Aan Ibrahim, sosok desainer dan pengrajin batik Lampung yang
cukup lama malang melintang di daerah tersebut, mengatakan sebenarnya
batik Lampung sudah berkembang sejak 1977, dengan motif kapal atau
perahu, oleh Andrian Sangaji, namun saat ini, sdah banyak terjadi
perkawinan motif agar batik Lampung lebih menasional.
"Sudah banyak perkembangan, terutama akhir-akhir ini yang
banyak sekali memasukkan motif ikon-ikon Lampung yang sudah
divariasikan," kata dia.
Aan menceritakan, saat dirinya memutuskan hendak membuat batik Lampung pada 1998, dia melakukan riset kecil-kecil tentang motif khas Lampung di museum. Saat itu dia menemukan motif sebagy, yang menurutnya merupakan motif yang sudah ada di daerah itu sejak turun-temurun.
"Motif sebagy itu dahulu biasa dipakai oleh nenek moyang kita
pada kain yang dipakai untuk mengggendong anak, banyak ditemukan di
Lampung dan Sumatera Selatan," Aan mengawali ceritanya.
Dia menjelaskan, Sebagy adalah motif yang bergambar sembilan jenis
kembang, yang apabila dituangkan di atas kain bisa satu jenis, atau dua
hingga tiga jenis. Beberapa kembang yang menjadi bagian motif sebagy
adalah melur, manggis, cenol, seleng, sebagy belando dan sebagy sekebar.
Saat itu, Aan memutuskan untuk menjadikan motif sebagy sebagai
ciri khas batik Lampung buatannya, yang dipadukannya dengan motif
perahu, untuk lebih menekankan identitas kedaerahan Lampung.
"Karena ada juga sebagy Palembang, nah saya taruh motif perahu sebagai unsur pembeda motif sebagy Lampung," kata dia.
Menurut Aan, selama mengembangkan batik Lampung dengan motif
sebagy, dirinya memperoleh pesanan dan omset yang lumayan menggiurkan.
Dirinya banyak melakukan peragaan busana batik Lampung dengan motif
sebagy.
Kemudian, saat Sjachroedin ZP menjadi gubernur sekitar tahun
2005, dia menceritakan mulailah batik Lampung mengalami perkembangan
motif, dengan memasukkan unsur simbol kedaerahan, seperti perahu, buah
kopi, gajah, dan siger.
"Harus diakui, di era Sjachroedin-lah batik Lampung menjadi
lebih dibicarakan dan motifnya lebih mengedepankan ikon-ikon adat yang
kental," kata dia.
Meski demikian, Aan mengaku, dia tetap
menggunakan Sebagy sebagai benang merah motif batik yang dibuatnya, dan
tidak terlalu kental dengan unsur ikon adat, dengan alasan demi
penjualan yang lebih menasional.
Saat ini, Aan menceritakan, dia menjual batik khas Lampung
dengan harga 300 ribu hingga 2,5 juta rupiah untuk kemaja, dan 1,5
hingga 2,5 juta untuk batik kain.
Selain itu, dia juga melayani desain eksklusif batik Lampung untuk konsumen yang memesan dengan harga khusus.
Untuk pembuatan, dia menyatakan sistem yang diterapkan untuk memproduksi batik Lampung agak unik, semuanya dikerjakan di Pulau Jawa, dan dirinya hanya mengirimkan desain kepada pengrajin di sana.
Dia menceritakan, agak mustahil untuk memproduksi batik di Lampung
selain karena biaya produksi yang mahal akibat mahalnya upah tenaga
kerja yang harus mengikuti UMR, juga karena tidak pernah ada budaya
membatik di Lampung.
Aan mengaku pernah mempekerjakan beberapa pengrajin saat
awal-awal dirinya mengembangkan batik, namun satu-persatu dari mereka
mengundurkan diri dengan alasan tidak betah. Sekarang, para pembatik
yang pernah bekerja dengannya itu menjadi tempat dirinya memesan batik
yang dia desain untuk dipasarkan.
Dia menceritakan batik yang diminati saat ini adalah batik yang
ditulis di atas kain tenunan bukan mesin, ketimbang di atas sutra yang
cenderung bukan buatan tangan.
Untuk menyelesaikan satu
desain batik, dia mengaku membutuhkan waktu satu hingga tiga bulan,
tergantung tingkat kerumitan permintaan.
Hingga saat ini Aan Ibrahim sudah membuat ribuan desain batik
Lampung, banyak diantaranya digunakan sebagai seragam resmi instansi dan
lembaga resmi non pemerintahan.
Dia menegaskan, ciri khas semua desain batik buatannya adalah motif sebagy yang dipadukan dengan satu ikon adat Lampung.
Meski demikian, saat ditanyakan tentang omset penjualan batik
Lampung, dia mengaku masih tidak terlalu banyak dibandingkan sulam usus.
"Seperti yang saya katakan tadi, batik itu bukan busana khas Lampung,
orang masih menganggap sulam usus sebagai ikon daerah ini, sehingga
menjual sulam usus jauh lebih mudah," kata dia.