Logo Header Antaranews Lampung

Aan Ibrahim dan Geliat Batik Lampung

Kamis, 10 Oktober 2013 09:25 WIB
Image Print
Desainer Aan Ibrahim, di tengah batik sebagy yang dia desain (ANTARA/ Agusta Hidayatullah)
Motif sebagy itu dahulu biasa dipakai oleh nenek moyang kita,"

Bandarlampung, (ANTARA LAMPUNG - Diantara sekian banyak batik nusantara, nama dan kekhasan batik Lampung mungkin belum sebegitu menonjol. Meski demikian, kekuatan motif dengan pola desain yang khas, membuat batik Lampung cukup digilai kolektor busana. Salah satu alasan yang mencuat, penggunaan warna cerah yang menyiratkan semangat dan bentuk ekspresi orang Lampung seperti Merah, putih, atau kuning, membuatnya berbeda dengan batik asal Pulau Jawa, yang cenderung memakai warna lembut.

Aan Ibrahim, sosok desainer dan pengrajin batik Lampung yang cukup lama malang melintang di daerah tersebut, mengatakan sebenarnya batik Lampung sudah berkembang sejak 1977, dengan motif kapal atau perahu, oleh Andrian Sangaji, namun saat ini, sdah banyak terjadi perkawinan motif agar batik Lampung lebih menasional.

"Sudah banyak perkembangan, terutama akhir-akhir ini yang banyak sekali memasukkan motif ikon-ikon Lampung yang sudah divariasikan," kata dia.

Aan menceritakan, saat dirinya memutuskan hendak membuat batik Lampung pada 1998, dia melakukan riset kecil-kecil tentang motif khas Lampung di museum. Saat itu dia menemukan motif sebagy, yang menurutnya merupakan motif yang sudah ada di daerah itu sejak turun-temurun.

"Motif sebagy itu dahulu biasa dipakai oleh nenek moyang kita pada kain yang dipakai untuk mengggendong anak, banyak ditemukan di Lampung dan Sumatera Selatan," Aan mengawali ceritanya.

Dia menjelaskan, Sebagy adalah motif yang bergambar sembilan jenis kembang, yang apabila dituangkan di atas kain bisa satu jenis, atau dua hingga tiga jenis. Beberapa kembang yang menjadi bagian motif sebagy adalah melur, manggis, cenol, seleng, sebagy belando dan sebagy sekebar.

Saat itu, Aan memutuskan untuk menjadikan motif sebagy sebagai ciri khas batik Lampung buatannya, yang dipadukannya dengan motif perahu, untuk lebih menekankan identitas kedaerahan Lampung.

"Karena ada juga sebagy Palembang, nah saya taruh motif perahu sebagai unsur pembeda motif sebagy Lampung," kata dia.

Menurut Aan, selama mengembangkan batik Lampung dengan motif sebagy, dirinya memperoleh pesanan dan omset yang lumayan menggiurkan. Dirinya banyak melakukan peragaan busana batik Lampung dengan motif sebagy.

Kemudian, saat Sjachroedin ZP menjadi gubernur sekitar tahun 2005, dia menceritakan mulailah batik Lampung mengalami perkembangan motif, dengan memasukkan unsur simbol kedaerahan, seperti perahu, buah kopi, gajah, dan siger.

"Harus diakui, di era Sjachroedin-lah batik Lampung menjadi lebih dibicarakan dan motifnya lebih mengedepankan ikon-ikon adat yang kental," kata dia.

Meski demikian, Aan mengaku, dia tetap menggunakan Sebagy sebagai benang merah motif batik yang dibuatnya, dan tidak terlalu kental dengan unsur ikon adat, dengan alasan demi penjualan yang lebih menasional.

Saat ini, Aan menceritakan, dia menjual batik khas Lampung dengan harga 300 ribu hingga 2,5 juta rupiah untuk kemaja, dan 1,5 hingga 2,5 juta untuk batik kain.

Selain itu, dia juga melayani desain eksklusif batik Lampung untuk konsumen yang memesan dengan harga khusus.
Untuk pembuatan, dia menyatakan sistem yang diterapkan untuk memproduksi batik Lampung agak unik, semuanya dikerjakan di Pulau Jawa, dan dirinya hanya mengirimkan desain kepada pengrajin di sana.

Dia menceritakan, agak mustahil untuk memproduksi batik di Lampung selain karena biaya produksi yang mahal akibat mahalnya upah tenaga kerja yang harus mengikuti UMR, juga karena tidak pernah ada budaya membatik di Lampung.

Aan mengaku pernah mempekerjakan beberapa pengrajin saat awal-awal dirinya mengembangkan batik, namun satu-persatu dari mereka mengundurkan diri dengan alasan tidak betah. Sekarang, para pembatik yang pernah bekerja dengannya itu menjadi tempat dirinya memesan batik yang dia desain untuk dipasarkan.

Dia menceritakan batik yang diminati saat ini adalah batik yang ditulis di atas kain tenunan bukan mesin, ketimbang di atas sutra yang cenderung bukan buatan tangan.

Untuk menyelesaikan satu desain batik, dia mengaku membutuhkan waktu satu hingga tiga bulan, tergantung tingkat kerumitan permintaan.

Hingga saat ini Aan Ibrahim sudah membuat ribuan desain batik Lampung, banyak diantaranya digunakan sebagai seragam resmi instansi dan lembaga resmi non pemerintahan.

Dia menegaskan, ciri khas semua desain batik buatannya adalah motif sebagy yang dipadukan dengan satu ikon adat Lampung.

Meski demikian, saat ditanyakan tentang omset penjualan batik Lampung, dia mengaku masih tidak terlalu banyak dibandingkan sulam usus.

"Seperti yang saya katakan tadi, batik itu bukan busana khas Lampung, orang masih menganggap sulam usus sebagai ikon daerah ini, sehingga menjual sulam usus jauh lebih mudah," kata dia.




Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026