
Menhut Nyatakan Perang Terhadap Perburuan Badak

Bandarlampung, 2/10 (Antara) - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengajak semua pihak menyatakan perang terhadap perburuan badak atau satwa liar lain yang dilindungi di Indonesia maupun di negara-negara Asia.
"Mari kita nyatakan perang terhadap perburuan badak," kata Zulkifli saat membuka secara resmi acara "The First Rhino Range State Meeting" yang dihadiri lembaga pemerhati dan peneliti badak,dan para menteri bidang konservasi dari India, Malaysia, Nepal, dan Bhutan di Ballroom Hotel Novotel Kota Bandarlampung, Rabu.
Ia menjelaskan, Asia memiliki tiga dari lima spesies badak di dunia yaitu badak India (rhinocerus unicornis), badak Sumatera (Discerorhinos sumatrensis) dan badak Jawa (Rhino Sondaicus) yang saat ini populasinya tinggal sedikit karena berbagai faktor terutama perburuan liar untuk diambil culanya selain degradasi dan fragmentasi habitat.
"Saat ini total populasi badak di Asia lebih dari 3.350 individu dan hanya ditemukan di Indonesia, Malaysia, Bhutan, India dan Nepal," kata dia.
Menurutnya, jumlah tersebut sangat kecil dibanding badak hitam di Afrika yang mencapai 5.000 individu dan badak putih 20.000 individu.
Dari ketiga jenis badak di Asia itu, badak Jawa yang paling terancam punah yang populasinya hanya 50 individu dan hanya ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, kemudian badak Sumatera kurang dari 100 ekor yang tersebar di Taman Nasional Waykambas, Gunung Leuser dan Bukit Barisan Selatan.
Ia mengatakan, bahwa beberapa individu badak Sumatera tertangkap video jebak "video trap" di Kalimantan Timur setelah berpuluh-puluh tahun tidak pernah diketemukan di wilayah itu.
"Temuan ini akan menjadi masukan penting bagi penyempurnaan upaya konservasi badak Indonesia dan sekaligus meningkatkan upaya perlindungan dan pengamanan badak Sumatera itu," kata Zulkifli.
Ia menambahkan, penyelamatan badak menuntut keterlibatan semua pihak tidak hanya dari pemerintah melainkan sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat dan dunia internasional.
Pewarta :
Editor:
Kristian Ali
COPYRIGHT © ANTARA 2026
