Harga rajungan di Lampung Timur capai Rp100 ribu per kg
Sabtu, 19 Februari 2022 14:31 WIB
Seorang nelayan tengah melepas kepiting rajungan dari jaring di kampung nelayan Desa Margasari. Lampung Timur, Sabtu (19/2/2022). ANTARA/Muklasin.
Bandarlampung (ANTARA) - Harga rajungan di Kabupaten Lampung Timur mengalami peningkatan harga menjadi Rp100 ribu per kilogram di tengah musim tangkap, sebelumnya harganya Rp50.000 - Rp60.000 per Kg.
"Harga kepiting rajungan di tingkat nelayan pada Januari ini, mencapai Rp100 ribu per kilogram. Hal ini jadi berkah untuk nelayan sekitar," ujar seorang nelayan jaring kepiting rajungan, Kusnadi di Desa Margasari, Lampung Timur, Sabtu.
Ia mengatakan, di tahun sebelumnya harga rajungan hanya berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram dengan jumlah tangkapan yang sedikit.
"Kalau sekarang, harga kepiting rajungan Rp80 ribu sampai Rp100 ribu per kilogram, isinya campur, ada yang ukuran kepiting besar dan sedang. Tangkapan juga melimpah," katanya.
Menurut Kusnadi, selain tangkapan kepiting rajungan yang sedang melimpah, hasil tangkapan lainnya pun tengah melimpah.
"Tahun ini selain rajungan, nelayan penangkap cumi juga lagi banyak," sebutnya.
Selain peningkatan harga jual rajungan, para nelayan juga mengalami peningkatan jumlah tangkapan akibat datangnya musim angin barat.
"Sekali melaut, seorang nelayan bisa mendapat rata-rata 10 sampai dengan 20 kilogram," kata nelayan rajungan lainnya, Kasmin.
Menurut dia, pada musim angin barat tahun lalu, hasil tangkapan nelayan sekitar hanya sedikit, berkisar 2 kilogram sampai 5 kilogram sekali melaut, namun pada musim angin tahun ini, bisa memperoleh puluhan kilogram.
"Karena menjelang awal tahun hujan turun merata jadi rajungan banyak, sebab hal itu berdampak langsung pada perkembangan kepiting rajungan di zona tangkap kepiting, dan saat ini harga jualnya pun lumayan naik," katanya.
Dengan melimpahnya tangkapan serta meningkatnya harga jual tersebut juga berdampak positif pada ketersediaan pasokan rajungan bagi pelaksanaan ekspor.
Aan, seorang pengepul kepiting rajungan menyebutkan, rajungan merupakan komoditas ekspor, sehingga kepiting rajungan yang dibeli dari para nelayan akan diolah terlebih dahulu di miniplan (tempat pengolahan kepiting rajungan) untuk diambil dagingnya.
"Setelah pengolahan lalu dijual kembali dalam bentuk daging ke pabrik-pabrik pengolah kepiting rajungan di wilayah Jawa, untuk di ekspor ke luar negeri salah satunya Amerika Serikat," ujarnya
Berdasarkan dara BKIPM pada Januari hingga Agustus 2021 volume ekspor perikanan Lampung tercatat nilai total ekspor perikanan mencapai Rp1,7 triliun, dengan total volume 12.207.748 ton, dan frekuensi ekspor 1.117 kali.
Dan dari lima komoditas perikanan yang menjadi andalan, rajungan berkontribusi menyumbang nilai ekspor sebesar Rp173 miliar dengan volume ekspor mencapai 576 kilogram.
"Harga kepiting rajungan di tingkat nelayan pada Januari ini, mencapai Rp100 ribu per kilogram. Hal ini jadi berkah untuk nelayan sekitar," ujar seorang nelayan jaring kepiting rajungan, Kusnadi di Desa Margasari, Lampung Timur, Sabtu.
Ia mengatakan, di tahun sebelumnya harga rajungan hanya berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram dengan jumlah tangkapan yang sedikit.
"Kalau sekarang, harga kepiting rajungan Rp80 ribu sampai Rp100 ribu per kilogram, isinya campur, ada yang ukuran kepiting besar dan sedang. Tangkapan juga melimpah," katanya.
Menurut Kusnadi, selain tangkapan kepiting rajungan yang sedang melimpah, hasil tangkapan lainnya pun tengah melimpah.
"Tahun ini selain rajungan, nelayan penangkap cumi juga lagi banyak," sebutnya.
Selain peningkatan harga jual rajungan, para nelayan juga mengalami peningkatan jumlah tangkapan akibat datangnya musim angin barat.
"Sekali melaut, seorang nelayan bisa mendapat rata-rata 10 sampai dengan 20 kilogram," kata nelayan rajungan lainnya, Kasmin.
Menurut dia, pada musim angin barat tahun lalu, hasil tangkapan nelayan sekitar hanya sedikit, berkisar 2 kilogram sampai 5 kilogram sekali melaut, namun pada musim angin tahun ini, bisa memperoleh puluhan kilogram.
"Karena menjelang awal tahun hujan turun merata jadi rajungan banyak, sebab hal itu berdampak langsung pada perkembangan kepiting rajungan di zona tangkap kepiting, dan saat ini harga jualnya pun lumayan naik," katanya.
Dengan melimpahnya tangkapan serta meningkatnya harga jual tersebut juga berdampak positif pada ketersediaan pasokan rajungan bagi pelaksanaan ekspor.
Aan, seorang pengepul kepiting rajungan menyebutkan, rajungan merupakan komoditas ekspor, sehingga kepiting rajungan yang dibeli dari para nelayan akan diolah terlebih dahulu di miniplan (tempat pengolahan kepiting rajungan) untuk diambil dagingnya.
"Setelah pengolahan lalu dijual kembali dalam bentuk daging ke pabrik-pabrik pengolah kepiting rajungan di wilayah Jawa, untuk di ekspor ke luar negeri salah satunya Amerika Serikat," ujarnya
Berdasarkan dara BKIPM pada Januari hingga Agustus 2021 volume ekspor perikanan Lampung tercatat nilai total ekspor perikanan mencapai Rp1,7 triliun, dengan total volume 12.207.748 ton, dan frekuensi ekspor 1.117 kali.
Dan dari lima komoditas perikanan yang menjadi andalan, rajungan berkontribusi menyumbang nilai ekspor sebesar Rp173 miliar dengan volume ekspor mencapai 576 kilogram.
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi/Muklasin
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkot Bandarlampung prioritaskan pemasangan lampu jalan untuk tekan aksi kriminal
27 January 2026 21:30 WIB
Terpopuler - Komoditas
Lihat Juga
Promo bulan Ramadhan, PLN beri diskon tambah daya hingga 5.500 VA hanya Rp200 ribu
23 March 2023 10:04 WIB, 2023
Kementan gulirkan PSR untuk tingkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit
16 March 2023 20:22 WIB, 2023
Pertamina gandeng Grab hadirkan layanan pesan antar BrightGas melalui GrabMart
16 March 2023 15:37 WIB, 2023
Pupuk Indonesia salurkan 1,42 juta ton pupuk bersubsidi dari Januari hingga Maret
09 March 2023 22:32 WIB, 2023
Pertamina apresiasi masyarakat Lampung dukung penyaluran BBM tepat sasaran
09 March 2023 17:20 WIB, 2023