
Doa Menag: Terjaga jati diri

...Nilai agama itulah yang sesungguhnya menjadi faktor yang mampu menjalin, merajut, dan merangkai kemajemukan kita, katanya...
Mina (ANTARA Lampung) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam musim haji kali ini mendoakan bangsa Indonesia tetap terjaga jati dirinya sebagai bangsa yang besar dan sangat memegang nilai-nilai agama.
"Nilai agama itulah yang sesungguhnya menjadi faktor yang mampu menjalin, merajut, dan merangkai kemajemukan kita," katanya saat ditemui seusai melakukan lontar jumroh di kawasan Jamarat, Mina, Arab Saudi, Rabu (14/9).
Bagi jutaan jamaah haji dari seluruh dunia, doa merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan saat bicara tentang haji, tak terkecuali Menag. Setiap kali menyapa jamaah haji di Arafah, Muzdalifah, Mina atau Masjidil Haram tak lupa ia selalu meminta jamaah haji untuk mendoakan bangsa dan negara.
"Karena kita tahu Indonesia adalah bangsa yang besar dan beragam. Keragaman ini bisa tetap dijaga, dipelihara dan bahkan dirawat dengan baik karena semua kita sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama," katanya.
Ia berharap anak-anak bangsa tidak hanya memegang teguh warisan para pendahulu itu namun juga mengembangkannya.
"Karenanya, kita berharap, di tengah era globalisasi dan arus informasi yang luar biasa derasnya di mana nilai masuk ke ruang private setiap warga bangsa, bangsa Indonesia tetap terjaga sebagai bangsa yang religius, tetap memegangi nilai agama sebagai faktor yang ikut menentukan bagaimana keragaman tetap terjaga," katanya.
Sebagaimana petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang berhaji dan jamaah kelompok terbang awal gelombang pertama, Menag mengambil nafar awal.
Ia menyelesaikan seluruh kewajibannya dalam rangkaian puncak ibadah haji Rabu pagi waktu Arab Saudi dengan melontar tiga jumroh.
Menag yang mengenakan jaket petugas dan kain sarung berwarna hitam berangkat dari Mina sekitar pukul 06.15 waktu Arab Saudi bersana ribuan jamaah Indonesia lainnya.
Suasana yang sangat penuh sesak membuat seluruh jamaah, sebagian dari Asia Tenggara, yang melalui Terowongan Moasiem berjalan sangat perlahan.
Selama di Mina, Menag menyapa jamaah di tenda-tenda permanen Mina dan mengunjungi Klinik Kesehatan Haji Indonesia yang penuh dengan jamaah lanjut usia yang kelelahan dan dehidrasi.
Namun, menurut Menag, jumlahnya masih dapat ditoleransi mengingat puncak haji memang rangkaian yang melelahkan, setelah wukuf atau berhenti di Arafah, jamaah harus bermalam di ruang terbuka Muzdalifah dan kemudian berjalan kaki pulang pergi lebih kurang tujuh kilo meter untuk melempar jumroh di Jamarat.
Di Mina, Menag juga tak lupa melihat langsung motor tua yang disebut astuti atau astrea tujuh tiga.
"Mungkin di Indonesia sudah tidak ada motor tersebut, tapi di sini sangat bermanfaat karena sangat strategis dalam membantu khususnya jamaah kita yang tersesat dan kelelahan sehingga bisa dibawa kembali oleh petugas kita yang stand by 24 jam di sini," katanya.
Ia berharap ada kebijakan Pemerintah Arab Saudi yang mengizinkan moda transportasi motor karena motor sangat efektif menembus kemacetan di Mina dan Arafah yang bisa sangat parah di mana mobil tak bergerak selama berjam-jam.
"Kalau melihat efektifitasnya itu sangat efektif karena sepeda motor punya keunggulan bisa masuk dalam area yang sempit dalam radius tertentu, tapi tentu ini harus dengan izin otoritas Saudi. Kalau itu ada persetujuan tentu akan kita tambah armada," ujarnya. (Ant)
Pewarta : Gusti NC Aryani
Editor:
Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
