Pringsewu Lampung cegah penyakit berbasis lingkungan melalui IPAL
Sabtu, 12 Oktober 2019 11:45 WIB
IPAL komunal kurangi penyebaran penyakit berbasis lingkungan di Pringsewu, Sabtu (12/10/2019) ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi
Pringsewu (ANTARA) - Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pringsewu, Lampung, dalam mengurangi dan mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan.
"Sanitasi menjadi urusan utama karena berkaitan dengan kesehatan masyarakat, bila sanitasi dapat teratasi maka segala permasalahan juga akan ikut teratasi sebab kita memiliki sumber daya manusia yang sehat, " ujar Bupati Pringsewu Sujadi di Pekon Rejosari Pringsewu, Sabtu.
Menurutnya, segala permasalahan sanitasi seperti limbah air rumah tangga, air bersih dan tinja telah mendapatkan dukungan pemerintah melalui perda (peraturan daerah) yang proses perumusannya hanya membutuhkan waktu enam bulan.
"Permasalahan mengenai sanitasi menjadi salah satu fokus utama karena menyangkut sumber daya manusia, dan juga kesehatan. Melalui berbagai upaya ini harapannya di Pringsewu tidak ada lagi bayi stunting atau adanya penyebaran penyakit berbasis lingkungan, " ujarnya.
Di Pringsewu telah terbangun sebanyak 63 IPAL komunal yang tersebar di sembilan kecamatan yang telah beroperasi sejak tahun 2017 yang berguna untuk menampung limbah air rumah tangga dan juga tinja, sehingga di sekitar pekarangan tidak ada lagi saluran air dan air tergenang.
Baca juga: Pemkab Pringsewu gunakan pendekatan agama untuk ubah perilaku BAB sembarangan
" IPAL merupakan kerjasama lintas sektor melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sejak tahun 2013, dan pada tahun 2017 menjadi puncak dari penyadaran masyarakat mengenai perilaku BABS melalui pembangunan 63 IPAL di sembilan kecamatan, sehingga tidak ada lagi saluran air yang menggenang penyebab penyakit, " ujar Suyono perwakilan dinas kesehatan setempat.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Sempeno salah seorang tokoh masyarakat.
Menurutnya, sebelum IPAL terbangun masyarakat banyak yang buang air di kolam lele, sungai, dan saluran air sehingga banyak kubangan air di sekitar lingkungan penyebab utama sejumlah masyarakat terjangkit penyakit DBD secara bersamaan.
"Dulu sebelum ada IPAL banyak kubangan air untuk buang air besar warga dan pembuangan air limbah rumah tangga penyebab penyakit DBD di Pekon Wonodadi, tetapi untungnya prilaku masyarakat untuk tidak buang air besar sembarangan dapat berubah dengan cepat dan dibangun IPAL, sehingga adanya penyakit berbasis lingkungan dapat di cegah dan dikurangi, " tambah Sumpeno.
Baca juga: Sinergi kunci gerakan sanitasi berbasis masyarakat di Pringsewu
"Sanitasi menjadi urusan utama karena berkaitan dengan kesehatan masyarakat, bila sanitasi dapat teratasi maka segala permasalahan juga akan ikut teratasi sebab kita memiliki sumber daya manusia yang sehat, " ujar Bupati Pringsewu Sujadi di Pekon Rejosari Pringsewu, Sabtu.
Menurutnya, segala permasalahan sanitasi seperti limbah air rumah tangga, air bersih dan tinja telah mendapatkan dukungan pemerintah melalui perda (peraturan daerah) yang proses perumusannya hanya membutuhkan waktu enam bulan.
"Permasalahan mengenai sanitasi menjadi salah satu fokus utama karena menyangkut sumber daya manusia, dan juga kesehatan. Melalui berbagai upaya ini harapannya di Pringsewu tidak ada lagi bayi stunting atau adanya penyebaran penyakit berbasis lingkungan, " ujarnya.
Di Pringsewu telah terbangun sebanyak 63 IPAL komunal yang tersebar di sembilan kecamatan yang telah beroperasi sejak tahun 2017 yang berguna untuk menampung limbah air rumah tangga dan juga tinja, sehingga di sekitar pekarangan tidak ada lagi saluran air dan air tergenang.
Baca juga: Pemkab Pringsewu gunakan pendekatan agama untuk ubah perilaku BAB sembarangan
" IPAL merupakan kerjasama lintas sektor melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sejak tahun 2013, dan pada tahun 2017 menjadi puncak dari penyadaran masyarakat mengenai perilaku BABS melalui pembangunan 63 IPAL di sembilan kecamatan, sehingga tidak ada lagi saluran air yang menggenang penyebab penyakit, " ujar Suyono perwakilan dinas kesehatan setempat.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Sempeno salah seorang tokoh masyarakat.
Menurutnya, sebelum IPAL terbangun masyarakat banyak yang buang air di kolam lele, sungai, dan saluran air sehingga banyak kubangan air di sekitar lingkungan penyebab utama sejumlah masyarakat terjangkit penyakit DBD secara bersamaan.
"Dulu sebelum ada IPAL banyak kubangan air untuk buang air besar warga dan pembuangan air limbah rumah tangga penyebab penyakit DBD di Pekon Wonodadi, tetapi untungnya prilaku masyarakat untuk tidak buang air besar sembarangan dapat berubah dengan cepat dan dibangun IPAL, sehingga adanya penyakit berbasis lingkungan dapat di cegah dan dikurangi, " tambah Sumpeno.
Baca juga: Sinergi kunci gerakan sanitasi berbasis masyarakat di Pringsewu
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenag sebut kurikulum berbasis cinta jadi jawaban atas tantangan madrasah
08 February 2026 14:17 WIB
Disdik Lampung tingkatkan kemampuan akademik lalui pembiasaan soal berbasis HOTS
14 January 2026 20:21 WIB
Kanwil Kemenag Lampung sebut kurikulum berbasis cinta jadi terobosan penting
19 November 2025 18:52 WIB
Unila laksanakan evaluasi dan profil capaian kinerja kerja sama berbasis model hexahelix
14 November 2025 14:40 WIB
Terpopuler - Pringsewu
Lihat Juga
Bupati Pringsewu terima anugerah gelar "Khadin Mas Narapati Jaya Pamungkas"
14 October 2025 10:34 WIB