
Pemkab Lampung Selatan siapkan empat strategi guna percepat penurunan stunting

Stunting bukan sekadar isu kesehatan. Stunting adalah isu pembangunan.
Lampung Selatan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menggelar Pra Musrenbang Tematik Stunting Tahun 2026 di Aula Rajabasa sebagai evaluasi, sekaligus konsolidasi lintas sektor dalam mempercepat pencegahan dan penurunan stunting di daerah tersebut.
Wakil Bupati (Wabup) Lampung Selatan M. Syaiful Anwar selaku Ketua Tim Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) di Kalianda, Selasa, menjelaskan untuk perencanaan tahun 2026 menuju 2027 pihaknya menekankan empat strategi utama guna mempercepat penurunan stunting di wilayah tersebut.
"Pertama, penguatan basis data Keluarga Berisiko Stunting (KRS) sebagai dasar penetapan sasaran program. Kedua, menajamkan lokus desa dan kelurahan prioritas berdasarkan analisis situasi dan capaian kinerja. Ketiga, sinkronisasi program lintas perangkat daerah guna menghindari duplikasi serta memastikan efektivitas anggaran. Dan keempat penguatan monitoring dan evaluasi berbasis indikator output dan outcome yang terukur,” kata dia.
Menurut dia, forum tersebut merupakan ruang konsolidasi strategis guna memastikan setiap intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak nyata.
"Stunting bukan sekadar isu kesehatan. Stunting adalah isu pembangunan. Ia menyangkut kualitas sumber daya manusia, produktivitas masa depan, dan daya saing daerah. Intervensi spesifik dan intervensi sensitif harus terintegrasi dan saling menguatkan. Kunci keberhasilan kita terletak pada integrasi program, ketepatan sasaran, dan konsistensi pelaksanaan,” katanya.
Dalam Pra Musrenbang Tematik Stunting Tahun 2026 ini, kata dia, terdapat tiga tujuan utama yang dibahas yakni melakukan evaluasi kinerja perangkat daerah dalam percepatan, pencegahan, dan penurunan stunting berdasarkan hasil analisis situasi.
Kemudian merumuskan usulan program dan kegiatan intervensi percepatan penurunan stunting serta mendeklarasikan komitmen pemerintah daerah untuk menyemangati pelaksanaan intervensi penurunan stunting secara terintegrasi.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, lanjut dia, prevalensi stunting di Kabupaten Lampung Selatan tercatat sebesar 10,4 persen, naik 0,1 persen dibandingkan tahun 2023 yang berada di angka 10,3 persen.
Meski kenaikannya relatif kecil, Syaiful menilai kondisi tersebut harus menjadi pengingat agar upaya percepatan tidak berjalan biasa-biasa saja.
"Kenaikan ini menjadi pengingat bagi kita bahwa kerja-kerja percepatan tidak boleh kendor. Target kita jelas, tren harus menurun dan penurunannya harus konsisten dari tahun ke tahun,” ucap dia.
Oleh karena itu, ia juga mengajak seluruh jajaran pemerintah mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa, untuk memperkuat koordinasi.
Selain itu, keterlibatan kader pembangunan manusia, PKK, tenaga kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia usaha melalui CSR, serta dukungan media, dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat penurunan stunting.
"Penurunan stunting adalah tanggung jawab bersama, kerja kolaboratif, dan gerakan kolektif seluruh elemen daerah," ujarnya.
Baca juga: BKKBN Lampung sebut pendampingan 1.000 HPK upaya entaskan stunting
Baca juga: Pemkot Bandarlampung lakukan intervensi stunting lewat makanan tambahan
Baca juga: Mendukbangga: Perbaikan sanitasi, MCK, bedah rumah dapat entaskan stunting
Pewarta : Riadi Gunawan
Editor:
Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
