
BPBD Lampung terus memperkuat strategi pengurangan risiko prabencana

Bandarlampung (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung terus memperkuat pelaksanaan strategi pengurangan risiko atas terjadinya bencana pada masa prabencana.
"Untuk strategi pengurangan risiko terus kita perkuat, sebab paradigma penanggulangan bencana sekarang sudah bergeser dari fase darurat ke fase pencegahan atau pengurangan risiko. Jadi kerja-kerja penanggulangan bencana justru banyak di pengurangan risiko pada prabencana," ujar Analis Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung Wahyu Hidayat di Bandarlampung, Kamis.
Dengan penerapan strategi pengurangan risiko pada prabencana yang efektif, kata dia, akan mempermudah dalam menghadapi fase tanggap darurat.
"BPBD punya strategi pengurangan risiko bencana. Jadi pertama, perencanaan penyelenggaraan penanggulangan bencana melalui penyiapan dokumen yang dimulai dari dokumen risiko bencana, rencana penanggulangan bencana, rencana penanganan kedaruratan bencana, dan rencana kontingensi. Kemudian kerja cepat dengan menyentuh komunitas di zona rawan bencana," katanya.
Selain itu, dilakukan pula penerapan konsep desa tangguh bencana, konsep keluarga tangguh bencana. Kemudian juga menggalang aksi kolaboratif dengan melibatkan dunia usaha, kampus, NGO, dan media massa, untuk memperkuat upaya pengurangan risiko bencana.
"Yang berikutnya juga kita punya strategi komunikasi, misalnya kita terus menyampaikan pengurangan risiko bencana itu melalui banyak media, seperti media massa dan media sosial, serta sosialisasi secara langsung," ucap dia.
Menurut dia, pihaknya juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait penguatan pemahaman akan peringatan dini.
"BMKG dengan BPBD itu saling terkait, jadi kalau BMKG mengeluarkan informasi, pada detik yang sama kita tahu. Dan masyarakat pun harus memahami akan peringatan bencana ataupun cuaca salah satunya melalui informasi yang disebarkan oleh BMKG sebelum melakukan aktivitas," katanya.
Menurut dia, sejak 1 Januari 2026, tercatat 40 kejadian angin kencang yang termasuk jenis bencana hidrometeorologi yang terjadi di berbagai daerah dan dapat diantisipasi risikonya, salah satunya dengan menghindari bepergian dan berada di dekat pohon yang rawan tumbang atau bangunan yang kurang kokoh.
"Untuk jenis bencana hidrometeorologi, bisa terjadi di mana saja, asalkan syarat pembentukannya ada. Angin kencang itu kalau semua komponen pendukungnya ada, maka dapat terjadi. Sehingga langkah mitigasi atau pengurangan risiko ini penting untuk menghadapi kejadian bencana," ujar dia.
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
