Logo Header Antaranews Lampung

Catatan Akhir Tahun- Memperkenalkan Lampung (kembali)

Minggu, 27 Desember 2015 16:20 WIB
Image Print

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Budaya Lampung menjadi pembicaraan hangat di "Indonesian Youth Forum 2015". Ajang pertemuan anak muda tahunan itu dilaksanakan di Jakarta dan tahun ini masuk pada penyelenggaran ke lima.

Penyebab dibicarakannya budaya Lampung di ajang itu berkat adanya film pendek berjudul "Agus dan Agus". Pemutaran film pendek merupakan salah satu sesi di IYF 2015. "Agus dan Agus" menjadi salah satu dari enam film yang diputar.

"Agus dan Agus" menjadi tema sentral dalam diskusi setelah acara pemutaran. Sebanyak enam pembicara, mulai dari akademisi, pengamat film, termasuk perwakilan dari pembuat film ikut membedah film tersebut. Semua sepakat film itu membawa pesan penting untuk anak muda.

Sebagian besar peserta yang hadir menyatakan baru pertama kali mereka mendengar langsung bahasa Lampung. Memang, film berdurasi 16 menit tersebut 98 persen dialognya berbahasa Lampung. Penonton menyatakan film tersebut telah membuka cakrawala budaya mereka ke sebuah wilayah yang selama ini belum pernah mereka jamah. Mereka diperkenalkan dengan budaya, adat, dan dialek Lampung sekaligus dalam film tersebut.

"Agus dan Agus" adalah film pendek karya sineas asal Lampung Aji Aditya. Film yang bercerita tentang krisis identitas anak muda asli Lampung merupakan karya ketiganya bersama tim dari Ziva Film, Rumah Ciprut, dan Komunitas Dongeng Dakocan.

Sang pembuat film mengaku film tersebut sudah ada dalam otaknya sejak 2013, namun karena menunggu dana yang cukup untuk produksi, "Agus dan Agus" baru bisa disajikan kepada penonton pada 2015.

Sejak disajikan pertama kali di Road Show XXI Short film festival pada oktober 2014, setidaknya "Agus dan Agus" sudah diputar di enam tempat, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Biak, Papua. Terakhir, film itu mendapat spesial screening di Festival Film Aceh, Banda Aceh, pada 24 Desember 2015.

Penulis novel religi senior, Helvi Tiana Rosa menyebut "Agus dan Agus" sebagai "film dengan bahasa daerah yang seksi". Helvi sedang membicarakan bahasa Lampung.

Isi film itu hanya bagian kecil dari sekian kekayaan budaya yang dimiliki oleh Lampung. Pada medio September 2015, perancang busana Aan Ibrahim juga melanglang ke Turki, memperkenalkan busana rancangannya yang identik dengan desain tradisional Lampung, "sulam usus".

Selama dua minggu Aan mempersiapkan baju rancangannya untuk diperagarakan peragawati cantik berlenggak-lenggok di atas panggung.

Aan mengaku deg-degan saat hendak meluncur ke Turki. "Takut dianggap biasa karena sesama timur, jadi tidak dianggap istimewa," kata dia kepada Antara.

Meski demikian, takdir berkata lain. Selama dua minggu, Aan Ibrahim mendapat sambutan luar biasa dari penikmat busana dan kolektor, terhadap sulam usus rancangannya. Bahkan, busana yang dibawanya ke Turki nyaris habis, semua diborong.

Sulam usus, yang diadaptasi Aan dalam rancangannya menjadi pembicaraan baru di antara penikmat busana di Turki. Ini membuktikan kembali bahwa budaya menjadi penghapus sekat geografis antarbangsa.

Masih tentang Lampung, tiga sastrawan Lampung, yaitu Isbedy Setiawan, Arman Az, dan Juperta Panji Utama juga dicatat membawa nama daerah itu ke pentas dunia untuk membacakan puisi di Belanda pada 2015.

Sepanjang pertengahan November 2015, mereka membacakan puisi di Belanda selama tiga hari, dilanjutkan Paris dan Jerman.

Tidak hanya itu, misi ketiga penyair kawakan Lampung tersebut juga menginventarisasi kekayaan budaya Lampung yang ada di perpustakaan dan museum di negara tersebut.

Penyair Isbedy menjelaskan undangan tersebut merupakan prestasi dan prestise bagi budaya Lampung. Mereka diundang membaca puisi dan diskusi di hadapan mahasiswa S-3 Universitas Leiden, Belanda. Ia melanjutkan mereka juga membawa cenderamata alat musik dari Sekala Brak (Lamba), gamolan pring (cetik) untuk museum dan perpustakaan di Leiden, Universitas Leiden, Universitas Erasmus Roterdam.

Peneliti sastra dan budaya Lampung Arman AZ mengungkapkan membawa manuskrip Lampung sudah direproduksi dan diserahkan ke pemprov dan instansi terkait untuk dimanfaatkan masyarakat Lampung.

Ia berharap langkah ini awal dari diplomasi budaya Lampung.

Membaca tiga upaya dari masing-masing tokoh kebudayaan di Lampung tersebut memberi semangat optimistis tentang masa depan budaya daerah itu. Ancaman serius tentang bakal "menghilangnya" budaya Lampung dari peradaban di bumi, masih bisa ditepis.

Mereka, dengan karyanya masing-masing menunjukkan dengan tegas identitas ke-Lampung-annya, sekaligus memperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas. Langkah ini belum termasuk upaya generasi muda lain, yang secara bergerilya menunjukan kebanggaan akan identitas daerah mereka. Newendi Septian, komika asal Lampung, yang tampil dengan logat Lampung di acara stand uP comedy academy saluran TV Indosiar, dan menjadi trend baru di kalangan anak muda, bisa menjadi contoh.

Pengenalan identitas diri bahasa daerah diupayakan oleh pemerintah setempat melalui dinas pendidikan dengan memasukkan kurikulum muatan lokal (mulok) aksara Lampung di sekolah dasar. Meski hasilnya hingga kini belum terlihat nyata, karena peserta didik hanya mempelajari aksara tanpa (belum) mengimplementasikannya dalam bahasa tutur sehari-hari.

"Sekarang sudah maju. Saudara kita suku asli Lampung kian terbuka. Dulu waktu saya masih SD ketika mencoba berbahasa daerah Lampung langsung dimarahi karena saya bukan asli Lampung," kata Sugotro, warga Kedaton, Bandarlampung yang orang tuanya asal Yogyakarta, namun ia lahir di Lampung.

Ia menjelaskan, pernah "dikeroyok" tiga orang kawan sekelasnya lantaran mencoba berbahasa daerah setempat, namun logatnya Jawa sehingga dianggap menghina.

"Itu kenangan lama. Alhamdulillah sekarang eranya beda. Bahkan saya pernah bertemu dengan rekan di SD dulu yang telah beragam profesi dan ketika bicara kenangan tersebut mereka pun tertawa, dan ada yang mengatakan `niku Jawo lawang` (kamu Jawa gila)," ujar Gotro yang kini sebagai musisi.

Namun, ada pula keluhan dari orang tua siswa yang bukan asli Lampung karena mereka kesulitan manakala ditanya anaknya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) bahasa Lampung.

"Kami kesulitan membantu mengerjakan PR. Soalnya tidak pernah belajar selama ini. Solusinya ya datang ke tetangga yang memang warga Lampung untuk membantu menerjemahkannya," kata Simo, warga asal Sulawesi.

Penggunaan aksara Lampung pun dilakukan oleh pemerintah setempat seperti nama jalan, misal Jalan Radin Inten di bawahanya dituliskan "Jalan Radin Inten" menggunakan aksara Lampung.

Kini, tinggal bagaimana pemerintah dan warga Lampung terus mengenalkan bahasa daerah setempat dan menggunakannya dalam dialek sehari-hari, seperti ketika ke Bandung warga setempat menggunakan bahasa Sunda, atau ke Palembang kental dengan dialeknya sendiri sehingga langsung bisa dikenali.

Apalagi, identitas sebuah bangsa akan sangat kuat apabila masyarakatnya memiliki identitas kedaerahan yang juga kental. Terlebih di era globalisasi saat ini, lokalitas merupakan hal utama dalam menunjukkan jati diri.

***1***



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026