Penual Mainan di Bambu Kuning Panen
Kamis, 1 September 2011 15:46 WIB
Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Penjualan mainan anak di Kota Bandarlampung meningkat tajam selama liburan lebaran hari raya Idul Fitri 1432 Hijriyah.
"Penjualan mainan meningkat tajam dan kebanyakan pembeli anak usia di bawah sepuluh tahun, seperti tembakan, robotan dan mobilan," kata Tarsim (34) penjual mainan anak di Pasar Bambu Kuning, Bandarlampung.
Ia mengatakan, peningkatan penjualan ini sering terjadi tiap tahunnya, khususnya di hari raya dengan rata rata peningkatan hingga 300 persen atau tiga kali lipat.
Menurutnya, sejumlah anak memanfaatkan uang yang diberikan orang terdekatnya pada saat Lebaran, untuk membeli mainan.
Dia menjelaskan bagi anak-anak yang tinggal di dekat pasar tersebut membeli sendiri, sementara ada dibelikan oleh orang tuanya yang kebetulan sedang berbelanja kebutuhan pokok dipasar tersebut.
"Usaha ini ini menjadi tradisi dan keuntungan tersendiri karena sangat menarik minat anak-anak," katanya.
Selain itu, keuntungan yang didapat tiga sampai lima kali lipat dari hari biasa, karena setiap anak bisa membeli dua sampai tiga jenis mainan.
Tarsim melanjutkan, untuk hari ini keuntungan yang didapat sudah mencapai Rp800.000 per hari, biasanya hanya Rp300.000 per hari.
"Sekarang ini kebanyakan dari mereka membeli mainan mobilan, seperti tamiya," katanya.
Tarsim yang sudah lama berdagang mainan di daerah itu mengaku, keuntungan ini merupakan berkah di hari raya Idul Fitri setiap tahun.
Pedagang setempat lainnya, Rahmadi,mengatakan, keuntungan menjual mainan anak memang cukup banyak saat ini, dan pedagang berharap keuntungan kondisi ini terus berlanjut.
"Keuntungan seperti ini jika bisa terus datang, karena berdagang mainan pendapatannya sulit diprediksi," katanya.
Ia mengatakan, untuk harga mainan mulai dari Rp20.000-Rp150.000 per mainan namun anak-anak paling banyak membeli dibawah Rp50.000 per unit.
Kemudian, salah satu anak Rizki mengatakan, uang yang didapat untuk membeli mainan diperoleh dari keluarga dekat saat Lebaran ini.
"Dari hasil keliling kampung, uangnya sebagian untuk ditabung dan yang lain dipakai membeli mainan," katanya.
Selain itu, sebagian uang tersebut juga untuk membeli buku dan keperluan sekolah lainnya.
"Kalau tidak Lebaran jarang yang ngasih duit," katanya.
(Ant)
"Penjualan mainan meningkat tajam dan kebanyakan pembeli anak usia di bawah sepuluh tahun, seperti tembakan, robotan dan mobilan," kata Tarsim (34) penjual mainan anak di Pasar Bambu Kuning, Bandarlampung.
Ia mengatakan, peningkatan penjualan ini sering terjadi tiap tahunnya, khususnya di hari raya dengan rata rata peningkatan hingga 300 persen atau tiga kali lipat.
Menurutnya, sejumlah anak memanfaatkan uang yang diberikan orang terdekatnya pada saat Lebaran, untuk membeli mainan.
Dia menjelaskan bagi anak-anak yang tinggal di dekat pasar tersebut membeli sendiri, sementara ada dibelikan oleh orang tuanya yang kebetulan sedang berbelanja kebutuhan pokok dipasar tersebut.
"Usaha ini ini menjadi tradisi dan keuntungan tersendiri karena sangat menarik minat anak-anak," katanya.
Selain itu, keuntungan yang didapat tiga sampai lima kali lipat dari hari biasa, karena setiap anak bisa membeli dua sampai tiga jenis mainan.
Tarsim melanjutkan, untuk hari ini keuntungan yang didapat sudah mencapai Rp800.000 per hari, biasanya hanya Rp300.000 per hari.
"Sekarang ini kebanyakan dari mereka membeli mainan mobilan, seperti tamiya," katanya.
Tarsim yang sudah lama berdagang mainan di daerah itu mengaku, keuntungan ini merupakan berkah di hari raya Idul Fitri setiap tahun.
Pedagang setempat lainnya, Rahmadi,mengatakan, keuntungan menjual mainan anak memang cukup banyak saat ini, dan pedagang berharap keuntungan kondisi ini terus berlanjut.
"Keuntungan seperti ini jika bisa terus datang, karena berdagang mainan pendapatannya sulit diprediksi," katanya.
Ia mengatakan, untuk harga mainan mulai dari Rp20.000-Rp150.000 per mainan namun anak-anak paling banyak membeli dibawah Rp50.000 per unit.
Kemudian, salah satu anak Rizki mengatakan, uang yang didapat untuk membeli mainan diperoleh dari keluarga dekat saat Lebaran ini.
"Dari hasil keliling kampung, uangnya sebagian untuk ditabung dan yang lain dipakai membeli mainan," katanya.
Selain itu, sebagian uang tersebut juga untuk membeli buku dan keperluan sekolah lainnya.
"Kalau tidak Lebaran jarang yang ngasih duit," katanya.
(Ant)
Pewarta :
Editor : Agusta Hidayatullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Survei ANTARA: Kepuasan pelanggan KAI saat arus balik Lebaran 2026 91,4 persen
13 April 2026 13:41 WIB
Dompet Dhuafa dan Supermal Karawaci gratiskan kebutuhan lebaran 50 anak yatim
09 April 2026 7:42 WIB
Disparekraf catat 70 ribu wisatawan kunjungi wisata religi di Lampung saat libur Lebaran
04 April 2026 14:54 WIB
Bandara Radin Inten catat layani 83.977 penumpang selama periode Lebaran 2026
01 April 2026 12:13 WIB
ASDP Bakauheni tercatat layani 1,1 juta penumpang selama angkutan Lebaran 2026
29 March 2026 20:06 WIB
Terpopuler - Riil
Lihat Juga
Waykanan-Mesuji ditawarkan sebagai tempat industri gula kepada Taiwan
15 January 2019 18:00 WIB, 2019
Penerbangan Internasional Perdana Melalui Bandara Raden Inten II Pada Februari
11 January 2019 18:18 WIB, 2019