
DJBC catat penerimaan kepabeanan dan cukai Lampung Rp1,76 triliun di triwulan III

Penerimaan kepabeanan dan cukai hingga 30 September 2025 sebesar Rp1,76 triliun atau 208,65 persen dari target Rp842,22 miliar
Bandarlampung (ANTARA) - Kantor Wilayah Direktorat Bea dan Cukai (DJBC) Sumatera Bagian Barat menyatakan realisasi penerimaan kepabeanan serta cukai di Provinsi Lampung mencapai Rp1,76 triliun pada triwulan III 2025.
"Penerimaan kepabeanan dan cukai hingga 30 September 2025 sebesar Rp1,76 triliun atau 208,65 persen dari target Rp842,22 miliar. Ini pun mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 171,94 persen," ujar Kepala Bagian Umum Kantor Wilayah Direktorat Bea dan Cukai (DJBC) Sumatera Bagian Barat Wahyudi Arianto di Bandarlampung, Sabtu.
Ia mengatakan bila dijabarkan untuk realisasi bea masuk sebesar Rp227,11 miliar, dimana mengalami perlambatan sebesar 41,33 persen dari tahun per tahun yang disebabkan oleh perlambatan importasi gula serta beras.
"Kemudian untuk penerimaan cukai realisasinya sebesar Rp14,2 miliar, dimana mengalami peningkatan sebesar 43,03 persen dari tahun ke tahun. Besarnya denda administrasi cukai dari ultimum remedium dan adanya pemesanan pita cukai hasil tembakau (CK-1)," katanya.
Dia menjelaskan untuk realisasi bea keluar sebesar Rp1,51 triliun, dan tumbuh sebesar 507,11 persen dari tahun per tahun yang dipengaruhi oleh peningkatan harga minyak kelapa sawit di pasar global.
"Bea cukai selain menangani bea masuk dan bea keluar, juga menangani pajak dalam rangka impor (PDRI) dengan realisasi sebesar Rp1,26 triliun. Yang didapatkan dari PPh Pasal 22 Impor sebesar Rp303,35 miliar, PPN Impor Rp840,17 miliar," ucap dia.
Ia melanjutkan untuk lima devisa ekspor Lampung terbesar terdiri dari bahan minuman berupa kopi sebesar 155,09 persen, minyak mentah kelapa sawit dan minyak mentah inti kelapa sawit sebesar 41,21 persen, minyak goreng kelapa sawit sebesar 29,20 persen, dan batu bara -19,44 persen.
"Sedangkan top devisa impor Lampung dari tahun ke tahun berasal dari minyak bumi sebesar 16,04 persen, gula pasir -55,37 persen, kendaraan perang 100 persen akibat ada kegiatan latihan tempur bersama, sapi potong -14,89 persen, dan pupuk buatan tunggal hara makro primer 79,66 persen," tambahnya.
Baca juga: DJPb sebut kinerja APBN Regional Lampung triwulan III tumbuh positif
Baca juga: DJPb: Program MBG Lampung telah jangkau 86 persen penerima manfaat
Baca juga: Penyaluran bansos ke Lampung Rp21,87 triliun dalam lima tahun
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
