DLH Mataram bentuk "sekolah lisan"

id bank sampah,mataram,DLH

Ilustrasi - Sejumlah anak dari komunitas LIngkungan Hidup Masyarakat Urban Metropolitan melakukan aksi pengumpulan sampah plastik di kawasan Bundaran HI, Jakarta. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama)

Mataram (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat segera membentuk "sekolah lisan" (lingkungan dengan sampah nihil) pada semua sekolah di kota itu sebagai salah satu cara mewujudkan pengurangan sampah.

"Sebelum pembentukan 'sekolah lisan', kami sudah memulainya dengan kegiatan anjang sana anjang sini bank sampah (asas basa) ke sejumlah sekolah di Mataram, baik tingkat SMA, SMP, maupun SD/sederajat," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Irwan Rahadi, di Mataram, Kamis.

Dia mengatakan "sekolah lisan" merupakan tindak lanjut dari pencanangan program "zero waste" Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat sehingga program itu disebut juga "zero waste school".

Dia menjelaskan "asas basa" untuk mengajak tentang keharusan sekolah bisa ikut berpartisipasi mengelola sampahnya secara mandiri, sehingga mampu mengurangi sampah dari sumbernya.

"Jadi 'asas basa' merupakan kunjungan untuk menginisiasi pengelolaan sampah secara mandiri melalui bank sampah sekolah," katanya.

Dia menjelaskan pengelolaan sampah di beberapa sekolah sudah cukup bagus, dengan melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik dari sumber, sehingga tinggal dioptimalkan.

Sekolah-sekolah yang belum melakukan hal itu, katanya, akan diarahkan serta dilakukan pembinaan tentang sistem pengelolaan bank sampah, termasuk manajemennya.

"Harapanya, apabila bank sampah di sekolah-sekolah sudah terbentuk maka kita optimistis target pengurangan sampah tahun ini sebesar lima persen bisa tercapai," katanya.

Dia mengatakan target lima persen pengurangan sampah itu sudah signifikan, karena di NTB hingga saat ini belum mampu mencapai angka dua persen. Untuk Mataram pengurangan sampah saat ini sekitar 2,5 persen.

Volume sampah di Mataram saat ini sekitar 400 ton per hari, sedangkan yang dapat tertangani dengan baik sekitar 75 persen. Sisanya ada yang dikelola bank sampah bersama kelompok kerja, dibakar dan lainnya

Ia mengatakan program "zero waste" artinya sampah diupayakan selesai di tempat, bukan berarti nol sampah karena itu sebagai mustahil.

Selama ada kehidupan, katanya, sampah pasti akan ada. Oleh karena itu roh "zero waste" adalah pengurangan sampah.

"Secara nasional, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat telah menargetkan melakukan pengurangan pada tahun 2025 sebesar 30 persen, karena itu melalui program 'zero waste', diharapkan grafik pengurangan sampah bisa terus meningkat," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar