Bandarlampung (ANTARA) - Tokoh Adat Lampung menyebutkan bahwa karnaval Tari Ngigel yang digelar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung pada Minggu (3/8) tidak memperlihatkan adanya unsur pelecehan tradisi.
"Apa yang disangkakan sebagian orang bahwa ada pelecehan adat dalam acara itu tidak benar. Gelaran Karnaval Budaya Tari Ngigel telah melalui koordinasi dengan unsur adat yang ada di Kota Bandarlampung," kata Penyimbang Masyarakat Adat Lampung, Yakub, di Bandarlampung, Selasa.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bagian dari gelar budaya yang tujuannya untuk melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya Lampung kepada masyarakat luas.
"Kami dari masyarakat Kota Bandarlampung, termasuk warga Balau serta seluruh tiyuh dan pekon di 20 kecamatan, menyatakan bahwa puncak acara HUT ke-343 Kota Bandarlampung, yakni Karnaval Budaya Tari Ngigel, bukanlah prosesi adat," kata dia.
Ia menambahkan, seluruh elemen adat telah dilibatkan sejak awal. Bahkan para penyimbang dan perwatin se-Kota Bandarlampung turut memberikan dukungan penuh terhadap program pelestarian budaya yang diinisiasi Wali Kota Eva Dwiana.
"Kegiatan ini justru menjadi sarana edukasi bagi masyarakat yang heterogen di Bandarlampung, agar lebih mengenal adat dan budaya Lampung secara inklusif," katanya.
Yakub pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi-informasi keliru yang beredar dan tidak bertanggung jawab.
"Sudah seharusnya kita bersatu menjaga dan melestarikan adat istiadat kita. Karnaval ini bukan ajang merusak budaya, melainkan bentuk cinta dan pelestarian budaya Lampung," katanya.
Baca juga: Pemkot Bandarlampung peroleh rekor MURI atas sekubal terbesar di dunia
Baca juga: Jelang HUT RI, Pemkot Bandarlampung imbau warga pasang bendera Merah Putih
Baca juga: Pemkot Bandarlampung perkuat layanan kesehatan di RS A Dadi Tjokrodipo
