Logo Header Antaranews Lampung

Pengalaman Peneliti Badak, drh Marcellus Adi CTR

Selasa, 26 Juni 2012 09:26 WIB
Image Print
Drh Marcellus Adi CTR (kiri), bersama badak "Andalas", belum lama tiba di SRS TNWK dari Los Angeles, AS, 2007. Di karantina, sebelum dilepas ke hutan "semi in-situ", dilatih di-'handle' dengan digosok belakang tubuhnya oleh "keeper"-nya Sugiono.(FOTO
"Para “keeper” (perawat) badak harus yang paling diapresiasi, mereka orang-orang setempat yang sederhana, namun sangat berdedikasi, semangat belajar dan berkembang tinggi, menunggui badaknya siang malam. Salut!"

Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Setelah lebih dari seratus tahun ditunggu masyarakat dunia, Ratu (12) induk betina badak Sumatera bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis) di penangkaran Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, akhirnya melahirkan bayi jantan, Sabtu (23-6), sekitar pukul 00.45 WIB.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, dua hari kemudian, Senin (25/6) siang, di kantor Kemenhut di Jakarta, menyampaikan keberhasilan itu kepada para wartawan.

Anak badak jantan itu pun, diberi nama Andatu, dan dikabarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menjenguknya di SRS TNWK di Lampung Timur itu.

Berkaitan peristiwa bersejarah bagi konservasi badak Sumatera itu, Budisantoso Budiman, Redaktur Eksekutif antaralampung.com yang juga Redaktur LKBN ANTARA Biro Lampung mewawancarai drh Marcellus Adi CTR, praktisi senior konservasi badak, peneliti badak sejak tahun 1988, pernah bekerja di Yayasan Mitra Rhino (YMR) dari tahun 1993, Yayasan Suaka Rhino Sumatera Taman Nasional Way Kambas (TNWK) 1997 dengan posisi terakhir Site Manager SRS (2000-2008), Yayasan Badak Indonesia (YABI) sd 2009, dan sejak 2010 aktif di ALeRT (Aliansi Lestari Rimba Terpadu) kerja sama dengan PEH Balai TNWK Lampung.

Berikut petikan wawancara khusus, dalam beberapa kali kesempatan tersebut:

"Bagaimana sebenarnya proses pembangunan SRS di TNWK Lampung itu?"

o Sebelum saya menjawabnya, sebaiknya kita ucapkan dulu selamat kepada pengelola SRS yang berhasil membuat badak Ratu bunting, dan akhirnya melahirkan bayi badak Sumatera pertama di Indonesia. Buat saya yang lama dulu kerja di sana, terutama untuk para keeper (perawat) badak harus yang paling diapresiasi, mereka orang-orang setempat yang sederhana, namun sangat berdedikasi, semangat belajar dan berkembang tinggi, menunggui badaknya siang malam. Salut!

o Proses perencanaan sampai pembangunan Suaka Rhino Sumatera (SRS) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung berlangsung lama sekali, melalui berbagai workshop nasional dan internasional, termasuk di Lampung, di Hotel Marcopolo tahun 1993, yaitu Workshop tentang Population and Habitat Viability Analysis.

o Bahkan ide tentang Suaka Badak sudah ada dalam dokumen Strategi Konservasi Badak Indonesia, Departemen Kehutanan (sekarang, Kementerian Kehutanan, Red) tahun 1993 yang merupakan prosiding Konferensi International Badak Indonesia di Cisarua Bogor 1991.

o Tujuan SRS justru ingin menyelamatkan badak-badak Sumatera yang banyak mati di kebun-kebun binatang sejak penangkapan tahun 1985. Dikembangbiakkan lebih alami, lalu hasilnya untuk memperkuat populasi alam, disini jelas badak di alam atau in-situ adalah lebih penting dari badak di penangkaran (ex-situ). Nah, SRS adalah semi in-situ (dipelihara manusia di kandang luas yang dibangun di dalam habitat hutan badak); lebih alami, lebih luas, dan lebih sedikit intervensi manusia, tidak seperti di kebun binatang.

o Setelah proses panjang dan akhirnya SRS dibangun di TNWK mulai 1996, dan badak masuk 1998, sudah ada 13 ekor badak mati di kebun binatang di Amerika Serikat (empat ekor), Inggris (dua ekor), Malaysia (satu ekor), Indonesia (enam ekor), dari 18 ekor yang ditangkap di habitatnya di Sumatera Utara, Riau, dan Bengkulu sebelumnya.

o Badak yang masuk ke SRS waktu itu, satu jantan, Torgamba dari Inggris, dan dua betina, Bina dari TSI dan Dusun dari Kebun Binatang Ragunan (Dusun aslinya dari Malaysia Semenanjung, hasil pertukaran dengan badak jantan Sumatera, tapi mati di Malaysia).

"Kenapa SRS perlu dibangun dan bagaimana kok disebutkan kelahiran badak cuma ada lima ekor dalam 100 tahun ini?"

o Sebenarnya ada dosa di sini. Tahun 19851990 an badak ditangkap di hutan-hutan untuk dipelihara di kebun-kebun binatang. Katanya itu badak doomed yang terdesak oleh perkebunan dan permukiman. Tapi mana yang lebih dulu, tidak jelas, apa karena hutannya mau diserahkan kepada swasta lalu badak terjebak? Atau sebenarnya, seharusnya hutannya jangan diberikan ke swasta karena di situ ada badak, atau satwa kunci lain? Kenyataannya badak-badak itu tergusur dan harus menghuni kebun binatangItulah dosa kita terhadap badak-badak ini dan habitatnya.

o Tapi seperti saya bilang sebelumnya, yang ditangkap di abad modern, di antaranya di Indonesia tahun 19851990 an itu, 75 persen badak-badak itu mati. Hmm dosa bertambah. Kalau mau dihitung mundur sampai sebelum Kemerdekaan RI, termasuk yang ada di negara lain, seperti Malaysia, Thailand dan negara pemilik badak Sumatera sebelumnya, sudah sekitar 100 ekor badak Sumatera dikeluarkan dari habitatnya tapi baru lima yang lahir karena kawin di penangkaran.

o Kelahiran pertama terjadi 100 an tahun lalu, yaitu di Calcutta (1889). Nah, kemudian baru ada lagi tiga badak lahir di Cincinnati Zoo, AS, yang pertama Andalas (tahun 2001), kemudian disusul adik Andalas, Suci (betina) dan Harapan (jantan), yang bapakibunya berasal dari Sumatera (tangkapan 1985-1990 an itu). Yang kelima ya anak Ratu ini (kemudian Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan memberinya nama Andatu).

o Sebenarnya ada kelahiran sekitar tiga ekor anak dari betina yang sudah bunting ketika ditangkap. Salah satunya di Malaysia, tapi kemudian mereka yang di penangkaran di Semenanjung Malaysia mati semua.

o SRS dibangun untuk menampung badak-badak yang berasal dari Indonesia kembali setelah banyak yang mati di kebun-kebun binatang. Dibikin penangkaran lagi tapi lebih alami, seperti saya bilang sebelumnya.....

(Jawaban dipotong) "Kenapa banyak badak Sumatera itu yang mati di kebun binatang atau penangkarannya?"

o Benar, di sinilah menariknya mengapa banyak yang mati di kebun binatang? Tidak banyak orang yang tahu dan mencermati. Jadi setelah miliaran duit keluar dan harga yang tidak ternilai dari badak-badak itu, menjadi sia-sia Badak-badak itu tidak dipelihara dengan syarat-syarat yang sudah ditetapkan dan mereka sepakati sendiri. Termasuk di Indonesia, tidak diawasi oleh pihak berwenang, sehingga banyak yang mati. Bahkan di Inggris dan Amerika Serikat yang sudah canggih, karena mereka lupa seperti apa badak Sumatera aslinya.

o Memang tidak mudah, tapi juga seharusnya tidak sulit bila benar-benar konsern. Badak Sumatera di alam liarnya adalah satwa soliter, perlu habitat antara 3.0006.000 hektare per badak. Ketika dibawa ke kebun binatang, paling besar cuma setengah hektar per kandang, seperti di Ragunan atau di Inggris dulu. Yang lain lebih sempit dari itu. Stres-lah dia, dalam kandang sangat sempit. Kalau pun yang berhasil, seperti di Cincinnati, itu karena kemudian makanannya diubah lebih bervariasi. Tadinya bapak-ibunya Andalas ini sudah hampir mati juga. Mungkin akhirnya mereka beradaptasi dengan ruang, karena tidak ada pilihan, tapi memang terpenting variasi makanan yang banyak. Ingat, badak yang di AS dari tujuh yang diekspor ke sana, lima ekor mati sebelum ada kelahiran Andalas.

o Sama seperti jenis badak lain, dan mamalia herbivora besar lain, seperti gajah, karena jenis metabolismenya, merupakan satwa besar yang perlu energi banyak sehingga harus efisien dalam memakainya juga. Mereka harus mempertahankan wilayah untuk sendiri, tidak bisa berbagi, jadi harus soliter. Nah di alam mereka memang hobi menjelajah, itu perilaku utamanya, mereka cari makan yang ratusan jenisnya, ya daun, buah dan biji. Menjelajah juga untuk cari pasangan, lalu memastikan air tersedia di rumahnya. Mereka selalu butuh air. Kalau misalnya kekeringan, mereka harus pindah lagi.

o Nah, di kebun binatang, padahal syarat-syarat sudah ada di Strategi Badak 1991, pertama stress akibat tempatnya sempit, kedua variasi makanan sedikit, ketiga ada yang bahkan kurang tersedia kubangan yang sesuai, kelima tidak diberi pasangan atau tidak ada pasangan atau tidak benar cara memasangkannya, waktu penggabungannya salah, jadi malah berantem sampai hampir mati, stress lagi. Pengamatan perilaku tidak ada, padahal itu syarat penting.

o Mereka jenis satwa dengan lambung tunggal, seperti kuda, saluran pencernaan sangat sensitif. Hampir semua badak-badak itu mati, karena penyakit saluran pencernaan.

"Menurut Anda, Kenapa untuk kelahiran badak seperti di SRS ini harus tertutup atau seperti sengaja ditutup-tutupi?

o Wah saya tidak tahu itu, karena sudah tidak bekerja di sana lagi, tapi kalau dibandingkan dengan kedatangan badak Andalas dulu, segala hal sudah diantisipasi. Termasuk, setelah perjalanan panjang, di depan kandangnya akhirnya Andalas langsung bisa dilihat, diambil gambarnya oleh semua wartawan yang ikut konvoi dari Bandara Jakarta ke TNWK.

o Menurut saya, mungkin sekarang kurang antisipatif saja. Seharusnya bisalah terbuka, badak adalah domain publik, wajar semua orang ingin tahu. Tidak perlu dieksklusifkan. Badak Sumatera milik dunia, jadi milik semua penghuni bumi.

o Seharusnya bisa diatur, misalnya jauh-jauh hari media massa dan wartawan sudah didaftar dan siap diundang. Lalu ketika hari H terjadi, beberapa jam sesudahnya semua bisa diundang ke lokasi walau belum bisa lihat badaknya tapi bisa datang ke SRS di sana ada ruang cukup....wartawan kan cepat, bisa wawancara di sana sambil menyaksikan video kelahiran.

o Bila Ratu dan anaknya belum bisa dilihat langsung (teman wartawan pasti bisa mengerti alasannya), foto dan videonya bisa dibuat pengelola dan dibagikan. Seluruh dunia bisa melihat dalam waktu tidak terlalu lama. Di SRS sana ada internet dan penguat sinyal GSM, jadi saat itu juga berita dan foto sudah dapat dilihat, dibaca, ditonton dan disaksikan masyarakat dunia. Way Kambas dan Indonesia akan ngetop deh kan sesuai tuhdengan Tahun Badak Internasional. Tapi, karena tidak diantisipasi, maka terjadi kemarin wartawan Metro TV sudah datang jauh-jauh dilarang masuk gerbang TNWK. Menurut saya itu tidak perlu terjadi.

"Apa karena kurang profesional manajemennya ya... ?"

o Yah begitulah

"Kabarnya sekarang kunjungan wisatawan dan pelajar juga sangat sulit dilakukan...."

o Begitulah kenyataannya. Tidak jelas memang sejak kapan turis-turis yang sudah mengikuti prosedur dan bersedia membayar cukup mahal per orang (sudah berjalan sebelumnya, Red), kemudian pelajar atau mahasiswa yang mau belajar atau magang atau kegiatan pendidikan lain, seperti dulu, ternyata tidak boleh masuk SRS TNWK atau tidak boleh lihat badak. Terakhir sih alasannya karena mereka konsentrasi mengurus Ratu, jadi tidak mau terganggu.

"Tapi, Saya mendapatkan informasi belum lama ini ada kunjungan serombongan besar pejabat dan tamu asing, juga wartawan dibolehkan masuk ke SRS TNWK. Padahal, Saya bersama cukup banyak teman-teman wartawan di dalam dan luar negeri, saat pengembalian badak Andalas dari AS, Februari 2007 lalu, juga bisa leluasa datang dan melihatnya, juga mengambil gambarnya. Kenapa sekarang sangat dibatasi, kan bukan cuma Ratu yang bisa dilihat?"

o Ya itulah, tidak konsisten ya? Toh, SRS tidak terganggu kan, karena memang tidak perlu terganggu. Ternyata ada rombongan besar pejabat (Kemenhut, Kemenlu, Bapenas, dsb) dari Jakarta, dan mereka katanya tetap bisa lihat badak. Terus dari BBC bisa shooting. Saya juga heran dimana terganggunya, mengapa harus menolak turis yang tertib dan mahasisa yang mau belajar dan mengembangkan ilmu, serta wartawan yang juga perlu mengekspose perkembangan di dalam?

o Benar, tidak harus Ratu yang dilihat, ada badak lain bisa dilihat. Toh semua badak masuk kandang pagi hari. Kalau pun sedang di Ultrasonografi (USG) atau akan digabungkan ada beberapa menit bisa lah lihat badak di kandang atau ketika keluar. Katanya mereka kurang orang, tapi pemandu kan bisa dari Balai TNWK. Mungkin Ratu memang tidak boleh dilihat karena sensitif. Saya rasa memang cuma masalah pengaturan yang perlu dibenahi.

"Jadi masalah manajemen yang sekarang diberlakukan di SRS TNWK ini yang kurang profesional atau apakah SRS TNWK itu seharusnya terbuka atau memang mesti tertutup?"

o Cita-cita awal adalah SRS harus terbuka sebagai "penebusan dosa" di atas, karena sudah membabat habitat hutan dan mengambil badak dari alam, dan sekarang mengokupasi sekitar 100 hektare di TNWK, yang biar bagaimana pun menghalangi pergerakan satwa besar penghuni asli di situ, seperti harimau, badak, gajah, tapir, beruang, rusa sambar. Harus ada timbal baliknya dong ke alam. Maka SRS harus terbuka, ya bisa benar-benar berjalan konservasi secara bekelanjutan dengan jargon "save, study, and use"-nya.

o Seharusnya, ada pengembangan pengetahuan; kesempatan riset-riset badak Sumatera yang masih jarang dulu kan sering walau baru tingkat S-1, pendidikan melalui kunjungan terbatas dan ekowisata, pelatihan-pelatihan (Kementerian Kehutanan sering membuat pelatihan, Red), dan 'breeding' tentu saja sebagai tujuan utama.

o Kesemuanya adalah filosofi sebagai dasar pendirian SRS adalah menjadikan SRS semaksimal mungkin sebagai program konservasi secara utuh, dan memenuhi visi menjadi penangkaran alami untuk memperkuat populasi alami badak Sumatera tersebut.

o Pada sisi lain, waktu itu sedang diperkuat perlindungan badak di alam yang masih tersisa dengan Rhino Protection Unit (RPU), sebuah unit perlindungan badak, sehingga hutan aman dan selanjutnya ketika SRS berhasil, badak-badak keturunannya bisa dikembalikan ke habitat yang sudah terlanjur kosong. Semua berjalan paralel.

o Namun nampaknya sekarang, badak-badak di SRS TNWK itu kurang dipelihara secara alami. Buktinya, Torgamba mati, karena penderitaan...., dugaan saya kemungkinan karena infus yang dipaksakan lewat telinga yang sangat sensitif buat badak (pendengaran adalah vital buat badak), maka pengobatannya mana bisa efektif? Memang kabarnya dilakukan pula di kebun-kebun binatang lain (tapi itu pada badak-badak lain yang besar seperti badak Afrika, mungkin pembuluhnya di telinga besar juga, mungkin juga mereka badak-badak kelahiran penangkaran yang tidak lagi punya sense liar), tapi itu lah, SRS bukan kebun binatang. Di SRS badak harus diperlakukan lebih alami.

o Padahal ada pembuluh darah di lokasi tubuh lain yang bisa dipakai untuk infus atau pengambilan darah. Tapi di SRS pengambilan darah atau infus selalu lewat telinga, kurang berusaha untuk mencoba mencari pembuluh lain untuk mengambil darah. Padahal beberapa teman dokter lain pernah mengambil darah badak dari pembuluh di kaki dan ekor. Terakhir, kami melakukan di Los Angeles Zoo terhadap Andalas. Saya ada buktinya. Dulu juga pernah di Ragunan.

o Akibatnya, penyakit diderita Torgamba itu bertambah parah karena rasa sakit dan penderitaannya diinfus lewat telinga, dia memang menerima saja karena sedang lemah, tapi menderita, sehingga membuat tubuhnya makin melemah, mentalnya stress, sehingga tidak mampu menerima obat, matilah dia...

o Sedih... Padahal dia adalah badak pertama yang ditangkap tahun 1985, dan bertahan. Juga di Amerika, ketika badak betina Emi, ibunya Andalas mati di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, karena makanan (unsur besi menumpuk). Sering terjadi badak-badak Sumatera yang mati di kebun binatang, walau sudah diobati semaksimal mungkin, tapi tubuh mereka menolak obat jadi pengobatan tidak efektif. Mungkin juga gejala terlambat diketahui atau karena diagnosa salah.

"Sekarang ini menurut Menhut, Visi Penangkaran Badak Sumatera ini masih ada dan dipertahankan? Kok, Saya melihat konsern para pelaku konservasi badak saat ini malah berkurang"

o Betul, saya juga merasakan mereka yang sekarang ini mengerjakan konservasi badak konsern sungguh-sungguhnya terhadap nasib badak ini menjadi berkurang. Beberapa karyawan mengaku frustasi dan apatis. Tapi tidak ada pilihan.

o Saya pikir-pikir, dan saya rasa mereka yang memperhatikan benar nasib badak Sumatera di penangkaran, saat ini akan bertanya: Quo Vadis Penangkaran Badak Sumatera? Mau kemana?

o Mengapa begitu? Karena, begini....SRS itu dulu dibangun untuk menyelamatkan badak-badak dari kebun binatang, maka seharusnya semua badak yang dari Indonesia harus kembali ke Indonesia dan masuk SRS.

o Seperti saya cerita tadi, badak yang kembali cuma dari Inggris dan Indonesia, badak-badak dari AS tiga ekor tidak kembali. Seandainya kembali, semua potensi sudah dikembangkan semestinya.

o Kenyataannya dari AS tidak kembali, karena pemerintah Indonesia tidak sungguh-sungguh ingin menjalankan program dan komitmen itu, serta lemah di hadapan pihak asing. Mungkin karena sebagian besar dana dari sana, dan jenis dukungan dana yang men-drive. Kemungkinan pihak kita tertekan. Padahal potensi dana bersih bebas tekanan, dari pihak lain dalam dan luar negeri banyak tapi tidak diupayakan.

o Padahal sadar betul bahwa tujuan SRS menyelamatkan badak-badak di penangkaran.

o Ketika badak masuk SRS tahun 1998, cuma satu dari yang tersisa dari Inggris dan dua badak dari Indonesia (itu pun satu yang dari Ragunan bukan asli Indonesia, tapi dari hasil pertukaran dengan badak Malaysia).

o Dua yang kemudian, Ratu dan Rosa, kita tahu karena mereka keluar dari hutan tempat hidup asli mereka di Lampung.

o Kemudian di alam, justru semakin tidak pasti, bagaimana situasi perlindungan badak karena jumlah saja tidak diketahui, sehingga bahkan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kemenhut tidak memasukkannya ke dalam daftar 12 satwa liar prioritas.

o Bayangkan, data populasi valid saja tidak punya, jadi bagaimana mau bilang perlindungan badak Sumatera baik atau tidak, sesuai visi atau tidak, padahal RPU sudah mulai sejak 1995. Tidak ada tren data populasi badak itu apakah menurun, meningkat atau tetap.

"RPU kan juga dioperasionalkan oleh YABI? Menurut Anda apa yang terjadi, padahal RPU sudah berjalan lama."

o Nampaknya apa yang berjalan sekarang ini, yaitu pola manajemen konservasi badak perlu dilihat lagi masih sesuai atau tidak dengan Visi Konservasi Badak Indonesia yang dulu menjadi dasar pendirian Yayasan SRS, Yayasan Mitra Rhino (YMR) dan PKBI (RPU) sebagai cikal bakal YABI.

o RPU Di TN Ujung Kulon sudah jelas sedang dipertanyakan karena ada empat bangkai badak ditemukan tinggal tulang belulang, dan bukan ditemukan oleh mereka. Kemana mereka berpatroli? Bagaimana pengaturannya?

o Setahu saya, karena ikut juga sejak pembentukan awal, RPU haruslah garda terdepan dalam perlindungan badak. Perlindungan dalam arti pengamanan bukan cuma dari pemburu, tapi juga dari penyebab lainnya, semisal penyakit. Karena itu, kematian badak seharusnya jadi krisis, apa pun itu penyebabnya. Penyakit harus dicari penyakit apa supaya tidak menular ke badak lainnya. Bisa habis seluruh populasi kalau tidak serius mencari dan menanggulanginya.

o Di BBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung, Red) dulu, badak masih terjerat dan masih hidup bisa ditemukan walau akhirnya pun mati karena kurang peralatan memutus jerat. Itu RPU yang benar bisa menemukan badak dalam kondisi baru terjerat, sehingga kemungkinan terselamatkan besar. Dalam Strategi Badak jelas disebutkan rute-rute patroli tidak hanya di jalur utama, tapi juga di lokasi-lokasi dimana jejak ditemukan.

o Tapi bukan cuma YABI yang terlibat dalam konservasi badak di Indonesia, ada juga WWF, WCS, YLI, BPKEL, dan pelaku konservasi badak lain, termasuk Ditjen PHKA Kemenhut yang juga perlu dipertanyakan. Kok masalah jumlah populasi badak ini begitu tidak pastinya? Padahal itu adalah sangat amat penting.

o Tidak usah sebut nama ya, tapi pejabat salah satu LSM itu pernah bilang kalau menghitung jumlah badak bukan tugas kami, tapi tugas Ditjen PHKA Kemenhut. Tapi menurut saya, mereka harus konsern dong.., termasuk mendorong PHKA untuk sungguh-sungguh bersama-sama melakukan penghitungan jumlah populasi badak ini sejak dulu.

o Sebab kalau jumlah badak sebagai indikator terpenting keberhasilan perlindungan tidak diutamakan, kapan tiba-tiba serius dihitung jumlahnya oleh seorang peneliti, gampang banget dong ngeles (menghindar, Red) Kita udah patroli terus kok, udah jaga terus kok.. tapi kalo hasilnya begitu ya gak tau ya.

o Maksudnya, ini jadi pelajaran untuk semua unit perlindungan satwa langka kalau mau dibuat unit perlindungannya, indikator utama adalah jumlah populasi yang lebih akurat, biar mudah dievaluasi dan dilihat efektivitasnya kalau pun perlu dimodifikasi kegiatannya. Kalau tidak mampu yang lebih jangan bikin unit perlindungan karena hanya buang-buang sumber daya.

"Kabarnya di TNBBS, badak-badak di sana menghilang dari lokasinya selama ini.. Kalau benar seperti itu, apa kemungkinan penyebabnya?"

o Bisa jadi badaknya pindah karena lokasi tidak lagi aman terutama di sekitar jalan membelah kawasan hutan TNBBS itu, terlalu banyak kendaraan lewat sekarang ini. Tapi kalau badaknya pindah, RPU kan bisa menjejak, jadi seharusnya tahu kemana pindahnya.

o Bisa juga diburu. Hari gini komunikasi sudah canggih. Kalau Intelijen tidak jalan, atau RPU terlalu rutin, malah bisa terjadi kontraintelijen dari para pemburu. Bayar saja orang mudah kan, tahu kapan RPU masuk, kapan keluar. Apalagi kalau ternyata di dalam hutan RPU sudah tidak sebagus dulu, artinya tidak lagi bersemangat (karena masalah-masalah nonteknis). Jadi di lapangan tidak benar-benar menjejak badak kemana perginya, dan tidak lagi awas dengan informannya pemburu di sekitar mereka. Mereka cuma masuk hutan karena tugasnya masuk hutan, laporan bisa dibuat. Wah kalau itu benar terjadi gawat sekali. Bisa habis badak-badak kita.

o Nilai cula badak sangat tinggi sekarang ini. Ada Rhino war di Afrika saat ini. Pemburu-pemburu Vietnam berburu ke Afrika cuma karena rumor satu pejabatnya sembuh dari peyakit jantung karena obat cula badak. Bisa jadi mereka juga ke sini memburu badak di sini.

o Jadi pemburu sekarang bisa jadi leluasa berburu karena kontra intelijennya berhasil. Lalu semua bagian tubuh badak yang laku dijual diambil, dari cula, kulit, tulang, kuku, daging. Sisanya dikubur, beres deh.... gak ada jejaknya. Tahu-tahu populasi badak menurun drastis. Atau bahkan tidak tahu menurun atau tidak, karena jumlahnya yang benar dulu juga tidak tahu.

o RPU dulu dibangun satu paket, yaitu patroli, survei populasi, community outreach dan intelijen. Semuanya harus jalan paralel. Kalau cuma patroli saja percuma. Menangkap pelaku pemburu lapangan saja percuma.

o Lalu Community Outreach (biasa kita singkat CO) supaya masyarakat membantu RPU. Anggota RPU direkrut dari komunitas terdekat taman nasional, jangan dari yang jauh-jauh, supaya jadi agent CO itu. Kalau masyarakat lokal tidak dibantu meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri, mereka malah akan membantu pemburu terus dan bukan membantu RPU. Atau bahkan jadi perambah.

o Jadi saya tidak heran, kalau kemudian badak tidak serius dihitung, akibatnya, walau ada patroli terus, badak tetap hilang. Populasi badak harusnya jadi indikator keberhasilan perlindungan, seperti terjadi di negara-negara lain, dengan perlindungan ketat serius terbukti jumlah badak meningkat drastis.

"Anda sudah terjun dalam konservasi badak selama 20 tahunan lebih, apa saja pengalaman pribadi paling mengesankan dengan badak Sumatera ini?"

o Saya pernah meneliti badak-badak awal di SRS itu, ketika mereka masih di Kebun Binatang Ragunan Jakarta dan Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor tahun 1988 yang kemudian menjadi bahan bagi skripsi saya, dan penelitian selama dua tahun 1990-1992 dari program Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan BII.

o Salah satu usulan saya, badak Sumatera tidak selayaknya diteruskan dipelihara di kebun binatang, mereka selayaknya dilepas kembali atau dipelihara secara lebih alami, karena variasi spesies makanan banyak, kandang lebih luas, karena badak Sumatera satwa 'soliter' dan penjelajah serta butuh variasi ruang untuk beraktivitas, termasuk variasi jenis daun makanan mereka....seperti sudah saya jelaskan tadi. Mereka menderita dan stress di lokasi yang kurang ruang jelajah (space), kurang variasi makanan, banyak pencemaran, dan sebagainya.

o Tentu saja, menjadi saksi langsung dan sebagai pengelola SRS sejak badak-badak itu masuk lokasi SRS adalah pengalaman tak terlupakan. Membuktikan sendiri, melihat betapa senang mereka diberikan kandang minimal lima hektare per ekor badak di hutan asli habitat badak Sumatera itu. Jelas jauh berbeda dengan kondisi mereka ketika di kebun-kebun binatang dan taman safari.

o Mereka bisa membuat kubangan sendiri, mencari makanan sendiri, dan salah satu yang mati akhirnya, yaitu Dusun pada tahun 2001, ditemukan mati benar-benar bukan karena infeksi tapi karena penuaan alami.

o Bahkan cacing pun tidak ditemukan di saluran pencernaannya (biasanya pada badak-badak yang mati banyak cacingnya, karena rata-rata mati karena penyakit saluran pencernaan), ini membuktikan bahwa hutan di SRS memberikan variasi daun makanan badak, di antaranya mungkin adalah obat-obatan alami buat mereka sehingga penyakit bisa pergi.

o Pengalaman menarik adalah ketika bersama-sama dengan para perawat (keeper) dan karyawan SRS yang notabene anak-anak lokal putus sekolah, tapi sangat antusias belajar dan sangat semangat berdedikasi, mengembangkan cara pengamatan perilaku badak. Karena saya sadar betul merekalah yang paling sering kontak dengan badak, jadi harus paling tahu perilaku badak itu. Ternyata mereka bisa dan mampu. Jadi kalau mau kasih selamat atas kelahiran badak jantan di SRS TNWK itu, para keeper-lah yang pertama-tama harus diberi selamat atas kelahiran bayi badak (Andatu) di SRS.

"Saran anda kepada pengelola SRS di TNWK"

o Saya pikir, harus kurangi intervensi kepada badaknya. Ini masalah manajemen kesehatan. Maksud kita membangun SRS 'kan supaya lebih sedikit intervensi manusia, sehingga untuk pengobatan pun, dari pengalaman Dusun, kita bisa mengupayakan penyembuhan alaminya.

o Penanganan badak betina dan kelahiran seperti sekarang ini, juga tidak perlu terlalu sering menggunakan ultrasonografi (USG) yang terus menerus, karena itu juga dapat menyakiti.

o Saya khawatir ini ada drive lagi cara penanganan khas kebun binatang dari pendonor yang sebagian besar kebun-kebun binatang AS, membuat SRS, kecuali tentang 'space' dan makanannya, justru menurun 'status' nya malah menjadi seperti kebun binatang juga.

o Usul saya lainnya, seharusnya seluruh badak di Amerika Serikat (Ipuh, Suci dan Harapan) dapat dikembalikan ke Indonesia, untuk menunjukkan bahwa niat baik mendahulukan keberhasilan penangkaran alami untuk penguatan populasi alami terbukti. Baru kita diskusikan selanjutnya, badak-badak ini akan diapakan sebaiknya.

o Amerika Serikat bilang bahwa badak jantan Ipuh terlalu tua untuk pindah. Saya kok tidak yakin, karena dulu kami tidak diberi akses dan informasi selengkapnya tentang kondisi Ipuh. Kita harus benar-benar yakin dan leluasa memeriksa sendiri. Pihak AS harus terbuka, jangan ada yang disembunyikan.

o Badak jantan Ipuh masih bisa dipasangkan dengan Bina. Sementara mungkin Harapan bisa dijodohkan dengan Rosa. Lalu untuk Suci bisa diambil sperma dari badak di Sabah, atau ya....itu tadi mencari badak jantan liar yang tidak merusak populasi alam. Tapi, itu opsi paling akhir. Sudah terlalu banyak badak diambil dari alamnya, tapi hasil baru belum meyakinkan.

o Selanjutnya, harus dipastikan bahwa visi SRS TNWK masih untuk memperkuat populasi alam, dan dibuat target-target misi dengan skala waktu dan upaya maksimal. Bila tidak, dilepas saja semua. Terlalu banyak kerugian telah dibuat dari penangkaran badak Sumatera ini.

o Seperti pernah dibilang peneliti badak sangat senior, Kathy Mackinnon, dan rekannya peneliti gajah, Charles Santiapillai, dalam tulisannya tahun 1990 an, bahwa memelihara badak di penangkaran dengan sumber daya yang sama dengan melindungi badak di alam, jelas jauh berbeda hasilnya. Perlindungan in-situ murah, dan jelas hasilnya. Penangkaran mahal dan belum jelas hasilnya. Terbukti pada badak-badak jenis lain. Biarkan badak hidup bebas di alam saja. Badak tidak perlu jadi hiburan dulu, cuma karena orang-orang cenderung ingin lebih mudah melihat mereka, jadi dikandangkan saja. Biarkan mereka tumbuh bertambah banyak dulu di habitatnya, baru setelah lebih dari cukup jumlahnya, bisa ditangkarkan. Itu yang terjadi pada badak-badak Afrika dan India, dan seharusnya pada satwa-satwa langka lainnya. Tugas kita memastikan hutan tetap terjaga.

o Oh ya...., SRS harus terbuka, seperti tadi kepada peneliti, dan untuk pendidikan konservasi. Ekowisata termasuk dalam pendidikan konservasi, dan tentu saja untuk kunjungan pelajar atau mahasiswa. SRS tidak boleh eksklusif, itu melawan kodratnya.

o Ekowisata yang baik harus dikembangkan. SRS terlanjur ada jadi untuk menebus dosa tadi juga, seharusnya jadi sarana pendidikan berkualitas sangat tinggi dengan melihat badak di alam liar (ekowisata minat khusus), jadi pantas "dijual" lebih mahal (untuk para pemilik duit banyak yang utamanya menyumbang konservasi bukan melihat badak) bahkan dari melihat Gorila di alam asli di Afrika, karena di Way Kambas satu-satunya di dunia. Melihat badak Sumatera di alam liar asli sangat-sangat sulit. Wajar kan bila itu dilakukan di SRS.

o Tentu, perlu ada kuota dan pembatasan waktu kunjungan dan perbedaan tarif antara lokal, nasional, internasional. Lalu, ada pengaturan untuk pendidikan lokal, sekolah lokal, masyarakat lokal, mungkin malah gratis, tapi tentu diatur gilirannya. Di Afrika, kunjungan ke Gorila tidak sepanjang tahun, dibatasi pada bulan-bulan tertentu agar tidak mengganggu, termasuk memberi waktu kepada masyarakat lokal. Saat ini bila kita mau lihat gorila di alam liar di Rwanda, kita harus antre satu tahun. Tapi hasilnya jelas, taman nasional itu bisa membiayai 12 taman nasional lainnya!

o Jadi, sinyalemen Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan bahwa kita tidak butuh dana asing, apalagi donor yang suka men-drive karena mungkin ada agenda tersembunyi, itu betul sekali. Sayangnya, nampaknya Menhut dan Dirjen PHKA maunya dana dari swasta negeri ini yang notabene perusahaan-perusahaan yang belum tentu bersih dari kasus merusak hutan. Boleh-boleh saja, asal benar diselidiki dan diusut secara terbuka-transparan, apa mereka bukan perusahaan pulp atau kelapa sawit perusak hutan. Ibarat kata, dana dari perusahaan perusak hutan untuk konservasi, adalah "seperti memotong daging di tangan atau kaki kita sendiri, atau dari bagian tubuh lain untuk kita makan". Hanya peduli mulut dan perut kenyang sih.

o Padahal dengan ekowisata yang dikemas sangat profesional, dana konservasi dapat sangat berlimpah, lihat Costa Rica di Amerika Tengah, negara-negara Afrika dan bahkan tidak usah jauh-jauh, Malaysia, India, dan Nepal adalah contoh ekowisata minat khusus satwa liar yang bisa mendukung konservasi.

"Apa saja hal penting sebenarnya untuk pemeliharaan badak, termasuk untuk bayi badak Andatu di SRS TNWK yang baru beberapa hari lahir ini?"

o Oh ya, kembali kepada pemeliharaan dan perilaku, semua badak di SRS, termasuk tentu saja Rosa dan Ratu yang tidak pernah di penangkaran, tetap merasa 'home' (seperti di rumah habitatnya sendiri, Red) ketika di SRS, walaupun terbatas, masih tetap tidak seluas di hutan asli tapi jelas lebih baik dari di kebun binatang.

o Sejak awal keeper (perawat) badak sudah kami latih untuk membiasakan pengamatan perilaku badak, sehingga adanya perubahan perilaku menjadi indikator adanya masalah atau tanda-tanda sesuatu yang kurang normal.

o Pemeriksaan cepat dengan tanpa menyakiti, bisa dilakukan tanpa mengurangi efektivitas pemeriksaan. Semua itu benar-benar efektif, para keeper menjadi mengenal betul perilaku badak-badak yang ditangani.

o Tapi saya juga ingin meng-highlight, kesejahteraan para keeper juga harus benar-benar diberikan. Mereka adalah garda terdepan dalam pemeliharaan badak. Kenyamanan mereka bekerja harus sangat-sangat diprioritaskan. Jangan sampai mereka stress berlebihan, karena bisa mempengaruhi badaknya. Kita tahu bila kita dekat dengan satwa seperti peliharaan di rumah, pemiliknya stress, binatang juga ikutan. Ada hubungan energi positif kehidupan di sini, jangan pernah disepelekan.

o Sebagai contoh, pernah suatu ketika badak Bina terlihat aneh, sekali-sekali dia berhenti pada batang pohon dan menundukkan kepala lalu menempelkan kepala ke batang pohon seolah-olah pening. Seperti ada sesuatu yang tidak enak dirasakan. Kemudian tentu dengan cepat keeper Bina melihat catatan pengamatannya, ternyata dari pagi Bina tidak terlihat kencing.

o Lalu kami amati, memang kelaminnya menunjukkan seperti mau kencing tapi tidak keluar dan hanya tetes sedikit, lalu bekas-bekas kencing yang hanya sedikit. Jadi, bahkan saat dan frekuensi kencing badak sehari saja dicatat dan diamati. Rupanya benar-benar Bina mengalami kesulitan kencing tapi tentu sulit diketahui penyebabnya, dan kami tidak perlu obat-obatan mahal, cukup dengan mentimun dalam jumlah cukup banyak (setelah diskusi saya dengan para keeper, pengalaman ketika mengobati ternak peliharaan mereka di rumah), kami beri kepada Bina, dan dalam sejam ia kencing banyak sekali seperti pancuran. Setelah itu, kami amati perilakunya normal kembali.

o Maka mengenali benar-benar dan menguasai perilaku satwa liar adalah ilmu terpenting ketika kita berhubungan dengan mereka, karena dari perilaku itulah mereka "berbicara" apa yang sedang terjadi dengan mereka, normalkah, sakitkah, ingin kawinkah, dan sebagaimana.

o Jadi untuk badak bayi, pelajari sebanyak-banyaknya referensi, dengarkan cerita yang pernah mengalami memelihara bayi badak Sumatera, walau tidak akan jauh beda dengan satwa lain. Yang terpenting..serahkan saja pemeliharaan bayi badak pada sang ibu, Ratu. Biarkan Ratu bergerak bebas di kandang hutan yang memungkinkan seluasnya.

o Sekali lagi perilaku itu penting. Jadi kalau yang di Amerika Serikat ada, minta copy catatan asli laporan pengamatan perilaku bayi badak. Mudah-mudahan itu sudah ada.

o Pengalaman paling menarik dan tidak ada duanya adalah berjalan bersama empat hari empat malam, naik turun gunung melewati hutan primer bersama badak betina Rosa dari sebuah kampung dekat TNBBS ke sisi lain BBS itu, dimana ada akses jalan dan karantina, sebelum ditranslokasi ke SRS TNWK. Kami bersama tim SRS, RPU TNBBS dan tim peneliti para sarjana Kedokteran Hewan IPB dan Biologi Universitas Wageningen Belanda. Wah.... itu adalah pegalaman paling menakjubkan. Bayangkan, Rosa, seekor badak liar, berjalan bersama manusia tanpa masalah berarti. Rosa memang fenomenal karena dia adalah badak liar yang tidak memusuhi manusia. Dalam perjalanan dan masa penangkaran itu, kami juga meneliti perilakunya.

o Buat saya pengalaman empirik membuktikan kebenaran keinginantahuan saya bahwa perilaku satwa liar adalah yang terpenting. Ini sesuai dengan catatan pengamatan, pengalaman dan penelitian saya tentang perilaku badak Sumatera ketika di kebun binatang dan di SRS TNWK; bila kita mau berhubungan dengan satwa liar. Syaratnya kata-kata mereka akan lebih terbaca kalau mereka bebas bergerak, sehingga ada variasi lebih banyak dari aktivitas mereka. Tidak hanya rutin makan tidur.

o Saya membayangkan seandainya dulu (tahun 1998-2000), selain Torgamba dari Inggris, Ipuh dan Emi dari Amerika Serikat bisa juga balik ke Indonesia, kita punya dua jantan dan tiga betina (pas untuk SRS yang punya 10 unit kandang masing-masing sekitar lima hektar, yang bisa digabung menjadi lima kandang double yang bisa dipakai bergantian tiap badak, breeding di SRS lebih "moncer", sehingga lebih cepat mencapai target dan sasaran SRS, dan sangat mungkin sekarang ini kita justru sudah melepas atau reintroduksi badak-badak ke alam (taman nasional) yang kosong badaknya, seperti Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), tapi tentu terlindungi, supaya tidak justru lebih mudah diburu lagi.

"Masih adakah pesan terakhir ingin disampaikan?"

o Bagaimana pun sekali lagi kita perlu memberi selamat kepada pengelola SRS TNWK terutama para perawat badak yang pasti telah menunggui siang malam, atas kelahiran bayi badak anak Ratu yang fenomenal ini. Semoga segera terjadi konsolidasi semua pekerja dan pendukung konservasi badak Sumatera di penjuru dunia dengan komitmen penuh untuk dicari jalan keluar yang terbaik bagi badak-badak Sumatera di penangkaran. Cocok kan dengan Tahun International Badak 2012 yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun ini. Semoga Ratu dan bayinya, dan semua badak Sumatera di penangkaran tetap sehat, dan yang di alam lebih serius dilindungi dengan cara-cara yang benar.****



Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026