Petambak Bratasena Tidak Lagi Beraktivitas
Selasa, 19 Maret 2013 7:27 WIB
Sejumlah petambak dan karyawan yang ditemui di areal pertambakan Bratasena tampak mengangkut barang-barangnya guna mengamankan diri dari amukan kelompok petambak yang berbeda (FOTO ANTARA LAMPUNG/Eni Muslihah)
Bandarlampung (Antara Lampung) - Sebagian petambak PT Central Pertiwi Bahari (CPB) Bratasena di Desa Dente Teladas, Kabupaten Tulangbawang, Lampung, tidak lagi beraktivitas karena sudah empat bulan tidak lagi menerima natura dan pinjaman biaya hidup dari perusahaan.
"Sekitar dalam satu siklus, kami tidak lagi melakukan aktivitas bertambak sehingga kami tidak mendapatkan biaya hidup dari perusahaan," kata salah satu petambak Sutriman (52) di Tulangbawang.
Menurutnya, pencabutan fasilitas tersebut memaksa dirinya untuk melakukan pekerjaan perkebunan seperti mencabut singkong.
"Biasanya pekerjaannya ringan, sekarang pekerjaannya berat mencabut singkong, mencangkul di bawah terik matahari," katanya.
Dalam pekerjaan sementeranya itu, dia mendapat penghasilan Rp30 ribu per hari.
"Saya pusing, mana sekolah anak-anak membutuhkan biaya lagi, tidak tahu ini, sampai kapan perusahaan akan seperti ini," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Komunikasi PT CPB Tarpin A Nasri membenarkan bahwa perusahaan tidak memberikan PBH dan Natura.
"Benar, untuk sementara tidak diberikan dulu sampai batas waktu yang tidak ditentukan, karena CPB sudah tidak berbudidaya," kata dia.
Menurutnya, perusahaan tidak melakukan aktivitas budidaya karena tidak ada kepastian investasi dan jaminan keamanan perusahaan.
"Agar perusahaan tetap beroperasi, PT CPB mengambil hasil panen udang petambak dari perusahaan lain seperti PT Wahyu Mandiri di Sumatera Selayan, namun demikian pasokan udang masih mengalami kekurangan 100 ton per hari," ujarnya.
Karena itu, perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja di Food Processing Division (FPD) yang berasal dari tenaga outsourcing dan petambak.
PT CPB memiliki luas areal 8.000 hektare, luas tersebut termasuk infrastruktur dan petambakan, terdiri dari empat blok (Blok 2, Blok 1, blok 71/Tanjung Krosok, dan Blok 81), terbagi dalam dua kampung (Bratasena Adiwarna, dan Bratasena Mandiri).
Total petambak plasma awalnya 3.333 orang namun setelah dikurangi yang ambil Tali Asih 994 orang maka jumlah petambak perusahaan tersebut kini berkurang menjadi 2.339 orang, sedangkn jumlah karyawan tetap 1.900 orang dan ditambah karyawan outsourcing 5.915 orang.
"Program budidaya parameter baru yang sudah dilakukan uji coba sebelumnya dan hasilnya pun bagus sebagai upaya mengurangi virus, mungkin petambak dan perusahaan dapat diselamatkan," kata Tarpin.
"Sekitar dalam satu siklus, kami tidak lagi melakukan aktivitas bertambak sehingga kami tidak mendapatkan biaya hidup dari perusahaan," kata salah satu petambak Sutriman (52) di Tulangbawang.
Menurutnya, pencabutan fasilitas tersebut memaksa dirinya untuk melakukan pekerjaan perkebunan seperti mencabut singkong.
"Biasanya pekerjaannya ringan, sekarang pekerjaannya berat mencabut singkong, mencangkul di bawah terik matahari," katanya.
Dalam pekerjaan sementeranya itu, dia mendapat penghasilan Rp30 ribu per hari.
"Saya pusing, mana sekolah anak-anak membutuhkan biaya lagi, tidak tahu ini, sampai kapan perusahaan akan seperti ini," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Komunikasi PT CPB Tarpin A Nasri membenarkan bahwa perusahaan tidak memberikan PBH dan Natura.
"Benar, untuk sementara tidak diberikan dulu sampai batas waktu yang tidak ditentukan, karena CPB sudah tidak berbudidaya," kata dia.
Menurutnya, perusahaan tidak melakukan aktivitas budidaya karena tidak ada kepastian investasi dan jaminan keamanan perusahaan.
"Agar perusahaan tetap beroperasi, PT CPB mengambil hasil panen udang petambak dari perusahaan lain seperti PT Wahyu Mandiri di Sumatera Selayan, namun demikian pasokan udang masih mengalami kekurangan 100 ton per hari," ujarnya.
Karena itu, perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja di Food Processing Division (FPD) yang berasal dari tenaga outsourcing dan petambak.
PT CPB memiliki luas areal 8.000 hektare, luas tersebut termasuk infrastruktur dan petambakan, terdiri dari empat blok (Blok 2, Blok 1, blok 71/Tanjung Krosok, dan Blok 81), terbagi dalam dua kampung (Bratasena Adiwarna, dan Bratasena Mandiri).
Total petambak plasma awalnya 3.333 orang namun setelah dikurangi yang ambil Tali Asih 994 orang maka jumlah petambak perusahaan tersebut kini berkurang menjadi 2.339 orang, sedangkn jumlah karyawan tetap 1.900 orang dan ditambah karyawan outsourcing 5.915 orang.
"Program budidaya parameter baru yang sudah dilakukan uji coba sebelumnya dan hasilnya pun bagus sebagai upaya mengurangi virus, mungkin petambak dan perusahaan dapat diselamatkan," kata Tarpin.
Pewarta : Eni Muslihah
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi selidiki kasus pembakaran mobil oleh massa buntut aksi demo anarkis di Pati
13 August 2025 20:35 WIB
Jenazah korban rusuh Sorong asal Bukittinggi Sumatera Barat dimakamkan
01 February 2022 5:24 WIB, 2022
Demonstran di Tunisia nyanyikan 'Arab Spring', rusuh kembali berlanjut
20 January 2021 10:30 WIB, 2021
Terpopuler - Riil
Lihat Juga
Waykanan-Mesuji ditawarkan sebagai tempat industri gula kepada Taiwan
15 January 2019 18:00 WIB, 2019
Penerbangan Internasional Perdana Melalui Bandara Raden Inten II Pada Februari
11 January 2019 18:18 WIB, 2019