
BKKBN Lampung sebut pendampingan 1.000 HPK upaya entaskan stunting

Target pengentasan stunting di 2026 masih dilakukan dengan melanjutkan program quickwins, dan salah satunya adalah program pendampingan 1.000 HPK
Bandarlampung (ANTARA) - Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Provinsi Lampung mengatakan program pendampingan 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan bina keluarga balita dapat menjadi salah satu upaya pengentasan stunting di daerah tersebut.
"Target pengentasan stunting di 2026 masih dilakukan dengan melanjutkan program quickwins, dan salah satunya adalah program pendampingan 1.000 HPK serta bina keluarga balita yang dilakukan untuk memantau tumbuh kembang anak dan ibu agar dapat mencegah stunting sejak dini," ujar Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Provinsi Lampung Soetriningsih di Bandarlampung, Selasa.
Selain program itu, katanya, ada pula sejumlah program yang mendukung pengentasan stunting, antara lain Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang menyasar keluarga risiko stunting (KRS) dengan melibatkan peran serta mitra kerja sebagai orang tua asuh.
"Stunting adalah persoalan bersama sehingga harus berkolaborasi dalam pelaksanaan program percepatan penurunan stunting, salah satunya melalui intervensi terfokus pada pendekatan gizi, pengasuhan, pendampingan, ketahanan keluarga dan inovasi digital," katanya.
Dia menjelaskan prevalensi stunting di Lampung menunjukkan tren menurun dari tahun ke tahun dan selalu berada di bawah angka nasional.
Berdasarkan hasil survei Riskesdas 2018 prevalensi stunting 27,3 persen, pada 2019 berdasarkan survei status gizi Indonesia (SSGI) menurun menjadi 26,26 persen, pada 2021 turun menjadi 18,5 persen.
Pada 2023 melalui Survei Kesehatan Indonesia (SKI) angka prevalensi stunting Provinsi Lampung menjadi 14,9 persen, namun pada 2024 melalui survei SSGI prevalensi stunting mengalami kenaikan menjadi 15,9 persen.
"Capaian ini menjadikan Provinsi Lampung secara nasional menduduki peringkat lima provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia. Meski angka prevalensi stunting 2025 belum keluar, namun ditargetkan penurunan dapat mencapai 13,2 persen di 2025," katanya.
Berdasarkan data pada 2024 ada delapan kabupaten di Provinsi Lampung mengalami kenaikan prevalensi stunting, yakni Tanggamus, Pringsewu, Tulang Bawang, Pesisir Barat, Tulang Bawang Barat, Pesawaran, dan Mesuji.
Daerah setempat yang mengalami penurunan persentase prevalensi stunting, yakni Kabupaten Lampung Barat, Lampung Tengah, Waykanan, Lampung Timur, dan Lampung Utara.
"Selain membantu memberikan bantuan berupa nutrisi bagi keluarga berisiko stunting, juga diberikan edukasi, membantu menyediakan sanitasi sehat, dan akses air bersih," ujarnya.
Baca juga: Pemkot Bandarlampung lakukan intervensi stunting lewat makanan tambahan
Baca juga: DWP Lamsel sebut peran ibu sangat penting dalam penanganan stunting
Baca juga: Wamen sebut Sekolah Garuda perkuat semangat generasi muda mencapai kemajuan
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
