Ternak babi mati mendadak di Kabupaten Tapanuli Utara
Rabu, 9 Oktober 2019 17:43 WIB
Petugas Bidang Peternakan Dinas Pertanian Taput melakukan tindakan pencegahan penyebaran dugaan virus toga penyebab penyakit hogcholera pada ternak babi, di wilayah Tapanuli Utara. (ANTARA /Rinto Aritonang)
Taput (ANTARA) - Puluhan ternak babi di sejumlah desa di Kecamatan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, mati mendadak yang diduga akibat virus toga yang mengakibatkan penyakit "hogcholera" .
Terkait hal tersebut, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Tapanuli Utara, Ronny Hutasoit, Rabu, mengimbau warga untuk tidak megimpor ternak babi dari daerah terjangkit penyakit ternak.
Hal itu dilakukan sebagai salah satu langkah pencegahan penyebaran virus yang terindikasi menjadi penyebab matinya puluhan ternak di sejumlah desa di Kecamatan Siatas Barita.
"Kita imbau, warga tidak impor ternak babi dari luar daerah yang telah lebih dahulu terjangkit penyakit seperti dari Dairi, dan Humbang Hasundutan," katanya.
Baca juga: 200 babi dimusnhkan di Thailand di tengah kehawatiran demam babi Afrika
Sebab, kata dia, tindakan pencegahan atas penyakit tersebut dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, tidak memasukkan ternak dari luar daerah yang terindikasi terjangkit, serta melakukan vaksinasi.
Ronny mengungkapkan, untuk saat ini, pihaknya telah melakukan dua langkah sekaligus dalam menyikapi fenomena puluhan babi mati mendadak yang terjadi di Desa Simorangkir, Desa Panggabean, dan Desa Enda Portibi, Siatas Barita, Tapanuli Utara.
"Di daerah terjangkit, kita telah melakukan pengobatan atas ternak warga melalui pemberian vitamin dan antivirus. Sementara, untuk ternak warga di luar Kecamatan Siatasbarita, sedang dilakukan vaksinasi," jelasnya.
Baca juga: Yunani larang impor daging babi asal Bulgaria
Menurutnya, berdasarkan ciri-ciri yang terlihat dari anatomi ternak, matinya ternak babi di wilayah Siatas Barita disebabkan oleh penularan jenis virus toga yang mengakibatkan penyakit "hogcholera" .
Hal tersebut menjadi kesimpulan sementara pihaknya sembari menunggu penyebab pasti berdasarkan sampel darah ternak terjangkit yang telah diambil oleh petugas laboratorium Balai Veteriner Medan, pada pekan lalu.
"Jika penyebabnya adalah virus toga, maka dapat dipastikan jika virus tersebut tidak 'zoonosis' atau menular kepada manusia," katanya.
Baca juga: Kasus flu babi Afrika terjadi di Laos
Terkait hal tersebut, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Tapanuli Utara, Ronny Hutasoit, Rabu, mengimbau warga untuk tidak megimpor ternak babi dari daerah terjangkit penyakit ternak.
Hal itu dilakukan sebagai salah satu langkah pencegahan penyebaran virus yang terindikasi menjadi penyebab matinya puluhan ternak di sejumlah desa di Kecamatan Siatas Barita.
"Kita imbau, warga tidak impor ternak babi dari luar daerah yang telah lebih dahulu terjangkit penyakit seperti dari Dairi, dan Humbang Hasundutan," katanya.
Baca juga: 200 babi dimusnhkan di Thailand di tengah kehawatiran demam babi Afrika
Sebab, kata dia, tindakan pencegahan atas penyakit tersebut dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, tidak memasukkan ternak dari luar daerah yang terindikasi terjangkit, serta melakukan vaksinasi.
Ronny mengungkapkan, untuk saat ini, pihaknya telah melakukan dua langkah sekaligus dalam menyikapi fenomena puluhan babi mati mendadak yang terjadi di Desa Simorangkir, Desa Panggabean, dan Desa Enda Portibi, Siatas Barita, Tapanuli Utara.
"Di daerah terjangkit, kita telah melakukan pengobatan atas ternak warga melalui pemberian vitamin dan antivirus. Sementara, untuk ternak warga di luar Kecamatan Siatasbarita, sedang dilakukan vaksinasi," jelasnya.
Baca juga: Yunani larang impor daging babi asal Bulgaria
Menurutnya, berdasarkan ciri-ciri yang terlihat dari anatomi ternak, matinya ternak babi di wilayah Siatas Barita disebabkan oleh penularan jenis virus toga yang mengakibatkan penyakit "hogcholera" .
Hal tersebut menjadi kesimpulan sementara pihaknya sembari menunggu penyebab pasti berdasarkan sampel darah ternak terjangkit yang telah diambil oleh petugas laboratorium Balai Veteriner Medan, pada pekan lalu.
"Jika penyebabnya adalah virus toga, maka dapat dipastikan jika virus tersebut tidak 'zoonosis' atau menular kepada manusia," katanya.
Baca juga: Kasus flu babi Afrika terjadi di Laos
Pewarta : Juraidi dan Rinto
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Babi yang mati mendadak di Maua Hilia Agam positif terpapar flu babi Afrika
24 December 2021 6:23 WIB, 2021
Diduga terjangkit ASF, puluhan babi mati mendadak di Kabupaten Agam, Sumbar
04 December 2021 20:26 WIB, 2021
Riset menemukan dampak industri peternakan ayam-babi terhadap perubahan iklim
09 September 2022 12:56 WIB, 2022
Antisipasi flu babi, Karantina Lampung perketat pengawasan lalu lintas ternak
04 July 2020 9:33 WIB, 2020
Kementan tindaklanjuti temuan virus flu babi hasil publikasi ilmuwan China
02 July 2020 14:43 WIB, 2020
Terpopuler - Komoditas
Lihat Juga
Promo bulan Ramadhan, PLN beri diskon tambah daya hingga 5.500 VA hanya Rp200 ribu
23 March 2023 10:04 WIB, 2023
Kementan gulirkan PSR untuk tingkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit
16 March 2023 20:22 WIB, 2023
Pertamina gandeng Grab hadirkan layanan pesan antar BrightGas melalui GrabMart
16 March 2023 15:37 WIB, 2023
Pupuk Indonesia salurkan 1,42 juta ton pupuk bersubsidi dari Januari hingga Maret
09 March 2023 22:32 WIB, 2023
Pertamina apresiasi masyarakat Lampung dukung penyaluran BBM tepat sasaran
09 March 2023 17:20 WIB, 2023