 2006, memasukkan keduanya sebagai hewan dengan katagori status konservasi kritis (critically endangered).
"Keberadaan dua jenis satwa langka ini membawa konsekuensi dan tanggung jawab kita semua untuk pelestariannya," kata Zulkifli Hasan lagi.
Penyelamatan kedua jenis badak itu secara umum telah dirumuskan dalam Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 43 Tahun 2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Periode 2007-2017.
Aturan itu telah diimplementasikan melalui berbagai kegiatan konservasi dari Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kemenhut dan mitra terkait, seperti YABI dan IRF.
Suaka Rhino Sumatera di TNWK merupakan kawasan untuk program konservasi pengembangbiakan seluas 100 hektare dan dikelilingi pagar listrik setinggi 1,5 meter, dilengkapi dengan prasarana yang memadai.
Program konservasi pengembangbiakan di TNWK Lampung itu dipastikan akan menjadi model dalam pelaksanaan rencana pembangunan Java Rhino Study Conservation Area (JRSA) bagi upaya pelestarian badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, kata Menhut pula.
Buah Dedikasi Tinggi
Menanggapi keberhasilan kelahiran badak jantan dari SRS TNWK itu, drh Marcellus Adi CTR, selaku praktisi senior konservasi badak dan peneliti badak sejak tahun 1988 yang pernah bekerja di SRS TNWK sebagai Site Manager (2000-2008), menyampaikan ucapan selamat kepada pengelola SRS yang berhasil membuat badak Ratu mengalami kehaliman (bunting), dan akhirnya melahirkan bayi badak Sumatera pertama di Indonesia, Andatu.
"Buat saya yang dulu pernah lama kerja di sana, terutama untuk para keeper atau perawat badak harus yang paling diapresiasi, mengingat mereka orang-orang setempat yang sederhana, namun sangat berdedikasi, semangat belajar dan berkembang tinggi, menunggui badaknya siang malam. Salut!," kata dia.
Dia juga mengaku pernah mengusulkan, agar badak Sumatera tidak selayaknya diteruskan dipelihara di kebun binatang, tapi selayaknya dilepas kembali atau dipelihara secara lebih alami, karena variasi spesies makanan banyak, kandang lebih luas, karena badak Sumatera merupakan satwa 'soliter' dan penjelajah serta butuh variasi ruang untuk beraktivitas, termasuk variasi jenis daun makanan mereka.
"Mereka menderita dan stress di lokasi yang kurang ruang jelajah atau space-nya, kurang variasi makanan, banyak pencemaran, dsb-nya," ujar dia lagi.
Tentu saja, kata Marcellus, menjadi saksi langsung dan sebagai pengelola SRS sejak badak-badak itu masuk lokasi SRS adalah pengalaman tak terlupakan.
Membuktikan sendiri, melihat betapa senangnya mereka diberikan kandang minimal lima hektar per ekor badak di hutan asli habitat badak Sumatera itu, jelas jauh berbeda dengan kondisi mereka ketika di kebun-kebun biantang dan taman safari, kata dia.
Berkaitan dengan penilaian bahwa kelahiran anak badak itu justru seperti ditutup-tutupi, Marcellus mengaku tidak tahu hal tersebut.
Menyusul kabar adanya kelahiran bayi badak itu, Sabtu (23/6) dinihari, sejumlah pihak yang dikonfirmasi ANTARA, kendati membenarkan kabar tersebut namun masih enggan menjelaskannya, termasuk pihak pengelola SRS TNWK di lokasi penangkaran badak itu.
Alasannya, penjelasan resmi akan disampaikan langsung oleh Menteri Kehutanan di Jakarta, Senin (25/6).
Menurut Marcellus, bila dibandingkan dengan kedatangan badak Andalas, Februari 2007 dulu, dibawa dari kebun binatang di AS, segala hal sudah diantisipasi, termasuk setelah perjalanan panjang, di depan kandangnya akhirnya Andalas langsung bisa dilihat, diambil gambarnya oleh semua wartawan yang ikut konvoi dari Bandara Soekarno-Hatta ke TNWK di Lampung.
Menurut dia, mungkin saja sekarang kurang antisipatif saja.
"Seharusnya bisalah terbuka, badak adalah domain publik, wajar semua orang ingin tahu. Tidak perlu dieksklusifkan. Badak Sumatera milik dunia, jadi milik semua penghuni bumi," kata Marcellus lagi.
Dia menyatakan, seharusnya bisa diatur, misalnya jauh-jauh hari media massa dan wartawan sudah didaftar dan siap diundang.
Lalu ketika hari H terjadi, beberapa jam sesudahnya semua bisa diundang ke lokasi walau belum bisa lihat badaknya tapi bisa datang ke SRS karena di sana ada ruang cukup.
"Wartawan 'kan cepat. Dan bisa wawancara di sana sambil menyaksikan video kelahiran. Ratu dan anaknya jelas belum bisa dilihat langsung, tapi foto dan video bisa dibuat pengelola dan dibagikan. Seluruh dunia lihat dalam waktu tidak terlalu lama," ujar dia.
Marcellus mengatakan, di SRS TNWK itu tersedia jaringan internet dan penguat sinyal GSM, sehingga saat itu juga berita dan foto sudah dilihat dibaca, ditonton dan dilihat dunia menjadikan Way Kambas dan Indonesia terkenal di dunia.
"Kan sesuai dengan Tahun Badak International 2012," kata dia pula.
Namun, karena dinilai tidak diantisipasi sebelumnya, menurut Marcellus, terjadi seperti kemarin, wartawan Metro TV yang datang jauh-jauh ke lokasi, justru dilarang masuk gerbang TNWK.
Padahal menurut dia, hal itu tidak perlu terjadi.
Kendati begitu, menurut Marcellus yang pernah bergabung di Yayasan Badak Indonesia (YABI) hingga tahun 2009, bagaimana pun sekali lagi kita perlu memberi selamat kepada pengelola SRS terutama para perawat badak yang pasti telah menunggui siang malam, atas kelahiran bayi badak, anak Ratu yang fenomenal ini.
"Semoga segera terjadi konsolidasi semua pekerja dan pendukung konservasi badak Sumatera di penjuru dunia, dengan komitmen penuh untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi badak-badak Sumatera di penangkaran," ujar dia lagi.
Peneliti badak yang sejak tahun 2010 aktif di ALeRT (Aliansi Lestari Rimba Terpadu) kerja sama dengan PEH Balai TNWK Lampung itu berharap, semoga Ratu dan bayinya, Andatu, dan semua badak Sumatera di penangkaran tetap sehat, dan yang di alam lebih serius dilindungi dengan cara-cara yang benar.
Pewarta :
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
