Dispernak Bandarlampung edukasi pedagang tentang bahayanya virus flu babi
Sabtu, 18 Juli 2020 18:02 WIB
Ilustrasi (ANTARA/Dian Hadiyatna/Ho)
Bandarlampung (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Bandarlampung memberikan edukasi kepada penjual daging babi di sejumlah pasar tentang bahaya virus flu babi (G4 EA H1N1) agar lebih waspada.
"Kami kasih tahu bahwa flu babi ini bersifat zoonosis artinya bisa ditularkan ke manusia, sehingga kita harus lebih waspada meskipun menurut beberapa data virus ini belum ditemukan di Indonesia," kata Kasi Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Pertanian Kota Bandarlampung M. Rifki, di Bandarlampung, Jumat.
Selain itu, lanjut dia, untuk meningkatkan kewaspadaan, Dispernak juga terus mengimbau para pedagang agar menjaga kebersihan, baik itu produknya maupun tempat pemotongan atau lapaknya dengan rutin menyemprotkan disinfektan.
Menurutnya, walaupun hingga kini belum ada temuan virus flu babi di Kota Bandarlampung, pihaknya terus berkoordinasi dengan Balai Veteriner Lampung dan Dinas terkait di Provinsi Lampung guna pengawasan para peternak babi yang berada di kabupaten/kota lainnya.
Ia pun menjelaskan, memang beberapa Provinsi di Indonesia ada laporan kematian babi dalam jumlah banyak, namun itu bukan dikarenakan flu babi tapi african swine fever (ASF) yang menular ke babi saja, tapi tidak ke manusia.
"Namun tetap saja semua pihak harus berhati-hati agar virus tersebut tidak masuk ke Indonesia maupun Lampung. Untuk di Kota Bandarlampung, kita sampai saat ini belum menemukan ada kasus G4 EA H1N1 ini, karena di sini juga bisa dikatakan tidak ada peternak babi," kata dia.
Meskipun di kota ini tidak ada populasi babi, kata dia, namun ada beberapa pedagang di sejumlah pasar tradisional di Bandarlampung yang menjual daging tersebut sehingga keluar-masuknya daging itu harus diawasi ketat agar benar-benar aman bagi masyarakat.
"Untuk daging babi biasanya para pedagang memasoknya dari Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Tengah, karena memang di Bandarlampung tidak ada populasinya," kata dia.
"Kami kasih tahu bahwa flu babi ini bersifat zoonosis artinya bisa ditularkan ke manusia, sehingga kita harus lebih waspada meskipun menurut beberapa data virus ini belum ditemukan di Indonesia," kata Kasi Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Pertanian Kota Bandarlampung M. Rifki, di Bandarlampung, Jumat.
Selain itu, lanjut dia, untuk meningkatkan kewaspadaan, Dispernak juga terus mengimbau para pedagang agar menjaga kebersihan, baik itu produknya maupun tempat pemotongan atau lapaknya dengan rutin menyemprotkan disinfektan.
Menurutnya, walaupun hingga kini belum ada temuan virus flu babi di Kota Bandarlampung, pihaknya terus berkoordinasi dengan Balai Veteriner Lampung dan Dinas terkait di Provinsi Lampung guna pengawasan para peternak babi yang berada di kabupaten/kota lainnya.
Ia pun menjelaskan, memang beberapa Provinsi di Indonesia ada laporan kematian babi dalam jumlah banyak, namun itu bukan dikarenakan flu babi tapi african swine fever (ASF) yang menular ke babi saja, tapi tidak ke manusia.
"Namun tetap saja semua pihak harus berhati-hati agar virus tersebut tidak masuk ke Indonesia maupun Lampung. Untuk di Kota Bandarlampung, kita sampai saat ini belum menemukan ada kasus G4 EA H1N1 ini, karena di sini juga bisa dikatakan tidak ada peternak babi," kata dia.
Meskipun di kota ini tidak ada populasi babi, kata dia, namun ada beberapa pedagang di sejumlah pasar tradisional di Bandarlampung yang menjual daging tersebut sehingga keluar-masuknya daging itu harus diawasi ketat agar benar-benar aman bagi masyarakat.
"Untuk daging babi biasanya para pedagang memasoknya dari Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Tengah, karena memang di Bandarlampung tidak ada populasinya," kata dia.
Pewarta : Dian Hadiyatna
Editor : Samino Nugroho
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Babi yang mati mendadak di Maua Hilia Agam positif terpapar flu babi Afrika
24 December 2021 6:23 WIB, 2021
Gubernur NTT usul bangun labkes hewan tangani virus flu babi Afrika
22 September 2021 14:02 WIB, 2021
Kasus flu babi, Jerman meminta China terapkan larangan impor terbatas
12 September 2020 5:46 WIB, 2020
Antisipasi flu babi, Karantina Lampung perketat pengawasan lalu lintas ternak
04 July 2020 9:33 WIB, 2020