Bandarlampung (ANTARA) - Terpidana Tedy Agustiansjah menjalani sidang gugatan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Bandarlampung, terkait wanprestasi pengerjaan proyek restoran di sebuah lahan yang ada di Jalan Gatot Subroto, Telukbetung Selatan, Bandarlampung.
Tedy Agustiansjah sendiri digugat oleh CV Hasta Karya Nusaphala selaku penggugat lantaran diduga belum membayarkan pengerjaan proyek untuk pembangunan restoran senilai Rp10 miliar lebih.
Sidang yang sedang berlangsung di Pengadilan Negeri Tanjungkarang tersebut diketuai oleh Firman Khadafi Tjindarbumi. Agenda sidang tersebut masih terkait pemeriksaan keterangan saksi dari pihak penggugat.
"Sidang sedang berjalan pemeriksaan saksi. Kami telah hadirkan beberapa saksi terkait pengerjaan proyek serta penjelasan terkait sertifikat lahan tersebut," kata penasihat hukum CV Hasta Karya Nusaphala, Japriyanto di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Sabtu.
Melalui gugatan tersebut, ia meminta agar tergugat Tedy Agustiansjah yang merupakan pemilik lahan pembangunan restoran untuk bertanggungjawab membayarkan pekerjaan yang belum dibayarkan oleh tergugat.
Dalam persidangan, tergugat memiliki peran yang sangat besar dalam pembangunan proyek, mulai dari desain dan struktur bangunan, karena keseluruhan jalannya proyek dilakukan berdasarkan arahan tergugat.
"Tergugat merupakan pemilik hak atas tanah berdasarkan sertifikat atas pembangunan restoran di mana sertifikat tersebut masih berstatus kepemilikannya. Karena itu, secara hukum tergugat harus menyelesaikan pembayaran pengerjaan proyek tersebut," kata dia.
Pada gugatan tersebut, tambah Japriyanto, pihaknya meminta agar majelis hakim dapat mengabulkan seluruh gugatan tersebut diantaranya menyelesaikan pembayaran sebesar Rp10 miliar lebih dan menghukum tergugat untuk membayar kerugian bunga bank sebesar 6 persen per tahun sejak April 2020.
"Kami juga minta agar majelis hakim menghukum tergugat atas kerugian inmaterial telah kehilangan kepercayaan dan menanggung nama baik perusahaan yang tidak ternilai harganya. Tetapi untuk kepastian hukum dalam mengajukan gugatan maka kerugian inmaterial penggugat adalah sebesar Rp50 miliar," katanya.
CV Hasta Karya Nusaphala selaku penggugat tidak hanya menggugat terpidana Tedy Agustiansjah saja melainkan juga turut menggugat PT Mitra Setia Kirana selaku tergugat I dan Andy Mulya Halim selaku tergugat II.
Sementara itu, terpidana Tedy Agustiansjah sedang menjalani hukuman di Lapas Cipinang selama tujuh tahun dan enam bulan penjara. Ia dihukum dalam perkara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pracico.
Tedy Agustiansjah yang merupakan Chairman dari KSPPS Pracico Inti Utama sekaligus ketua dari KSP Pracico Inti Sejahtera dalam penyidikan kepolisian beberapa waktu lalu telah melanggar kasus kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Penipuan dan Penggelapan sesuap pasal 378 dan 372 dalam KUHP, serta pasal 46 dari UU Perbankan.
Baca juga: PN Tanjungkarang-Dharmayukti Karini berikan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir
Baca juga: Hakim dan seluruh pegawai PN Tanjungkarang tandatangani pakta integritas
Baca juga: 15 pegawai honorer PN Tanjungkarang lulus seleksi P3K