Bandarlampung (ANTARA) - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendukung investor asal Malaysia untuk segera memulai studi kelayakan pengelolaan sampah menjadi energi dan pembangkit listrik berbasis limbah pertanian di daerahnya.
"Hari ini kami menerima investor Malaysia yakni Cita Global, yang merupakan perusahaan energi terbarukan yang berminat mengembangkan proyek pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy dan pembangkit listrik berbasis limbah pertanian di Provinsi Lampung," ujar Rahmat Mirzani Djausal berdasarkan keterangannya di Bandarlampung, Rabu.
Ia pun menyambut baik rencana itu sebab pentingnya proyek tersebut untuk mendukung pengembangan energi bersih dan berkelanjutan di Provinsi Lampung.
"Studi kelayakan ini harapannya dapat segera dimulai, sehingga proyek ini dapat segera dilaksanakan," katanya.
Dia mengharapkan agar proyek tersebut tidak hanya membawa dampak positif bagi pengelolaan lingkungan, tetapi juga untuk meningkatkan perekonomian daerah melalui investasi berkelanjutan.
"Proyek ini sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Lampung untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan, sekaligus memberikan solusi terhadap pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan," ucap dia.
Dalam pertemuan tersebut investor asal Malaysia Cita Global telah menyampaikan komitmen untuk segera memulai studi kelayakan bersama dengan Pemerintah Provinsi Lampung. Perusahaan ini juga menyerahkan Letter of Intent (LoI) yang telah ditandatangani oleh dewan direksi di Kuala Lumpur sebagai bukti keseriusan dalam melanjutkan proyek ini.
Proyek tersebut direncanakan dapat melakukan pengolahan sampah dan limbah pertanian menjadi energi listrik dengan memanfaatkan teknologi waste to energy. Dan Cita Global juga berencana menggandeng mitra lokal untuk mengembangkan teknologi tersebut, yang diharapkan dapat mendukung pengembangan industri energi terbarukan di Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung.
Sebagai langkah awal Cita Global telah menyiapkan lahan seluas 8,1 hektare untuk pembangunan pembangkit listrik yang diperkirakan dapat menghasilkan 2 megawatt per hektare dengan menggunakan teknologi efisien yang lebih canggih dibandingkan standar sebelumnya.
Selain itu juga membuka peluang untuk menggandeng sektor industri sebagai pembeli listrik, karena ada tantangan yang dihadapi dalam kerja sama dengan PT PLN terkait pembelian listrik dari pembangkit berbasis sampah.
