Kemagisan kuburan batu Ratenggaro jadi daya tarik
Minggu, 6 Oktober 2019 14:22 WIB
Salah satu kubur batu di dekat Desa Adat Ratenggaro, Kodi Bangedo, Sumba pada Kamis (3/10/2019) (ANTARA/Ida Nurcahyani)
Jakarta (ANTARA) - Sumba Barat Daya tak hanya memiliki keindahan alam pantai nan menawan, namun juga menyimpan kekayaan kisah budaya yang menarik untuk disambangi.
Desa Adat Ratenggaro, terletak di dekat bibir pantai wilayah Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo berjarak kurang lebih 40 kilometer dari Tambolaka yang merupakan pusat kota.
Desa Adat Ratenggaro, Kodi Bangedo, Sumba dilihat dari Pantai Ratenggaro pada Kamis (3/10/2019) (ANTARA/Ida Nurcahyani)
Meski belum ada transportasi umum untuk mencapai ke sana dan masih harus menyewa kendaraan dari Tambolaka, akses jalanan dari Tambolaka menuju Ratenggaro cukup baik, kondisi jalan sudah beraspal dan terpelihara baik sehingga perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 1,5 hingga 2 jam saja.
Memasuki kawasan Desa Adat Ratenggaro, kita disambut jajaran kuburan batu besar mirip menhir lengkap dengan ukiran tatah aksara kuno. Ratenggaro memiliki arti yaitu "Rate" yang berarti kuburan, sedangkan "Garo" yang artinya orang-orang Garo.
"Ada sekitar 300-an kubur batu di atas (Desa Adat Ratenggaro), kalau di bawah sini (dekat pantai Ratenggaro) ada tiga, tiga-tiga ini memiliki kedudukan khusus dulunya makanya batu makamnya besar-besar dan ukirannya bagus," kata Samuel, salah seorang warga Kodi Bangedo pada ANTARA, Kamis (3/10).
Desa yang berudara sejuk meski matahari bersinar terik itu terdiri dari deretan rumah adat yang disebut "Uma Kelada" yakni rumah panggung empat tingkat dengan ciri khas menara menjulang tinggi mencapai 15 meter.
Baca juga: Ahmad Ijtihad rawat kearifan kampung adat Wee Lewo lewat literasi
Atapnya terbuat dari jerami dan tinggi rendahnya atap dibuat berdasarkan status sosial.
Lantai paling bawah digunakan sebagai tempat hewan peliharaan, tingkat kedua adalah tempat pemilik rumah tinggal bersama, tingkat ketiga adalah tempat untuk menyimpan hasil panen.
"Paling atas tempat untuk meletakkan tanduk kerbau sebagai simbol tanda kemuliaan," kata Samuel.
Keelokan Desa Adat Ratenggaro memikat hati Puteri Indonesia 2005 yang kini aktif jadi pegiat lingkungan hidup Nadine Chandrawinata.
Saat mengunjungi desa tersebut, Nadine tampak sangat menikmati bercengkrama dengan anak-anak desa yang mengerumuni dia.
Wakil Indonesia di Miss Universe 2006 itu mengaku senang pergi ke tempat wisata yang memberinya "cerita".
"Sumba selalu jadi favoritku. Aku sudah empat kali trip ke Sumba, tapi ini yang pertama ke sini. Di sini penuh dengan filosofi, setiap kain, alat musik semua ada ceritanya," kata Nadine.
Baca juga: Lembaga Adat Kampung Ratenggaro berdayakan warga sadar wisata berbasis tradisi
Sayangnya, potensi keindahan wisata dan budaya di daerah itu tampaknya belum digarap maksimal oleh pemerintah daerah. Selain tak ada transportasi umum yang memadai, tak ada fasilitas umum tampak di sekitar daerah wisata tersebut
Pemerintah setempat tak memberi komentar lebih lanjut saat dihubungi ANTARA terkait rencana pengembangan wisata di daerah tersebut.
Jika ingin mampir melihat kehidupan di Desa Adat Ratenggaro, jangan lupa membawa oleh-oleh untuk anak-anak desa yang akan senang jika diberi biskuit atau permen dan cokelat.
Baca juga: Kelola wisata kampung adat pemerintah desa di Sumba Barat menggunakan Dana Desa
Baca juga: Seniman Mengajar dan musik Dungga Roro khas Sumba
Desa Adat Ratenggaro, terletak di dekat bibir pantai wilayah Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo berjarak kurang lebih 40 kilometer dari Tambolaka yang merupakan pusat kota.
Desa Adat Ratenggaro, Kodi Bangedo, Sumba dilihat dari Pantai Ratenggaro pada Kamis (3/10/2019) (ANTARA/Ida Nurcahyani)
Meski belum ada transportasi umum untuk mencapai ke sana dan masih harus menyewa kendaraan dari Tambolaka, akses jalanan dari Tambolaka menuju Ratenggaro cukup baik, kondisi jalan sudah beraspal dan terpelihara baik sehingga perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 1,5 hingga 2 jam saja.
Memasuki kawasan Desa Adat Ratenggaro, kita disambut jajaran kuburan batu besar mirip menhir lengkap dengan ukiran tatah aksara kuno. Ratenggaro memiliki arti yaitu "Rate" yang berarti kuburan, sedangkan "Garo" yang artinya orang-orang Garo.
"Ada sekitar 300-an kubur batu di atas (Desa Adat Ratenggaro), kalau di bawah sini (dekat pantai Ratenggaro) ada tiga, tiga-tiga ini memiliki kedudukan khusus dulunya makanya batu makamnya besar-besar dan ukirannya bagus," kata Samuel, salah seorang warga Kodi Bangedo pada ANTARA, Kamis (3/10).
Desa yang berudara sejuk meski matahari bersinar terik itu terdiri dari deretan rumah adat yang disebut "Uma Kelada" yakni rumah panggung empat tingkat dengan ciri khas menara menjulang tinggi mencapai 15 meter.
Baca juga: Ahmad Ijtihad rawat kearifan kampung adat Wee Lewo lewat literasi
Atapnya terbuat dari jerami dan tinggi rendahnya atap dibuat berdasarkan status sosial.
Lantai paling bawah digunakan sebagai tempat hewan peliharaan, tingkat kedua adalah tempat pemilik rumah tinggal bersama, tingkat ketiga adalah tempat untuk menyimpan hasil panen.
"Paling atas tempat untuk meletakkan tanduk kerbau sebagai simbol tanda kemuliaan," kata Samuel.
Keelokan Desa Adat Ratenggaro memikat hati Puteri Indonesia 2005 yang kini aktif jadi pegiat lingkungan hidup Nadine Chandrawinata.
Saat mengunjungi desa tersebut, Nadine tampak sangat menikmati bercengkrama dengan anak-anak desa yang mengerumuni dia.
Wakil Indonesia di Miss Universe 2006 itu mengaku senang pergi ke tempat wisata yang memberinya "cerita".
"Sumba selalu jadi favoritku. Aku sudah empat kali trip ke Sumba, tapi ini yang pertama ke sini. Di sini penuh dengan filosofi, setiap kain, alat musik semua ada ceritanya," kata Nadine.
Baca juga: Lembaga Adat Kampung Ratenggaro berdayakan warga sadar wisata berbasis tradisi
Sayangnya, potensi keindahan wisata dan budaya di daerah itu tampaknya belum digarap maksimal oleh pemerintah daerah. Selain tak ada transportasi umum yang memadai, tak ada fasilitas umum tampak di sekitar daerah wisata tersebut
Pemerintah setempat tak memberi komentar lebih lanjut saat dihubungi ANTARA terkait rencana pengembangan wisata di daerah tersebut.
Jika ingin mampir melihat kehidupan di Desa Adat Ratenggaro, jangan lupa membawa oleh-oleh untuk anak-anak desa yang akan senang jika diberi biskuit atau permen dan cokelat.
Baca juga: Kelola wisata kampung adat pemerintah desa di Sumba Barat menggunakan Dana Desa
Baca juga: Seniman Mengajar dan musik Dungga Roro khas Sumba
Pewarta : Ida Nurcahyani
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Peringatan Hari Kartini, BRI Kantor Cabang Tanjung Karang frontliner gunakan pakaian adat
24 April 2025 10:49 WIB, 2025
Ketua Peradi ajak anggota selesaikan sengketa melalui adat budaya Lampung
21 April 2025 14:41 WIB, 2025
Gubernur Lampung sebut Buka Blangan wujud keterbukaan pemerintah ke rakyat
05 March 2025 21:20 WIB, 2025
Gubernur-Wagub Lampung jalani prosesi adat Ngantak serta Buka Belangan
05 March 2025 21:19 WIB, 2025
Pentingnya pengelolaan kawasan hutan register di Lampung yang berpihak pada masyarakat adat
06 February 2025 20:31 WIB, 2025
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Terjebak cuaca buruk, ratusan wisatawan sudah dievakuasi ke kapal Pelni dari Karimunjawa
28 December 2022 11:09 WIB, 2022
Lummay Villa and Resort, destinasi wisata berkonsep Eropa berpadu budaya Bali
27 December 2022 18:20 WIB, 2022
Ancol targetkan 430 ribu pengunjung pada libur Natal dan Tahun Baru 2023
25 December 2022 14:05 WIB, 2022
Menparekraf Sandiaga Uno luncurkan Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional
17 December 2022 10:46 WIB, 2022