Demokrat Belum Otomatis Jadi Oposisi
Selasa, 20 Mei 2014 14:10 WIB
Lambang Patai Demokrat. (Google,co.id).
Jakarta (Antara) - Pengamat politik dari SIGMA Said Salahudin mengatakan apabila Partai Demokrat tidak mengikuti Pilpres, maka bukan berarti otomatis akan menjadi oposisi sebab bisa saja pasangan calon terpilih nantinya mengajak partai berlambang mercy biru itu masuk ke pemerintahan.
"Tidak pasti begitu. Sebab, bisa saja pasangan calon terpilih nantinya justru mengajak Demokrat masuk kedalam pemerintahan, karena bagaimanapun Demokrat punya modal 61 kursi di parlemen," ujar Said Salahudin di Jakarta, Selasa.
Menurut Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) tersebut, Partai Demokrat sudah tidak mungkin lagi ikut ambil bagian dalam Pilpres 2014, kecuali mereka bergabung dengan poros Gerindra.
"Itu satu-satunya pilihan bagi Demokrat jika ingin ikut menjadi parpol pengusung capres dan cawapres. Peluang itu pun hanya bisa dimanfaatkan oleh Demokrat jika dukungan resmi mereka disampaikan sebelum pasangan Prabowo-Hatta didaftarkan ke KPU," ujar dia.
Ia mengatakan lebih tidak mungkin lagi bagi Demokrat untuk menjadi partai pengusung Jokowi-JK, sebab pasangan itu sudah didaftarkan secara resmi kepada KPU.
"Kalau pasangan capres-cawapres sudah memenuhi syarat Presidential Treshold (PT) pada saat didaftarkan kepada KPU, maka KPU tidak bisa memberikan kesempatan kepada pasangan itu untuk menyusulkan dukungan tambahan dari parpol yang lain," kata dia.
Kalau SBY, lanjutnya, tidak mau ikut mengusung Prabowo-Hatta, maka Demokrat hanya akan menjadi penonton Pilpres.
Ini adalah sejarah baru yang dicetak oleh Demokrat. Sepanjang sejarah penyelenggaraan Pilpres langsung, belum pernah ada parpol pemilik kursi DPR yang absen mengusung pasangan capres-cawapres.
"Kalau sampai Demokrat tidak ikut Pilpres, saya kira ini menjadi kegagalan strategi politik SBY. Dia terlalu banyak pertimbangan dalam proses membangun koalisi. Akhirnya malah ketinggalan kereta," kata dia.
"Tidak pasti begitu. Sebab, bisa saja pasangan calon terpilih nantinya justru mengajak Demokrat masuk kedalam pemerintahan, karena bagaimanapun Demokrat punya modal 61 kursi di parlemen," ujar Said Salahudin di Jakarta, Selasa.
Menurut Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) tersebut, Partai Demokrat sudah tidak mungkin lagi ikut ambil bagian dalam Pilpres 2014, kecuali mereka bergabung dengan poros Gerindra.
"Itu satu-satunya pilihan bagi Demokrat jika ingin ikut menjadi parpol pengusung capres dan cawapres. Peluang itu pun hanya bisa dimanfaatkan oleh Demokrat jika dukungan resmi mereka disampaikan sebelum pasangan Prabowo-Hatta didaftarkan ke KPU," ujar dia.
Ia mengatakan lebih tidak mungkin lagi bagi Demokrat untuk menjadi partai pengusung Jokowi-JK, sebab pasangan itu sudah didaftarkan secara resmi kepada KPU.
"Kalau pasangan capres-cawapres sudah memenuhi syarat Presidential Treshold (PT) pada saat didaftarkan kepada KPU, maka KPU tidak bisa memberikan kesempatan kepada pasangan itu untuk menyusulkan dukungan tambahan dari parpol yang lain," kata dia.
Kalau SBY, lanjutnya, tidak mau ikut mengusung Prabowo-Hatta, maka Demokrat hanya akan menjadi penonton Pilpres.
Ini adalah sejarah baru yang dicetak oleh Demokrat. Sepanjang sejarah penyelenggaraan Pilpres langsung, belum pernah ada parpol pemilik kursi DPR yang absen mengusung pasangan capres-cawapres.
"Kalau sampai Demokrat tidak ikut Pilpres, saya kira ini menjadi kegagalan strategi politik SBY. Dia terlalu banyak pertimbangan dalam proses membangun koalisi. Akhirnya malah ketinggalan kereta," kata dia.
Pewarta : Azis Kurmala
Editor : M. Tohamaksun
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Politik Dan Hukum
Lihat Juga
Kejati Lampung eksekusi uang pengganti Rp7,8 miliar kasus Tipikor Tol Terpeka
16 April 2026 15:52 WIB
Banyak bukti tak relevan, CMNP yakin menang gugatan Rp119 triliun lawan Hary Tanoe
15 April 2026 11:40 WIB