Seniman sejati wakili kepekaan atas keadilan sosial
Rabu, 6 Oktober 2021 5:53 WIB
Tangkapan layar diskusi publik yang digelar Dewan Kesenian Jakarta bertajuk "Mural, Estetika, Etika dalam Perspektif Ekspresi Demokrasi", Selasa, (5/10/2021) (ANTARA/Suci Nurhaliza)
Jakarta (ANTARA) - Kurator seni Bambang Asrini Widjanarko mengatakan bahwa seniman, termasuk seniman pembuat mural, yang sejati adalah seniman yang dapat mewakili kepekaan atas keadilan sosial.
"Seniman mewakili publik. Ada negosiasi mana (karya) yang personal, mana yang komunal. Bahwa seniman yang mewakili publik itu sudah seharusnya," kata Bambang dalam diskusi publik yang digelar Dewan Kesenian Jakarta bertajuk "Mural, Estetika, Etika dalam Perspektif Ekspresi Demokrasi", Selasa.
Dengan demikian, Bambang melanjutkan, sudah seharusnya para seniman jalanan tidak takut untuk menyuarakan hak kepada para penguasa. Tidak hanya negara, tetapi juga organisasi massa.
Bambang juga mengatakan, ekspresi dalam seni tak bisa dilarang namun bisa direduksi.
Bambang lalu menyoroti salah satu karya seorang seniman di Jakarta yang bertuliskan "Aku tak percaya hari akhir, aku percaya Jakarta hujan sedikit pasti banjir." Menurutnya, karya tersebut sangat baik karena pesannya dapat ditangkap meski penyampaiannya tidak begitu frontal.
"Tentu karya tersebut menggelitik kita dan membuat penguasa juga akan berpikir. Itu yang saya kasih pesan ke teman-teman agar terjadi lobbying yang tidak langsung frontal head to head," katanya.
Bambang mengatakan, street art atau seni jalanan pada dasarnya sangat beragam karena adanya pop culture dan ruang-ruang yang beririsan dengan industri, sementara ada keinginan dalam diri seniman untuk tetap anonim.
Maka, menurut Bambang, dibutuhkan kedewasaan dalam diri seniman misalnya dengan membuat asosiasi atau kelompok yang kuat untuk bisa bersuara. Selain itu, perlu adanya fasilitas dan ruang dialog yang disediakan.
"Saya melihat bahwa Undang-undang Pemajuan Kebudayaan belum termanifestasi dalam kelompok-kelompok yang begitu banyak. Itu harus ada progres. Mesti ada ruang untuk terjadinya dialog," katanya.
"Saya juga membayangkan Dewan Kesenian Jakarta sebagai institusi kesenian yang memfasilitasi sayembara mural, bukan kepolisian," pungkasnya.
"Seniman mewakili publik. Ada negosiasi mana (karya) yang personal, mana yang komunal. Bahwa seniman yang mewakili publik itu sudah seharusnya," kata Bambang dalam diskusi publik yang digelar Dewan Kesenian Jakarta bertajuk "Mural, Estetika, Etika dalam Perspektif Ekspresi Demokrasi", Selasa.
Dengan demikian, Bambang melanjutkan, sudah seharusnya para seniman jalanan tidak takut untuk menyuarakan hak kepada para penguasa. Tidak hanya negara, tetapi juga organisasi massa.
Bambang juga mengatakan, ekspresi dalam seni tak bisa dilarang namun bisa direduksi.
Bambang lalu menyoroti salah satu karya seorang seniman di Jakarta yang bertuliskan "Aku tak percaya hari akhir, aku percaya Jakarta hujan sedikit pasti banjir." Menurutnya, karya tersebut sangat baik karena pesannya dapat ditangkap meski penyampaiannya tidak begitu frontal.
"Tentu karya tersebut menggelitik kita dan membuat penguasa juga akan berpikir. Itu yang saya kasih pesan ke teman-teman agar terjadi lobbying yang tidak langsung frontal head to head," katanya.
Bambang mengatakan, street art atau seni jalanan pada dasarnya sangat beragam karena adanya pop culture dan ruang-ruang yang beririsan dengan industri, sementara ada keinginan dalam diri seniman untuk tetap anonim.
Maka, menurut Bambang, dibutuhkan kedewasaan dalam diri seniman misalnya dengan membuat asosiasi atau kelompok yang kuat untuk bisa bersuara. Selain itu, perlu adanya fasilitas dan ruang dialog yang disediakan.
"Saya melihat bahwa Undang-undang Pemajuan Kebudayaan belum termanifestasi dalam kelompok-kelompok yang begitu banyak. Itu harus ada progres. Mesti ada ruang untuk terjadinya dialog," katanya.
"Saya juga membayangkan Dewan Kesenian Jakarta sebagai institusi kesenian yang memfasilitasi sayembara mural, bukan kepolisian," pungkasnya.
Pewarta : Suci Nurhaliza
Editor : Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sanggar Seni Lampung Ornamen-BPK VII Lampung Bengkulu gelar pameran "Pamer Pamor"
21 November 2025 10:51 WIB
MPR RI lakukan sosialisasi Empat Pilar lewat kegiatan seni budaya Lampung
19 November 2025 18:54 WIB
Pengukuhan pengurus LASQI Lampung Timur meneguhkan komitmen pelestarian seni Islami
19 November 2025 9:59 WIB
Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata siap lestarikan seni tradisional di Lampung Selatan
24 September 2025 8:35 WIB
Wabup Lampung Selatan sebut seni bela diri pencak silat jadi daya tarik wisata
19 August 2025 18:14 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Pelukis Lampung pun diundang Taman Budaya Kalsel pameran lukis bertaraf nasional
05 August 2022 9:32 WIB, 2022
Badan Pengelola Keuangan Haji dan Dompet Dhuafa salurkan ratusan ekor hewan kurban
17 July 2022 21:29 WIB, 2022