Logo Header Antaranews Lampung

Otak Trump dibajak Amigdala

Selasa, 17 Maret 2026 10:10 WIB
Image Print
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri.
Dalam situasi krisis, keputusan politik sering kali justru digerakkan oleh emosi terlebih dahulu, lalu dirasionalisasi setelahnya.

Bandarlampung (ANTARA) - Sudah tujuh belas hari Amerika-Israel menyerang Iran. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Donald Trump bahkan menyatakan tidak akan melakukan negosiasi sampai Iran menyerah tanpa syarat.  

Sebenarnya apa yang melatarbelakangi Amerika Serikat-Israel menyerang Iran? Dalam teori demokrasi modern, keputusan politik diasumsikan lahir dari rasionalitas.

Pemimpin negara dipandang sebagai aktor yang mempertimbangkan secara matang berbagai variabel sebelum mengambil keputusan. Kalkulasi biaya dan manfaat, risiko geopolitik, legitimasi hukum internasional, hingga dampak ekonomi global. 

Namun, perkembangan ilmu neuropolitik menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak selalu sepenuhnya benar. Dalam situasi krisis, keputusan politik sering kali justru digerakkan oleh emosi terlebih dahulu, lalu dirasionalisasi setelahnya.

Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk meningkatkan konfrontasi militer terhadap Iran dapat dibaca melalui perspektif ini. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, alasan yang dikemukakan pemerintah Amerika Serikat mengenai langkah militer tersebut tampak berlapis dan berubah-ubah: mulai dari pencegahan ancaman keamanan, perlindungan terhadap sekutu regional, hingga menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.

Bagi publik, alasan-alasan tersebut terdengar logis. Namun neuropolitik mengingatkan bahwa dalam banyak kasus, rasionalitas dalam politik sering kali datang belakangan—sebagai pembenaran atas keputusan yang sebenarnya dipicu oleh emosi.

Politik dan Otak Emosional

Dalam ilmu saraf, terdapat struktur kecil di otak yang memiliki pengaruh besar terhadap perilaku manusia, yaitu amigdala. Bagian otak ini berfungsi memproses emosi dasar seperti ketakutan, kemarahan, dan persepsi ancaman. 

Ketika individu menghadapi situasi yang dianggap berbahaya, amigdala dapat memicu respons cepat yang dikenal sebagai fight or flight—melawan atau menghindar.

Respons tersebut bekerja jauh lebih cepat dibandingkan proses rasional di korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab atas pertimbangan logis dan pengambilan keputusan rasional.

Dalam konteks politik, berbagai penelitian neuropolitik menunjukkan bahwa isu yang memicu emosi—seperti ancaman keamanan, identitas nasional, atau konflik militer—dapat meningkatkan aktivitas amigdala secara signifikan. Aktivasi ini memengaruhi bagaimana individu menilai informasi politik dan membuat keputusan.

Artinya, bahkan pemimpin negara sekalipun tidak sepenuhnya kebal dari mekanisme biologis tersebut. Mereka tetaplah manusia dengan sistem saraf yang sama seperti warga biasa.

 



Rasionalisasi Setelah Keputusan

Salah satu konsep penting dalam neuropolitik adalah post-hoc rationalization. Konsep ini menjelaskan bahwa manusia sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi terlebih dahulu, kemudian mencari alasan rasional untuk membenarkan keputusan tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini sangat umum. Seseorang membeli barang karena dorongan emosional, lalu menjelaskan keputusan itu dengan alasan yang terdengar rasional. Dalam politik, mekanisme yang sama dapat terjadi dalam skala yang jauh lebih besar.

Ketika seorang pemimpin merasakan ancaman terhadap keamanan negara atau reputasi politiknya, respons emosional dapat mendorong keputusan cepat, termasuk penggunaan kekuatan militer. Setelah keputusan itu diambil, barulah narasi strategis dibangun untuk menjelaskan dan melegitimasi tindakan tersebut kepada publik.

Jika dilihat dari dinamika konflik antara Amerika Serikat dan Iran, pola ini tampak tidak sepenuhnya asing. Berbagai pejabat memberikan penjelasan yang berbeda mengenai latar belakang langkah militer yang diambil. Narasi resmi pemerintah pun berkembang seiring waktu.

Perbedaan alasan tersebut dapat dibaca sebagai proses rasionalisasi: upaya menjelaskan keputusan yang mungkin telah lebih dahulu dipicu oleh persepsi ancaman emosional.

Dalam teori demokrasi klasik, keputusan perang seharusnya merupakan pilihan terakhir setelah melalui proses deliberasi yang panjang. Parlemen, lembaga keamanan, serta komunitas internasional menjadi bagian dari mekanisme penyeimbang agar keputusan militer tidak diambil secara impulsif.

Namun neuropolitik menunjukkan bahwa dalam situasi krisis, dinamika emosional dapat mempercepat proses pengambilan keputusan. Ketika amigdala menjadi dominan, respons yang muncul biasanya memiliki karakteristik tertentu: reaksi cepat terhadap ancaman, preferensi terhadap tindakan keras, serta kecenderungan mengabaikan proses deliberatif yang panjang.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu pemimpin atau satu negara. Sejarah politik dunia menunjukkan bahwa banyak konflik besar berawal dari persepsi ancaman yang kuat, bukan semata-mata dari kalkulasi rasional yang dingin.

Dalam konteks ini, keputusan politik dapat berubah menjadi respons emosional yang kemudian dibungkus dengan bahasa strategi dan keamanan nasional.

Pelajaran bagi Demokrasi

Neuropolitik memberikan perspektif penting bagi studi politik kontemporer. Ia mengingatkan bahwa politik tidak hanya digerakkan oleh institusi, ideologi, atau kepentingan ekonomi, tetapi juga oleh dinamika biologis di dalam otak manusia.

Pemimpin negara mungkin berbicara dalam bahasa strategi dan rasionalitas. Namun di balik itu, proses neurologis yang lebih mendasar tetap bekerja—termasuk mekanisme emosional yang berasal dari amigdala.

Bagi demokrasi, kesadaran ini penting. Ia mengingatkan bahwa sistem politik perlu memiliki mekanisme pengawasan dan deliberasi yang kuat agar keputusan besar—terutama yang menyangkut perang dan perdamaian—tidak sepenuhnya ditentukan oleh reaksi emosional individu.

Sebab jika emosi lebih dulu memimpin dan rasionalitas hanya datang kemudian sebagai pembenaran, maka politik berisiko berubah dari arena pertimbangan rasional menjadi arena respons impulsif.

Dalam situasi seperti itu, arah sejarah dunia mungkin tidak hanya ditentukan oleh strategi negara, tetapi juga oleh bagaimana otak para pemimpinnya bekerja. Dan ketika amigdala mengambil alih, demokrasi bisa saja berjalan di bawah bayang-bayang emosi.

 

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik, FISIP Universitas Airlangga dan Mahasiswa S3 Ilmu Sosial



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026