Logo Header Antaranews Lampung

Kenaikan Harga BBM Ungkit Harga Lada ?

Jumat, 30 Maret 2012 08:23 WIB
Image Print
Suratman, pekebun lada Pancanegeri, Blambanganumpu, Waykanan, Lampung, menunjukkan buah lada muda di kebunnya, (Foto ANTARA LAMPUNG /Gatot Arifianto)

Waykanan (ANTARA LAMPUNG) - Sejumlah pekebun lada di Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung mengharapkan harga lada bisa terungkit seiring kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang direncanakan mulai 1 April.

"Jika harga BBM naik, harga lada sepatutnya juga naik, karena harga pupuk dan transportasi juga naik," kata pekebun lada dari Dusun Pancanegeri, Kampung Gunungsangkaran, Kecamatan Blambanganumpu, Suratman, di Waykanan yang berada sekitar 200 km utara Kota Bandarlampung, Jumat.

Ia menyebutkan, harga lada di pasaran saat ini Rp40 ribu per kilogram. Harapan pekebun harga lada bisa naik menjadi Rp50 ribu/kg.

Suratman mengatakan, bertanam lada gampang-gampang susah dan seringkali tidak berbuah jika hujan berkepanjangan. Selain itu, banyak pekebun lada setempat yang sudah beralih bertanam karet sehubungan bisa di panen setiap hari.

"Kalau lada biasa dipanen setahun sekali, kalau ada kemarau dan panas yang cukup, maka akan ada buahnya, jika hujan terus-terusan maka tidak berbuah, tahun lalu tanaman lada saya juga tidak panen," kata dia.

Ia menambahkan, satu hektare lahan yang dimilikinya digunakan untuk bertanam kopi dan tanaman penyelangnya tanaman lada.

Kebun itu lanjutnya, merupakan penopang ekonomi keluarga.

"Tetapi sekarang banyak pohon lada saya yang mati karena daerah kami merupakan dataran rendah," ujarnya.

Meski demikian, ia optimistis sejumlah pohon lada yang dimilikinya akan menghasilkan buah yang cukup bagus sehubungan adanya panas yang cukup.

Fenomena pergantian lahan lada menjadi perkebunan karet terjadi di beberapa daerah di selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Provinsi Sumatera Selatan itu.

Suparno, pekebun lada dari Kampung Negeriujan Mas, Kecamatan Gununglabuhan mengatakan banyak pekebun lada yang beralih beralih ke karet.

Meski demikian, ia mengaku tetap bertahan menanam dan merawat tumbuhan bernama ilmiah "piper nigrum" dilahannya.

"Kalo tidak kita siapa lagi yang akan menanam lada," kata dia menambahkan.



Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026