
Otak Trump dibajak Amigdala

Dalam situasi krisis, keputusan politik sering kali justru digerakkan oleh emosi terlebih dahulu, lalu dirasionalisasi setelahnya.
Bandarlampung (ANTARA) - Sudah tujuh belas hari Amerika-Israel menyerang Iran. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Donald Trump bahkan menyatakan tidak akan melakukan negosiasi sampai Iran menyerah tanpa syarat.
Sebenarnya apa yang melatarbelakangi Amerika Serikat-Israel menyerang Iran? Dalam teori demokrasi modern, keputusan politik diasumsikan lahir dari rasionalitas.
Pemimpin negara dipandang sebagai aktor yang mempertimbangkan secara matang berbagai variabel sebelum mengambil keputusan. Kalkulasi biaya dan manfaat, risiko geopolitik, legitimasi hukum internasional, hingga dampak ekonomi global.
Namun, perkembangan ilmu neuropolitik menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak selalu sepenuhnya benar. Dalam situasi krisis, keputusan politik sering kali justru digerakkan oleh emosi terlebih dahulu, lalu dirasionalisasi setelahnya.
Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk meningkatkan konfrontasi militer terhadap Iran dapat dibaca melalui perspektif ini. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, alasan yang dikemukakan pemerintah Amerika Serikat mengenai langkah militer tersebut tampak berlapis dan berubah-ubah: mulai dari pencegahan ancaman keamanan, perlindungan terhadap sekutu regional, hingga menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
Bagi publik, alasan-alasan tersebut terdengar logis. Namun neuropolitik mengingatkan bahwa dalam banyak kasus, rasionalitas dalam politik sering kali datang belakangan—sebagai pembenaran atas keputusan yang sebenarnya dipicu oleh emosi.
Politik dan Otak Emosional
Dalam ilmu saraf, terdapat struktur kecil di otak yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku manusia, yaitu amigdala. Bagian otak ini berfungsi memproses emosi dasar seperti ketakutan, kemarahan, dan persepsi ancaman.
Ketika individu menghadapi situasi yang dianggap berbahaya, amigdala dapat memicu respons cepat yang dikenal sebagai fight or flight—melawan atau menghindar.
Respons tersebut bekerja jauh lebih cepat dibandingkan proses rasional di korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab atas pertimbangan logis dan pengambilan keputusan rasional.
Dalam konteks politik, berbagai penelitian neuropolitik menunjukkan bahwa isu yang memicu emosi—seperti ancaman keamanan, identitas nasional, atau konflik militer—dapat meningkatkan aktivitas amigdala secara signifikan. Aktivasi ini memengaruhi bagaimana individu menilai informasi politik dan membuat keputusan.
Artinya, bahkan pemimpin negara sekalipun tidak sepenuhnya kebal dari mekanisme biologis tersebut. Mereka tetaplah manusia dengan sistem saraf yang sama seperti warga biasa.
Oleh Ali Sahab
COPYRIGHT © ANTARA 2026
