Indonesia incar pasar t-shirt Jepang
Kamis, 23 Juli 2015 7:39 WIB
Dokumentasi beberapa pekerja meengukur bahan yang akan dibuat seragam militer untuk diekspor di perusahaan garmen PT Sritex, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (4/2). (FOTO ANTARA/Saptono)
Jakarta (ANTARA Lampung) - Indonesia mengincar peluang pasar untuk produk "T-shirt, singlets dan other vest" yang mulai terbuka sehubungan dengan terpilihnya Tokyo sebagai tuan rumah penyelenggara Olimpiade Musim Panas tahun 2020.
"Kita harus memanfaatkan momentum itu. Produk apparel cukup punya peluang. Ke depan, produk apparel yang harus mulai menyasar pasar Jepang adalah T-shirts, singlets, and other vests," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, dalam siaran pers yang diterima, Rabu.
Pasar impor T-shirts, singlets, and other vests di Jepang pada 2014 memiliki nilai sebesar 2,2 miliar dolar Amerika Serikat. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Jepang untuk produk tersebut pada periode Januari-April 2015 baru tercatat sebesar 24,89 juta dolar AS, yang mengalami peningkatan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 17,46 juta dolar AS.
"Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa posisi Indonesia cukup kuat di Jepang dan peluang untuk meningkatkan nilai ekspor masih terbuka lebar," ujar Nus.
Selain itu, lanjut Nus, pihaknya juga tengah mempersiapkan masuknya produk-produk makanan dan minuman halal untuk masuk ke pasar Negeri Sakura tersebut.
Menurut data yang dilansir Brand Research Institute, sekitar 350 ribu wisatawan muslim berkunjung ke Jepang pada 2013. Dengan penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas 2020, diperkirakan jumlah wisatawan muslim ke Jepang akan meningkat dua kali lipat.
"Produsen makanan dan minuman halal Indonesia tidak boleh mengabaikan kesempatan ini," tambah Nus.
Saat ini, pasar produk makanan halal di Jepang yaitu produk meat and edible meat offal, of the poultry of heading 01.05 (fresh, chilled or frozen) dan produk fowl (Gallus domesticus) meat (prepared/preserved). Kedua jenis produk itu memiliki pasar impor sebesar 3,36 miliar dolar AS pada 2014.
Nilai impor Jepang untuk produk meat and edible meat offal sebesar 1,42 miliar dolar AS, sedangkan nilai ekspor untuk produk fowl (Gallus domesticus) meat adalah 1,94 miliar dolar AS.
Hingga kini, ekspor Indonesia untuk kedua produk tersebut belum mampu menembus pasar impor Jepang. Ekspor makanan ke Jepang diperkirakan akan terus tumbuh.
Berdasarkan informasi dari Kantor Perwakilan RI di Tokyo, saat ini, Jepang hanya mampu swasembada pangan sekitar 40 persen dari kebutuhan dalam negeri.
"Jepang sangat memerlukan lebih banyak impor produk makanan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri," ujar Nus.
"Kita harus memanfaatkan momentum itu. Produk apparel cukup punya peluang. Ke depan, produk apparel yang harus mulai menyasar pasar Jepang adalah T-shirts, singlets, and other vests," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, dalam siaran pers yang diterima, Rabu.
Pasar impor T-shirts, singlets, and other vests di Jepang pada 2014 memiliki nilai sebesar 2,2 miliar dolar Amerika Serikat. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Jepang untuk produk tersebut pada periode Januari-April 2015 baru tercatat sebesar 24,89 juta dolar AS, yang mengalami peningkatan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni sebesar 17,46 juta dolar AS.
"Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa posisi Indonesia cukup kuat di Jepang dan peluang untuk meningkatkan nilai ekspor masih terbuka lebar," ujar Nus.
Selain itu, lanjut Nus, pihaknya juga tengah mempersiapkan masuknya produk-produk makanan dan minuman halal untuk masuk ke pasar Negeri Sakura tersebut.
Menurut data yang dilansir Brand Research Institute, sekitar 350 ribu wisatawan muslim berkunjung ke Jepang pada 2013. Dengan penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas 2020, diperkirakan jumlah wisatawan muslim ke Jepang akan meningkat dua kali lipat.
"Produsen makanan dan minuman halal Indonesia tidak boleh mengabaikan kesempatan ini," tambah Nus.
Saat ini, pasar produk makanan halal di Jepang yaitu produk meat and edible meat offal, of the poultry of heading 01.05 (fresh, chilled or frozen) dan produk fowl (Gallus domesticus) meat (prepared/preserved). Kedua jenis produk itu memiliki pasar impor sebesar 3,36 miliar dolar AS pada 2014.
Nilai impor Jepang untuk produk meat and edible meat offal sebesar 1,42 miliar dolar AS, sedangkan nilai ekspor untuk produk fowl (Gallus domesticus) meat adalah 1,94 miliar dolar AS.
Hingga kini, ekspor Indonesia untuk kedua produk tersebut belum mampu menembus pasar impor Jepang. Ekspor makanan ke Jepang diperkirakan akan terus tumbuh.
Berdasarkan informasi dari Kantor Perwakilan RI di Tokyo, saat ini, Jepang hanya mampu swasembada pangan sekitar 40 persen dari kebutuhan dalam negeri.
"Jepang sangat memerlukan lebih banyak impor produk makanan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri," ujar Nus.
Pewarta : Vicki Febrianto
Editor : Samino Nugroho
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Direktur BEI tindaklanjuti rencana MSCI terkait "review" saham di Indonesia
28 January 2026 13:39 WIB
Wamentrans dukung produk program transmigrasi dari Lampung tembus pasar global
24 January 2026 22:56 WIB
BEI Lampung sebut 25.641 orang peroleh edukasi melalui Sekolah Pasar Modal
02 December 2025 19:37 WIB
BEI Lampung: Transaksi pasar modal tercatat Rp15,5 triliun hingga Agustus
02 December 2025 16:53 WIB
Terpopuler - Riil
Lihat Juga
Waykanan-Mesuji ditawarkan sebagai tempat industri gula kepada Taiwan
15 January 2019 18:00 WIB, 2019
Penerbangan Internasional Perdana Melalui Bandara Raden Inten II Pada Februari
11 January 2019 18:18 WIB, 2019